“KETIKA kita bekerja dengan tulus, Allah pasti akan memberikan kemudahan”. Itulah sepenggal kalimat yang selalu diyakini Samsu Niang. Hasilnya bisa dilihat. Dari seorang penjual jalangkote keliling, kini menjadi anggota DPR RI dan bisa mendirikan yayasan pendidikan.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
HIDUPNYA dulu teramat sulit. Ia harus menikmati masa-masa sulit. Kondisi ekonomi keluarganya yang morat marit membuat dirinya harus belajar hidup mandiri.
Mencari uang untuk biaya sekolah dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri adalah kebiasaannya sedari kecil. Ia tak pernah mengeluh, karena ia yakin kehidupan akan selalu berputar. Yang ia jalani sehari-hari adalah berusaha menjadi pribadi yang terbaik.
Ia pernah merasakan perihnya tak bisa membayar uang sekolah. Tapi siapa sangka, pengalaman perih itu justru ia jadikan semangat dan cita-cita yang sangat mulia. Tidak ada lagi anak-anak yang seperti dirinya, adalah harapan terbesarnya.
Samsu juga bercerita banyak tentang bagaimana ia bisa mendirikan yayasan dan menjadi anggota DPR RI. Semuanya ternyata tidak dijalani dengan instan. Butuh proses yang panjang dan banyak pengorbanan untuk menggapi semua itu.
Setelah menamatkan studinya di jurusan Ilmu Keolahragaan UNM, Samsu terangkat menjadi guru di SMP Negeri Bantimala, Pangkep. Tujuh tahun lamanya ia mengabdikan dirinya di sekolah tersebut. Setelah itu, ia pindah di SMPN 32 Makassar. Di sekolah ini, Samsu sempat menjadi wakil kepala sekolah.
Ia memanfaatkan betul pekerjaannya saat itu yang merupakan seorang PNS untuk mendirikan yayasan. Awalnya ia meminjam uang kredit sebesar Rp30 rupiah untuk mengurus segala administrasi pembentukan yayasan.
Ia juga harus membangun infrastruktur sekolah dan menyiapkan gaji untuk guru-guru. Dari uang pinjaman itulah ia mendirikan sedikit demi sedikit yayasan pendidikan, yang saat ini sekolahnya telah berdiri dengan megah.
Yayasan ini mulanya hanya tingkat SMK saja. Memiliki 33 siswa yang mendaftar kala itu. Seiring berjalannya waktu, dengan keikhlasannya membantu masyarakat kurang mampu untuk bersekolah, saat ini telah ada sekolah tingkat SD, SMP dan SLB. Jumlah siswanya pun mencapai ratusan orang.
Prestasi yang diraih siswa Yayasan Laniang saat ini tergolong membanggakan. Beberapa kali mereka menorehkan juara, baik pada tingkat provinsi maupun nasional.
Sekali lagi, prestasi ini tak lepas dari peran Samsu Niang sebagai pendiri yayasan. Ia senantiasa mengingatkan kepada guru-guru di yayasan tersebut untuk bekerja dengan ikhlas mendidik anak-anak yang dianggap kurang mampu.
Saat sedang menjabat wakil kepala sekolah, ia sempat membentuk sebuah organisasi yang dikhususkan untuk guru-guru. Samsu menamakannya Forum Komunikasi Pengkajian Aspirasi Guru Indonesia (FKPAGI). Organisasi ini terbentuk atas inisiasi Samsu yang melihat guru-guru saat itu seakan tertindas.
“Menjadi guru adalah pekerjaan mulia. Namun akan lebih baik jika kita memikirkan nasibnya guru,” katanya memberi argumen.
“Guru saat itu ibarat katak dalam tempurung. Tidak ada demokrasi di dalamnya,” tambah Samsu memberi perumpamaan.
Karena dilihat mampu memobilisasi massa, Samsu pun direkrut menjadi salah satu kader partai oleh salah seorang anggota parpol. Sampai akhirnya ia mampu menjadi anggota DPRD Makassar dua periode dan menjadi pimpinan DPRD saat itu.
Tidak menjadi masalah baginya menjadi pimpinan DPRD kala itu. Karena yang dihadapinya adalah orang-orang susah. Sedangkan Samsu sendiri sedari kecilnya sudah terbiasa hidup susah.
Olehnya, proses sosialisasi kepada masyarakat sangatlah mudah baginya. Hingga akhirnya ia berhasil menjadi anggota DPR RI mewakili Sulawesi Selatan.
“Saya ini pernah merasakan penderitaan, jadi saya tahu. Itulah yang saya pikir mengapa orang-orang memilih saya,” jelas Samsu.
Terakhir Samsu berpesan bahwa bukan hanya orang kaya saja yang bisa sukses. Orang miskinpun juga bisa, selama punya cita-cita dan motivasi tinggi.
“Sebagai pelaut ulung, petarung ulung, bila jangkar telah terangkat, layar telah terkembang, ombak menggulung, badai mengamuk, lebih baik mati daripada surut kembali,” pesan Samsu mengikuti filosofi orang Bugis-Makassar. (*/rus/b)
