MAKASSAR, BKM–Lebih dari separuh partai politik di Sulsel akan lari kosong atau tidak mengikutkan kadernya di Pemilihan Gubernru (Pilgub) Sulsel Juni 2018 mendatang. Dari 12 partai yang ada, sedikitnya enam partai yang tidak siap mendorong kadernya masing-masing PKPI, PBB, PKB, PDIP, Hanura dan PPP. Selain itu, PKS yang sudah menyiapkan nama Ariady Arsal dan PAN tengah mendorong Ashabul Kahfi untuk posisi 02. Tak hanya itu, Demokrat juga tengah menyiapkan dua kader yakni Ni’matullah dan Aliyah Mustika, sementara Gerindra baru mensosialisasikan Andi Idris Manggabarani. Beda dengan Golkar yang sudah merekomendasikan Nurdin Halid serta Nasdem yang sedang memperjuangkan Rusdi Masse maju di Pilgub.
Pemerhati politik dari Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir menilai potensi parpol lari kosong atau cenderung mengusung calon gubernur esternal, karna memang para bacagub yang direspon publik atau yang mendapat dukungan electoral adalah figur-figur esternal. Menurut Suwadi, hingga Juni ini, bacagub yang tertinggi dukungan electoral nya adalah Nurdin Abdullah, Ichsan Yasin Limpo, dan Agus Arifin Numang, serta Nurdin Halid. “Selain golkar, hampir semua partai minim kader untuk disiapkan bertarung di Pilgub. Yang bisa dilakukan hanya mempersiapkan 02 agar tidak lari kosong,”jelasnya.
Suwadi beralasan parpol juga pasti tidak mau mengusung kadernya jika sulit meningkatkan dukungan electoralnya, karna rata-rata parpol ingin menang.
Dosen Unismuh Makassar Arqam Azikin mengaku masih melihat peluang PAN, Gerindra, Demokrat serta Nasdem akan mengusung kadernya. “Partai Gerindra dan PAN masih memungkinkan mengusung kadernya di Pilgub mendatang. Nasdem dan Partai Demokrat juga masih mungkin,”tulis Arqam.
Menurut Arqam, selain Golkar , Gerindra, PAN, Nasdem dan Demokrat masih memungkinkan ada calon dari internalnya. Bila situasi mendesak secara politik dan kondisi “darurat politik” mengharuskan kadernya masuk calon di Pilgub Sulsel. Posisi dinamika politik harusnya di skenario oleh elit-elit parpol besar dan menengah, serta tidak hanya dikendalikan beberapa elit politik saja. Karena parpol yang punya otoritas mengendalikan loby politik dan mencari kesamaan pandangan pada proses politiknya. “Ini efek karena kemampuan parpol mengelolah kader dan pengurusnya untuk disiapkan menjadi calon pemimpin belum siap. Inilah pekerjaan rumah besar bagi PPP, PKS, Hanura PDIP, PKB, PKPI dan PBB , agar berikutnya sudah menyiapkan agenda sistematis bagi pengurus dan kadernya maju di setiap kontestasi politik,”jelasnya.
Dosen politik Unibos Arief Wicaksono menilai bila lari kosong terjadi dihampir disemua wilayah di Indonesia, “Rata-rata partai politik lari kosong atau tidak mengutus kadernya maju dalam kontestasi. Sebabnya karena iklim populisme ketokohan/figur yang begitu kuat dibanding dengan iklim yang dibangun oleh partai politik. Kalau Aliyah dari Demokrat dan RMS dari Nasdem tidak maju, berarti selesai sudah,”jelas Arief.
Pengamat politik Hidayat Nahwi Rasul mengemukakan bahwa konstalasi politik saat ini tidak bisa dilepaskan dengan dua hal yaitu Keterkaitan dengan Pilpres dan realitas parpol politik kita yang miskin kader. “Dalam hal keterkaitan dengan Pilpres, erat hubungannya dengan figuritas dan komitmen dukungan kepada Capres 2019 akan datang. Tentu saja figuritas disini selain kemampuannya mendukung Capres sekaligus dipersiapkan sebagai votegeter. Disisi lain pencalonan figur-figur cagub banyak ditentukan trend sebuah partai politik untuk Pilpres 2019.
Sementara sisi lain realitas parpol kita saat ini selain miskin figur juga ketergantungannnya dengan parpol pusat sangat kuat,”pungkas mantan jubir pasangan calon Gubernur Sulsel Amin Syam-Mansur Ramli ini. (rif)
Lebih Separuh Parpol Lari Kosong di Pilgub
