MAKASSAR, BKM — Pemilihan wali kota (pilwali) dan pemilihan bupati (pilbup) yang digelar serentak Juni 208 mendatang, sarat dengan pertarungan antara calon yang pernah berduet atau berpasangan. Walikota dan bupati petahana dipastikan akan ditantang oleh sang wakil wali kota maupun wakil bupati.
Dari catatan koran ini, dari 12 daerah yang akan menggelar pilwali dan pilbup, enam pasangan diantaranya akan saling berhadapan. Masing-masing Makassar, Parepare, Palopo, Jeneponto, Sinjai dan Enrekang.
Di Makassar, Wali Kota Mohammad Ramdhan (Danny) Pomanto bakal berduel dengan Wawali Syamsu Rizal. Bupati Jeneponto Iksan Iskandar dipastikan ditantang oleh Wabup Mulyadi Mustamu. Bupati Sinjai Sabirin M Yahya juga berhadapan dengan Wabup Andi Fajar Yanwar.
Wali Kota Parepare Taufan Pawe juga mendapat tantangan dari Wawali Faisal Andi Sapada. Demikian pula Bupati Enrekang Muslimin Bando akan ditantang oleh Wabup Amiruddin. Hal sama juga akan terjadi di pilwali Palopo, antara Wali Kota Judas Amir dengan Wawali Akhmad Syarifuddin alias Ome.
Syamsu Rizal dalam berbagai kesempatan juga menyatakan kesiapannya untuk menantang Danny. Demikian pula dua politisi Partai Hanura, masing-masing Mulyadi Mustamu dan Andi Fajar Yanwar yang memastikan siap naik kelas.
Wawali Parepare Faisal A Sapada juga demikian. Siap menghadang Taufan Pawe. Amiruddin di Enrekang juga siap. Termasuk Ome di Palopo.
Begitu pula empat daerah lain, yakni Bantaeng, Sidrap, Wajo dan Pinrang, yang bupatinya sudah menjabat dua periode. Wakilnya tentu siap naik kelas.
Hal berbeda terjadi di Kabupaten Bone. DPP Partai Golkar sudah mengeluarkan rekomendasi kepada pasangan Andi Fashar M Padjalangi-H Ambo Dalle untuk kembali maju di pilbup mendatang.
Pemerhati politik dari lembaga Citra Komunikasi (Cikom), sebuah lembaga di bawah bendera PT Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Wiliady mengemukakan peluang wakil ketika berhadapat dengan wali kota petahana sangatlah besar.
“Kalau hasil survei Cikom di Kota Palopo, peluang wakil untuk melawan wali kotanya sangat memungkinkan. Bahkan PT LSI Denny JA merekomendasikan wakil wali kota Palopo (Ome) untuk maju sebagai 01 karena hasil surveinya selisih tipis dengan wali kota Palopo (Judas Amir),” ujar Wiliady, Minggu (21/5).
Menurutnya, baik dari popularitas maupun elektabilitasnya untuk Kabupaten Enrekang, memang bupati Muslimin Bando masih di atas angin dibanding semua kandidat. Karenanya, para penantang yang akan maju mesti kerja keras untuk melawan MB. Sebab sebaran menyukai pemilih yang menyukai Muslimin Bando hampir di semua dapil yang ada di Enrekang.
Di Sinjai, penantang ada ada Andi Seto Rudiyanto. Walaupun bupati Sabirin Yahya saat ini masih teratas, namun gerakan-gesekan di kalangan kompetitornya sudah massif.
“Kota Parepare sangat dinamis, karena saat ini Wali Kota Taufan Pawe sudah di atas juga. Namun ada kandidat yang saat ini cukup bagus trennya. Sebut saja Pak Tasming Hamid yang siap menantang wali kotanya. Figur ini cenderung masih bersih. Ada juga wakil wali kota (Faisal Andi Sapada) yang saat ini mendapatkan dukungan tokoh. Tapi sekali ini, semuanya masih dinamis,” jelasnya.
Khusus di Makassar, ia mengingatkan bahwa untuk melawan Wali Kota Makassar Danny Pomanto, maka para kompetitor, utamanya Deng Ical harus turun ke masyarakat. Sebab, kinerja Danny selama memimpin Makassar telah mendapat pengakuan.
Pengamat politik dari Universitas Bosowa, Dr Arief Wicaksono menilai peluang keenam wakil kepala daerah sangat besar. Karena selama periode ini mereka punya kesempatan yang sama dengan kepala daerah untuk membangun basis kekuatan, terutama di jajaran birokrasi. “Beberapa wakil seperti di Makassar, Palopo dan Jeneponto misalnya, adalah kader partai politik yang dalam pilkada lalu diusung oleh partainya. Tentu situasi ini juga berkontribusi terhadap dukungan kekuatan partai politik para wakil ketimbang kepala daerah. Jadi, para wakil ini tinggal meningkatkan frekuensi sosialisasi untuk aspek popularitas,” ujar Arief.
Dosen politik UIN Alauddin, Dr Firdaus Muhammad mengemukakan, para wakil membidik menjadi bupati atau wali kota karena merasa memiliki kemampuan untuk itu. “Hal ini pula yang acapkali menjadikan hubungan mereka tidak harmonis karena dianggap lawan politik, sehingga sering diganggu sejak awal. Sebaliknya, wakil bermanuver dan sebagian berhasil seperti Indah Putri di Lutra. Tentu masing-masing wakil memiliki peluang dan prestasi,”ujar Firdaus. (rif)
Duet Jadi Duel Enam Petahana, Siapa Kuat?
