Site icon Berita Kota Makassar

Film Melawan Takdir Gunakan Musik Tradisional

MAKASSAR, BKM– Mengangkat kisah seorang anak yang hidupnya di bawah garis kemiskinan, hingga akhirnya sukses sebagai Guru besar di Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, menjadi insipirasi Manajemen 7 Langit Pro untuk membuatkan sebuah film berjudul “Melawan Takdir”.
Film yang bergenre edukasi dan motivasi ini juga bisa dipastikan tidak akan melibatkan Tokoh utamanya yaitu Prof Hamdan Juhanis MA PhD dalam proses syuting.
Sutradara 7 Langit Pro Melawan Takdir, Quraisy Mathar mengatakan, dalam proses casting nantinya tidak ada melibatkan tokohnya langsung ataupun dalam bukunya. Tetapi mengambil gambaran hidup dari kisah dan cerita tetangga yang ada di Makassar dan Bone.
“Prof Hamdan sudah beberapa kali meminta untuk main dalam film, tapi kami tidak mau, karena ini bukan seperti film yang menggambarkan tokoh nasional seperti Kartini dan Soekarno Hatta. Bisa kami pastikan sangat berbeda,” ungkapnya saat di warkop RI AJI Makassar, Jalan Toddopuli VII, Kamis (4/5).
Bahkan ia menyakini setelah film tersebut dilaunchingpada akhir tahun 2017, penonton akan membludak dan akan terbawa suasana dalam film yang betul-betul sangat miris. “Pasar buku melawan takdir itu mencapai 300 ribu eksemplar, kita sudah bilang ke Prof Hamdan bahwa ketika filmnya sudah terbit, tidak ada lagi yang beli bukunya tetapi menonton langsung filmnya,” bebernya.
Ia menambahkan, ada keuntungan mengangkat film tersebut dibanding film tokoh nasional yang lainnya. “Film ini malah yang menarik, ketika di luar pulau Jawa belum mengenal sosok Prof Hamdan, tetapi setelah menonton mereka pasti menjadikan sebuah pembelajaran hidup,” tambahnya.
Bukan hanya itu, Film Melawan Takdir ini juga tidak memakai instrumental? dari alat musik yang menggunakan gitar dan piano, namun hanya menggunakan vokal dari alat musik tradisional.
“Casting kami mulai di bulan Agustus, termasuk produksi film selama 15 hari pada September. Casting mengambil pemain dari asal Makassar dan Bone,” tuturnya.
Sementara itu, Line Produser, Hadirawati Tebba
menuturkan, kebanyakan film ini juga mengambil cerita dari Kab Bone di mana tempat besarnya Prof Hamdan.
“70 persen menggambarkan di Bone, 30 persen Australia dan 10 persen Makassar, tiga lokasi inilah yang kami gunakan,” katanya.(ita)

Exit mobile version