GOWA, BKM–Perseteruan dua kubu kepemimpinan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masing-masing kubu Djan Fariz dengan kubu Romahurmudziy alias Romy, berimbas pada diri Ketua PPP Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, H Muh Dachlan Tawang.
Pasalnya, anggota Fraksi PPP Gowa ini tidak menyangka jika surat pernyataan yang ditandatanganinya di atas kertas bermaterei itu malah menyudutkan dirinya dan dirasakannya mengancam keberadaannya di lembaga perwakilan rakyat.
Dachlan yang dikonfirmasi, Senin (22/5) mengaku persoalan partai yang dihadapi partainya saat ini tidak disangkanya akan berbuah pahit bagi dirinya. Pasalnya, waktu kubu Romy mendatanginya dan memintanya bertandatangan. “Saya pikir surat pernyataan itu hanya sampainya di DPC, ternyata disebar kemana-mana. Padahal saya saat ini hanya mengikuti partai saja. Saya tidak tahu persoalan di tingkat atas. Saya akui, saya berkali-kali dipanggil kubu Romy. Jadi saya pikir mungkin tidak masalahji kalau saya ikuti kubu Romy. Dan pikiran saya juga, tidak salahji kalau kubu Djan minta saya. Mereka kan sama-sama PPP dan saya cuma ikut PPP. Saya tidak ikut siapa-siapa dan saya tidak tahu yang akan pimpin ini PPP,” kata Dachlan.
Dia mengaku sangat pahit merasakan perjuangannya dulu saat mengantar PPP menang di Kecamatan Pallangga. “Bukan cuma saya, tapi istri saya, keluarga saya semua berjuang demi pak Amir Uskara dan mengantar beliau sukses sampai di pusat. Saya masuk ke PPP sejak 2004. Dari empat wakil PPP di DPRD, sayalah ini kader tulen PPP. Sikap apapun yang nanti diambil partai, saya tidak akan melawan. Saya pasrah. Mungkin cukupmi perjuangan saya di partai selama ini. Sebenarnya saya ada di tengah-tengah. Kalau ada kepentingan dua kubu itu, maka saya jalankan kedua-duanya. Sebenarnya saya di bawah ini sangat bingung karena Djan Fariz itu versi hukum, sementara Romy versi pemerintah dan saya hanyalah pekerja partai saja,” bebernya. (sar/rif)
Ketua PPP Pallangga Kaget Pernyataan Mundurnya Tersebar
