DARI delapan orang saudara Dg Gani, hanya satu orang yang bersedia bergabung beternak lele. Namanya Dg Gassing. Kediamannya tak jauh dari rumah Dg Gani.
Di rumah Dg Gassing inilah awal budidaya ternak lele dimulai dengan membuat kolam yang terbuat dari terpal. Kolam tersebut masih ada hingga saat ini. Bahkan ada tambahan kolam yang sudah terbuat dari batubata.
Di tempat ini pula awal mula perakitan mesin pembuat pakan yang diciptakan Dg Gani bersama saudaranya Dg Gassing.
Ketika usai menjual ikan lele secara ‘paksa’, uang hasil penjualan sebesar Rp7 juta itu satu senpun tak dikeluarkan. Uang tersebut disimpan untuk membeli mesin pembuat pakan jenis pelet.
Bermodal Rp7 juta, Dg Gani kemudian menuju ke Makassar. Yang ditujunya sebuah toko penjual mesin pertanian dan perikanan di Jalan Sultan Alauddin.
Tapi, kenyataan yang ditemuinya tak sesuai perkiraan. Mesin pembuat pelet di toko ini dijual dengan harga Rp15,9 juta.
Tanpa menunggu lama, dengan perasaan gamang Dg Gani meluncur ke Jalan Nusantara. Rencananya hendak menemui teman dan ponakannya yang tugas di Pelindo. ”Saya mau pinjam uang untuk tambahan beli mesin pakan. Karean masih ada ikan yang bisa dipanen satu atau dua bulan ke depan. Hasil panen itu nantinya akan saya pakai untuk bayar utang,” terangnya.
Tuhan Maha Mengatur segalanya. Sebelum tiba di pintu pelabuhan, Dg Gani melihat ada bengkel yang biasa mengerjakan perbaikan mesin kapal saat didok. Di tempat ini ada juga mesin baru yang cocok untuk dijadikan pabrik pakan. Harganya Rp1,2 juta. Maka, dibelilah mesin itu oleh Dg Gani.
Selanjutnya, yang diburu adalah alat gilingnya. Tidak susah untuk mencarinya. Uang yang dikeluarkan untuk mesin pakan ini sebesar Rp3,5 juta.
Sesampainya di rumah, Dg Gani bekerja sama kakaknya, Dg Gassing merakit sendiri mesin dan alat yang dibelinya. Pertama kali dirakit, bagian depan yang berfungsi sebagai penggilingan, meledak. Penyebabnya, putaran mesin lebih kencang dari penggilingan.
Gani pun harus membeli penggilingan. Lagi-lagi meledak ketika diuji coba. Eksperimen yang dilakukan Dg Gani bersama saudaranya Dg Gassing baru berhasil pada ketiga kalinya. Itupun butuh perjuangan keras. Keduanya mesti begadang hingga jam 05.00 subuh. Namun, hasil yang didapat dari uji coba itu sebanding dengan pengorbanan yang dilakukan.
Ketika mesin pakan mampu diciptakannya, Dg Gani kian bersemangat beternak lele. Namun, masalah baru muncul lagi. Setelah ikan besar, ternyata susah mencari pembelinya. Maklum, ketika itu konsumsi ikan lele oleh masyarakat belumlah seperti sekarang.
Di suatu waktu ia kenal dengan seorang pengusaha asal Jawa yang mukim di Maros. Ia bersedia membeli ikan yang berhasil diternakkan oleh Dg Gani. Namun ada persyaratannya. Ia harus diajari oleh Gani tentang teknik membuat pelet. Juga merakitkan mesinnya.
”Waktu itu ada orang dari Dinas Perikanan yang datang. Dia meminta saya untuk tidak membagikan cara membuat pelet dan merakit mesin pakan.Tapi saya tidak melakukannya. Saya tetap mengajarinya membuat pelet dan merakitkan mesin pembuatnya. Prinsip saya waktu itu sekadar ingin berbagi dan membantu,” tutur Dg Gani.
Kerja sama ini berlangsung beberapa waktu lamanya. Hal yang tak pernah disangka-sangka oleh Dg Gani pun terjadi.
Setelah berhasil mendapatkan ilmu yang diperoleh Dg Gani secara otodidak, pengusaha tersebut menghilang. Gani kelabakan. Karena tak ada lagi yang membeli ikan hasil budidayanya.
Diapun terpaksa mencari sendiri pasaran ikan hasil ternaknya. Satu ton ikan lele dibawahnya ke Bone, Sinjai dan Mamuju. Dg Gani ‘memaksa’ orang lain untuk menjual ikan lele. Caranya, dia buatkan sendiri kolam untuk penampungan. Termasuk memodalinya. Nanti setelah ikan laku barulah dibayar.
Dua tahun kemudian, ada jaringan Dg Gani yang dari Mamuju menginformasikan keberadaan pengusaha yang telah dibantunya dulu. Bahkan mengaku sebagai pembina grup Facebook (FB) ikan lele Makassar.
Dg Gani kemudian masuk di grup FB tersebut dan mencoba mengikuti apa yang dibahas di kalangan anggota. Salah satu yang kemudian membuatnya miris, karena jika ada anggota mencoba berkeluh kesah tentang ternak lelenya, malah terkesan ditertawai.
”Misalnya begini. Ada anggota mengeluh ikannya mengalami perut kembung. Ada anggota lain yang kemudian bilang, itu dihamili. Saya cukup prihatin, karena saya pernah mengalami hal seperti ini. Tidak ada yang bisa membantu memberi jalan keluar ketika ada masalah,” terangnya.
Selama enam bulan, Dg Gani yang tak menggunakan nama aslinya di grup tersebut, hanya mengikuti percakapan mereka. Setelah itu dia coba ikut berkomentar.
Ternyata, respon yang diterimanya luar biasa. Ada yang berujar; guru besar sudah turun gunung. Sementara pengusaha ikan yang pernah diajarinya membuat pakan ikan hanya terdiam.
Untuk menghasilkan pakan ikannya, Dg Gani meraciknya sendiri. Mencampur dedak, kepala udang, ikan-ikan kecil, siput serta pollar. Awalnya pakai terigu. Namun karena harganya yang mahal, maka dipilihnya ampas terigu yang disebut bren. Harganya Rp3 ribu per kilogram. Sementara terigu Rp7 ribu/kg.
Saat bertutur tentang perjalanan kisahnya, bunya HP Dg Bani berdering. Seseorang dari balik telepon memesan bibit ikan lele. Jumlahnya ribuan ekor.
Ternyata, Dg Bani juga menggeluti bisnis penjualan bibit ikan lele. Bahkan ia membit sendiri. Usaha ini dirintisnya di tahun ketika sejak beternak ikan atau tahun 2014. Ketika itu muncul persaingan harga di kalangan penjual ikan lele. Sebab Dg Bani merasa kalah modal.
Lagi-lagi, secara otodidak ia belajar bagaimana caranya bisa menghasilkan benih ikan. Delapan bulan Dg Bani pelajari pola hidup ikan lele.
Ketika jam sembilan malam ia berjaga di dekat kolam menggunakan senter. Di waktu seperti ini ikan lele akan kawin.
”Kalau mau kawin, mereka saling lilit dan gigit. Awalnya yang diburu itu jantan. Tengah malam jam 12 giliran betinanya yang dikejar. Setelah itu betina menggosok-gosokkan perutnya. Kemudian melayang seperti pesawat tinggal landas. Saat itu keluar dua biji seperti kelereng. Itulah telurnya. Prosesnya bisa sampai jam 9 pagi,” terangnya berbagi.
Seorang Dg Bani memang sudah ditakdirkan untuk selalu berbagi. Apa yang didapatnya dari beternak lele dan membibitkannya ia bagikan ke mahasiswa. Pokdakan Bukkang Mata kini menjadi lokasi kuliah kerja profesi dan KKN mahasiswa. Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Diantaranya ada yang berprofesi guru dan teknik pertambangan. Alasannya, beternak lele bisa menjadi pilihan usaha suatu waktu nanti.
Dengan terus terang, Dg Gani mengakui jika dia mendapatkan keuntungan tiga kali lipat dari usaha pembibitan dibanding beternak ikan lele. Kini, ia memiliki 138 mitra. Mereka tersebar di berbagai daerah. Seperti Gowa, Maros dan Barru.
Saling percaya dan membantu diterapkan Dg Gani dengan para mitranya. Ia tidak hanya berbisnis. Jika ada bibit ikan lele yang dibeli mitranya dan mati pada saat masa transisi, Dg Gani siap menggantinya. Masa transisi itu antara 3 sampai 4 hari setelah disimpan di kolam.
Bibit ikan lele yang dijual Dg Gani harganya bervariasi. Untuk ukuran 4 cm Rp250 per ekor. 5 sampai 6 cm Rp300. 6 sampai 7 cm Rp350. Sebesar jempol kaki atau gelondongan Rp700 per ekor.
”Kalau bibit yang ukuran 4 cm itu rawan untuk peternak pemula. Biasanya saya sarankan untuk membeli yang 5 sampai 6 cm atau gelondongan. Itu tergolong aman,” terangnya berbagi tips.
Saat ini Dg Gani memiliki 700 pasang indukan. Ia pesan dari Jawa. Kala itu harganya Rp1,8 juta per paket. Saat ini harga satu paket sudah mencapai Rp3 juta. Satu paket berjumlah 15 ekor. Terdiri dari lima jantan dan 10 betina.
Dari indukan tersebut, 50 ribu sampai 100 ribu ekor bibit bisa ia hasilkan dalam satu bulan. Sebanyak delapan kolam khusus disiapkan untuk pembibitan.
Dg Gani lagi-lagi berbagi soal indukan ikannya. Kata dia, indukan tidak bisa dipakai selamanya atau seumur hidup. Hanya tiga kali menghasilkan telur. Setelah itu tak lagi ‘dipaksa’. Alasannya, bibit yang dihasilkan akan kerdil.
Ya, begitulah Dg Gani. Meskipun hanya tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia mampu menghasilkan ‘penemuan’ terbaru. Khususnya budidaya ikan lele.
Sebenarnya, bapak dua anak ini pernah mengecap bangku SMA setamat SMP. Namun hanya dua bulan ia duduk di bangku SMA 27. Orang tuanya yang seorang petani tak bisa memaksanya untuk bersekolah.
Terakhir, Dg Gani membuka rahasia yang ada pada dirinya. Meski telah berhasil dalam budidaya lele, ternyata ia tak mengonsumsi ikan yang dikenal kaya akan protesin itu.
Dg Gani berpegang teguh pada pesan almarhum orangtuanya. ”Pesan orang tua, jangan makan ikan lele. Karena pernah membantu nenek moyang kita. Kami sembilan bersaudara, hanya satu orang yang makan ikan lele,” ujarnya.
Pernah suatu ketika ia memaksakan diri makan ikan lele. Tiba-tiba saja ia muntah. Dg Gani pun tak pernah melakukannya lagi. Tapi, kedua anak-anaknya diperbolehkan mengonsumsi ikan lele.
Kini, Dg Gani yang pernah merantau di Malaysia telah sukses di bisnisnya. Tiap bulan ia mampu meraup omzet hingga ratusan juta. Namun ia tak pelit untuk berbagi. Semua karena pengalamannya di masa lalu, ketika di awal merintis usahanya yang penuh pahit dan getir. (rus)
Tamatan SMP Kuasai Teknik Budidaya secara Otodidak
