Site icon Berita Kota Makassar

Program Punggawa D’Emba tidak Maksimal

GOWA, BKM — Program pembelajaran melalui Punggawa D’Emba dinilai sejumlah anggota DPRD Gowa jauh dari maksimal. Terbukti pelaksanaan program cetusan Ichsan YL ini tidak dilengkapi program IT yang memadai. Padahal, IT menjadi hal utama dalam konsep pembelajaran ini.
Sorotan itu dilontarkan para anggota dewan diwakili Muh Haris Tappa, Wakil Ketua DPRD Gowa. Kepada BKM di ruang kerjanya, Jumat siang (2/6), politisi Partai PAN ini mengatakan, proses pembelajaran melalui program Punggawa D’Emba ini sangat tidak maksimal karena alat IT yang digunakan sangat terbatas.
”Padahal, kita di Gowa menjadi pusat kunjungan referensi bagi 34 daerah provinsi dan 400 lebih DPRD kabupaten dan kota yang datang silih berganti belajar tentang potensi pendidikan Gowa yang berbasis teknologi. Kalau kita memang berbasis IT, maka sarana prasarana harus difasilitasi. Sementara di lapangan, sarananya sangat kurang,” kata Haris Tappa.
Karena itu, tambah Haris Tappa, pihak dewan meminta agar dinas terkait segera melengkapi sarana untuk Punggawa D’Emba tersebut. Haris pun mencontohkan pelaksanaan UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) tahun ini yang hanya diikuti tiga sekolah.
Itu pun fasilitasnya masih sangat tidak memadai, sebab para siswa bergilir ujian. Karena jumlah komputer terbatas. ”Kami sendiri heran, kenapa bisa begitu. Padahal, Gowa ini menjadi percontohan pendidikan. Jadi intinya, bagaimana sarana dan prasarana dilengkapi untuk progam Punggawa D’Emba dan kita berharap Gowa jadi terbaik. Apalagi konsepnya menuju kabupaten pendidikan,” tandas Haris Tappa.
Program Punggawa D’Emba ini menurut Haris Tappa sangat bagus. Karena itu perlu diseriusi mana kala Gowa mempersiapkan diri untuk mewujudkan sebagai kabupaten pendidikan. “Kami bahas ini setelah gabungan komisi meninjau sekolah-sekolah. Termasuk kemarin saat UNBK berlangsung. Disitulah kami melihat tidak optimalnya program Punggawa D’Emba,” kilahnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gowa, Dr Salam yang dikonfirmasi, Senin pagi (5/6), mengatakan, pemanfaatan IT dalam sekolah memang harus dilakukan. Sebab, semakin ke depan siswa tidak akan menggunakan kertas dan pensil maupun pulpen. Tapi fasilitas IT.
Namun, katanya, untuk keperluan sarana IT itu dibutuhkan biaya besar. Mau tidak mau pasti membutuhkan hardware dan software. Karena sarana belajarnya lebih high level.
Meski demikian, ke depan program Punggawa D’Emba Education memang harus dimaksimalkan guna Gowa menuju kabupaten pendidikan.
”Intinya, kita akan memperbaiki sistem persekolahan di Gowa. Punggawa D’Emba memang harus dioptimalkan. Cuma hal utama yang harus diseriusi adalah SDM para guru. Sebab percuma kita siapkan fasilitas IT di sekolah jika gurunya tidak memiliki skill menjalankan IT tersebut. Kalau guru tidak tahu pakai komputer bagaimana dia bisa mengajarkan IT ke siswanya. Kalau kita mau pakai instruktur maka itu buang-buang biaya lagi,” jelas Salam.
Menurutnya karena masih banyak guru yang tidak terbiasa dengan IT, maka Gowa tahun ini masih termasuk daerah yang Penilaian Kinerja (PK) gurunya masih tergolong rendah. Yakni masih pada kisaran angka 40. Dan itu banyak dialami pula dialami kabupaten dan kota lainnya baik di Jawa maupun luar Jawa.
Salam pun menyoal UNBK yang telah berlangsung Mei lalu. Menurutnya, siswa akan tetap kesulitan dalam sistem IT. Bukan karena tidak sanggup, tapi karena tidak terampil. ”Bayangkan saja, soal-soal terpampang di monitor hanya durasi dua menit sudah hilang. Jadi bagaimana anak-anak kita bisa memahami soal-soal itu. Ujian nasional itu bukan ujian kecepatan. Belum lagi jaringan tiba-tiba hilang karena listrik padam dan kendala lainnya. Bayangkan saja kita harus menjawab satu soal dengan cepat. Padahal, setiap soal apalagi yang matematika harus dicerna baik-baik untuk dijawab,” kata Salam.
Ditambahkan, pihaknya berupaya bagaimana mengembalikan implementasi SKTB dengan benar dan memang harus dilakukan penyempurnaan. ”Ini harus dilakukan bertahap sebab anggaran kita juga terbatas. Tahun ini kita hanya lakukan monev atau monitoring dan evaluasi,” jelasnya. (sar/mir)

Exit mobile version