Site icon Berita Kota Makassar

Duda Mengamuk tak Diberi Uang untuk Merantau

MAKASSAR,BKM — Seorang lelaki berambut pendek dan tipis duduk di salah satu kursi Mapolsek Bontoala. Ia mengenakan celana pendek warna putih, dipadu kemeja lengan pendek motif kotak-kotak. Seorang anggota kepolisian mencoba menasihatinya.
Pria ini bernama Fajar (29). Beralamat di Jalan Tinumbu I nomor 132A. Ia diamankan di kantor polisi setelah sebelumnya mengamuk di dalam rumahnya.
Guci antik kesayangan milik ibundanya dipecahkan. Tak ada yang tahu persis kenapa Fajar berbuat anarkis seperti itu di rumahnya sendiri. Warga tidak ada yang berani menghentikan tindakannya. Setelah kelelahan, Fajar baru mengakhiri amukannya.
Ibunya, Nursyamsiah yang tiba di rumah terkejut. Ia mendapati isi rumah berantakan dan mendapati Fajar.
Sambil menata dan membersihkan barang yang baru saja dihamburkan Fajar, Nursyamsiah mengomel. Hal ini kembali memicu kemarahan Fajar. Emosinya tersulut. Dia kemudian mengancam hendak membakar rumahnya. Sang ibu bahkan nyaris saja dipukuli guci olehnya.
Beruntung, sang ibu cepat keluar dari dalam rumah. Selanjutnya bergegas ke Mapolsek Bontoala, Senin (12/6). Ia meminta bantuan polisi untuk mengamankan anaknya, Fajar.
Tak lama kemudian polisi tiba di lokasi kejadian. Fajar pun diamankan. Selanjutnya digiring ke mapolsek guna pemeriksaan lebih lanjut.
Kepada polisi, Fajar menyatakan khilaf. Ia mengaku nyaris memukuli ibunya dan mengancam membakar rumahnya. Alasannya, ia berkali-kali meminta uang namun tak pernah diberikan. Puncaknya ketika Fajar minta Rp2 juta dan tidak digubris.
”Marahka, Pak. Saya minta uang Rp2 juta tapi tidak diberikan. Rencananya uang itu saya mau pakai merantau ke Kendari. Selama ini saya pusing tinggal di rumah. Tidak bekerja. Hanya makan tidur,” terangnya.
Fajar menjelaskan, dirinya sudah lama menganggur. Dia pernah bekerja sebagai tukang cuci kendaraan. Waktu itu dirinya masih berumah tangga.
”Saya sudah dua kali beristri. Tapi sekarang sudah tidak sama-sama lagi. Semuanya sudah pergi. Ada satu anak dari istri pertamaku. Dia tinggal di Makassar. Kalau yang istri kedua, ada dua anakku. Mereka sekarang tinggal di Soppeng,” jelasnya.
Dua kali menduda, Fajar ternyata tidak tahu penyebab kedua istrinya pergi meninggalkannya. ”Saya tidak tahu kenapa mereka semua pergi. Waktu istri pertama, saya berjualan di Pasar Sentral. Setelah cerai, saya beristri lagi. Tak lama kemudian pisah lagi,” bebernya.
Belakangan diketahui, Fajar mengalami kondisi gangguan psikis. Kepada polisi yang mengajaknya berkomunikasi, Fajar menyampaikan curahan hati dan perasaannya selama ini.
Ia mengaku pernah meminta kepada ibunya untuk membawanya berobat. Namun permintaan itu tak pernah direspons. Hingga kemudian amarahnya memuncak dan mengamuk.
”Jujur, Pak. Saya merasakan ada yang mengganggu jiwa saya. Itu saya rasakan ketika berada di Kalimantan. Saat itu ada bisikan yang mengatakan saya tidak pakai celana berjalan di depan umum. Saya kemudian periksa, saya pakai celana,” ujar Fajar.
Selain itu, ia juga kerap melihat sesuatu yang gaib. Karenanya, Fajar meminta ibunya untuk membantu mengobati penyakit kejiwaan yang dideritanya. Tapi sejauh ini tak pernah ditanggapi.
Pria delapan bersaudara ini mencoba melawan setiap ada bisikan gaib yang didengarnya. Namun, tak selamanya ia mampu memberi perlawanan dan terbawa emosi ketika bisikan itu datang.
”Saya mau sembuh, Pak dan menghilangkan bisikan gaib itu. Saya selalu cemas ketika bisikan itu datang lagi,” imbuh Fajar.
Brigpol Saiful Alam yang menangani kasus ini, tidak sertamerta mengamini penjelasan Fajar. Penyelidikan lebih dalam dilakukan. Keterangan dari tetangga digali. Termasuk informasi dari seorang anggota kepolisian yang mengenali Fajar.
Dari hasil penyelidikan polisi, kuat dugaan Fajar mengalami gangguan kejiwaan. Indikasi itu diperkuat setelah memperhatikan gelagat Fajar ketika berada di Mapolsek Bontoala.
”Selama di kantor polsek, biasanya dia bicara sendiri. Informasi dan keterangan yang kami dapatkan, dijadikan sebagai dasar jika Fajar mengalami gangguan jiwa. Termasuk keterangan dari rekan kami yang anggota polisi dan mengenali Fajar. Kata dia, Fajar mengalami gangguan kejiwaan,” jelas Brigpol Saiful Alam, kemarin.
Setelah 1×24 jam melakukan pemeriksaan terhadap Fajar, ibunya kembali datang ke Mapolsek Bontoala. Dia meminta anaknya untuk dipulangkan.
Sebelum menyerahkan Fajar ke orangtuanya, polisi terlebih dahulu meminta keterangan sang ibu terkait perilaku Fajar selama tinggal bersamanya.
“Tidak kutahu juga, Pak ini anakku, apakah ada penyakit kejiwaannya atau tidak. Tapi memang pernah dia meminta untuk berobat,tapi saya kurang paham mau berobat apa. Karena sehat-sehatji kulihat. Nanti mengamuk di rumah saya langsung melapor. Setelah berpikir saat di rumah, saya sadar kalau anak saya sepertinya mengalami penyakit kejiwaan,” jelas Nusyamsiah, Selasa (13/6).
Petugas selanjutnya mengarahkan Nursyamsiah untuk segera memeriksa kejiwaan anaknya untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. (ish/rus)

Exit mobile version