Site icon Berita Kota Makassar

Keselamatan Kendaraan Lebih Penting

Juru parkir (Jukir) biasanya terkesan sangat mengganggu pengguna kendaraan bermotor. Apalagi para jukir liar yang seenaknya saja menagih biaya parkir dengan tarif semau mereka. Padahal, keamanan kendaaan kita belum tentu menjadi jaminannya.

Laporan: NUGROHO

Sering kita dengar bersama beberapa keluhan dari masyarakat pengguna kendaraan jika para jukir tiba-tiba muncul entah dari mana ketika kita hendak memarkir kendaraan. Padahal sebelumnya tidak ada jukir di area tersebut. Hal itu yang kerap kali membuat geram para pengendara karena seakan-akan mereka hanya mementingkan keuntungan tanpa memperhatikan keamanan kendaraan kita.
Itulah para jukir liar yang kerap kali kita jumpai. Namun ada juga beberapa jukir yang benar-benar mementingkan keamanan kendaraan. Salah satunya adalah Culla Dg. Lolo. Pria kelahiran Jeneponto ini dengan serius memperhatikan setiap kendaraan yang terparkir di depan Era Photo, salah satu studio foto di Jalan Cendrawasih, Makassar.
Usianya sudah cukup renta, 88 tahun. Saat ditemui penulis, tubuhnya sedikit bergetar saat menjawab pertanyaan. Namun kondisi fisiknya belum terlalu lemah karena ia senantiasa menjaga dan mengarahkan kendaraan saat hendak parkir.
Kulitnya hitam tanda sering terpapar sinar matahari. Rambut dan kumisnya telah memutih. Diusianya sekarang, harusnya Dg. Lolo tinggal menikmati masa tuanya. Namun lagi-lagi kondisi ekonomi dalam keluarga lah yang mengharuskan ia masih tetap bekerja.
Anaknya ada dua. Semuanya telah menikah. Anaknya yang pertama bekerja sebagai juru parkir seperti dirinya. Anaknya yang kedua jadi sopir bentor di Jeneponto. Dg. Lolo masih harus tetap bekerja karena pekerjaan anaknya yang dirasa masih belum bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi Dg. Lolo memiliki 11 cucu dari kedua anaknya tersebut yang harus pula dihidupi. Sedang istri Dg. Lolo hanyalah ibu rumah tangga.
Setiap hari, Dg. Lolo berjalan kaki dari rumahnya ke Era Photo. Rumahnya yang berada di Jalan Cendrawasih Lr. 6 tidak begitu jauh dari tempatnya bekerja. Namun bagi orang seusianya, jelas itu sangat menguras tenaga. Apalagi saat ini Dg. Lolo sudah mulai sakit-sakitan. “Ini saja dari k tadi berobat, saya sakit batuk dan biasa sesak. Tapi mau mi diapa, harus tetap kerja,” kata Dg. Lolo sambil sesekali batuk.
Ia mulai bekerja menjaga kendaraan mulai jam 9 pagi saat toko tersebut buka. Hal tersebut ia lakukan setiap hari dan akan berhenti ketika pukul 4 sore. Dg. Lolo berhenti setiap pukul 4 sore karena ia anggap sampai di situ lah batas kekuatannya. “Jam 4 berhenti ma, capek ku rasa,” kata Dg. Lolo.
Penghasilan yang ia dapat setiap hari juga pas-pasan. Kadang Rp 30 ribu, kadang juga Rp 40 ribu. Itu pun harus dipotong lagi karena ia harus membayar ke PD parkir sebesar Rp 100 ribu per bulan. Penghasilan tersebut ia gunakan untuk biaya makan sehari-hari bersama keluarganya.
Walaupun penghasilannya pas-pasan dan kehidupanya sangat sederhana, namun Dg. Lolo mengatakan, jika ia selalu merasa bahagia. Tidak pernah juga ia sekalipun mendapat kejadian tidak mengenakkan selama menjadi jukir.
Baginya dirinya telah amat tua. Tidak ada lagi harapan untuk dirinya mengembangkan pekerjaannya. Yang ia harapkan satu-satunya adalah bisa tetap terus makan dari penghasilan yang halal. (nug/war/b)

Exit mobile version