Tatapannya sayu. Bicaranya pelan. Sesekali ia menekuk kaki kirinya membentuk segitiga. Pahanya nyaris sama besar dengan daging yang membungkus tulang betisnya.
Kamis (8/6) sore, Wakhyono masih terbaring lemas di ruang isolasi yang terletak di lantai 2 Infection Center Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Wahidin Sudirohusodo Makassar.
Bobot tubuhnya turun drastis. Lengan dan pahanya terlihat kurus. Beberapa selang melingkar di bagian tubuhnya. Ada tiga selang. Dua selang infus menusuk pembuluh darah di tangan kirinya. Dan satu selang untuk membantu pernafasannya dari tabung oksigen.
Sementara di dada sebelah kirinya tertempel perban. Katanya perban itu menutup lubang bekas operasi.
Saat kami datang, Mas Yon, begitu kami memanggilnya hanya ditemani sang istri. Senyumnya masih seperti dulu, saat menjadi jurnalis Harian Berita Kota Makassar.
Begitu melihat kami datang, senyumnya mengembang. Matanya terlihat berbinar. Kendati sudah 5 tahun lebih tak bersama kami lagi di Berita Kota Makassar, hubungan emosional dan pertemanan terjalin dengan baik.
“Apa kabar Berita Kota. Semoga makin sukses,” kata Mas Yon dengan suara pelan. Sore kemarin, Mas Yon hanya mengenakan baju singlet hitam dan celana pendek hitam.
Sore kemarin, Direktur Berita Kota Makassar, Fachruddin Palapa, Pemimpin Redaksi Muh Arsan Fitri, Manajer Keuangan, Jumakil, Manajer Umum, Masjidan dan Manajer Sirkulasi, Ahmad T datang menjenguk Mas Yon.
Dengan hanya mengenakan singlet hitam dan celana pendek hitam, Mas Yon menyambut kami. Di sisi kanannya terdapat kipas angin kecil.
Ia pun menceritakan pertama kali dilarikan ke rumah sakit. Sebelum ia dibawa ke RSUP Wahidin, ia lebih dulu dirawat di Balai Kesehatan Paru di Jalan AP Pettarani. Selama 10 hari ia dirawat di tempat itu.
“Saat itu saya masih bekerja di Rakyat Sulbar. Tapi karena kondisi kesehatan yang menurun, saya menetap di Makassar,” katanya.
Saat itu, dua paruparunya mengecil. Otomatis berpengaruh dengan pernapasannya. Namun, saat hendak operasi, tiba-tiba paruparu sebelah kanannya membesar.
“Alhamdulillah, semua berkat mukjizat Allah,” katanya bersyukur.
Namun, bukan berarti ia sudah sembuh. Tapi dokter membolehkan pulang. Ia pun diajak bekerja di Radar Makassar. Tetapi, penyakit paruparunya kembali kambuh. Ia akhirnya dilarikan ke RSUP Wahidin.
“Saya sudah tiga bulan dirawat di Wahidin. Yah..begini ini,” katanya lirih.
Menurut dokter, penyebab sakit paruparu yang ia derita disebabkan karena angin malam, merokok dan mandi malam. Makanya, Mas Yon bertekad jika ia diberi kesembuhan oleh Allah, ia akan menghindari rokok.
Dari raut wajahnya, semangat untuk sembuh terlihat. Ia bertanya soal pengobatan alternatif dengan mengkonsumsi ikan gabus. Masjidan dan Ahmad T pun menyarankan untuk mengkonsumsi ikan gabung yang diblender.
Sebagai senior, rekan dan sesama jurnalis, wajarlah jika kami peduli dengan kondisi Yon. Apalagi untuk Berita Kota Makassar. Tidak bisa dipungkiri, Mas Yon adalah salah satu orang yang memiliki andil besar dalam membangun Berita Kota Makassar.
Sejak tahun 1993, Mas Yon sudah bergabung dengan Mingguan Binabaru. Binabaru adalah cikal bakal Harian Berita Kota Makassar. Di Binabaru, ia tidak hanya menjadi reporter, tetapi juga montase dan layout.
Saat Binabaru menjadi harian pada 1997, Mas Yon adalah editor andalan. Utamanya untuk berita-berita kriminal.
Jika Anda pernah membaca judul-judul nyeleneh Berita Kota Makassar pada tahun 1997 hingga 2005, maka Mas Yon lah pembuatnya. Dia paling lihai membuat judul headline menarik dan lucu. Seperti “Ditembak Tidak Kena, Pencurinya Berhasil Kabur, Eh…Malah Ditangkap karena Jatuh di Got”. Atau “Ditabrak Mobil Truk, Kepala Digilas, Tewas Deh…”
Pada 2012 lalu, Mas Yon tidak lagi di Berita Kota Makassar. Ia pindah ke Rakyat Sulsel, salah satu harian di Fajar Group. Dua tahun lebih ia di Rakyat Sulsel, ia pun diminta menjadi Direktur di Harian Rakyat Jateng (Fajar Group) di Semarang. (*)
