EMPAT sosok tubuh terbujur kaku berjejer di sebuah rumah di Datae Kelurahan Lawawoi Kecamatan Watangpulu Sidrap, Minggu (25/6) lalu.
Keempat jasad tersebut merupakan jenazah yang terdiri dari suami-isteri dan dua orang anaknya yang tewas habis sekaligus akibat peristiwa tabrakan dengan bus.
Menyedihkan memang, tapi begitulah takdir yang diterimah satu keluarga ini. Tak pernah dibayangkan kalau Sukri (35) sebagai suami dan isterinya Nursanti (37) beserta dua anaknya, Susan (11) dan Rifky (8), secara mengenaskan meninggal secara tragis bersamaan. Tak seorangpun yang tersisa. Kisahnya, saat itu cuaca mendung disertai gerimis menyelimuti Kota Parepare dan sekitarnya. Usai salat Id 1438 H, keluarga Sukri, warga Kel Lainungan Kec Watangpulu Kab Sidrap – sekira 10-an kilometer dari Kota Parepare, poros Parepare-Sidrap – hendak bersilaturahmi ke rumah orangtua Sukri (mertua Nursanti) di Kota Parepare.
Mereka mengendarai motor matic Yamaha Fino berwarna pink bernomor polisi DD 2273 CK. Sukri membonceng anak-isterinya dengan posisi, Rifky berdiri di depan sadel dan anaknya Susan dan isterinya Nursanti di bagian belakang.
Sekembalinya dari kota niaga Parepare, ketika Sukri menyusuri jalan berkelok (tikungan) pada kilometer 7 Kec Ujung Parepare – dari arah yang berlawanan menuju Makassar – tiba-tiba muncul Bus Bintang Prima bercorak aneka warna kotak-kotak, bernomor Pol DD 7799 BA yang dikemudikan sopir bernama Agus (38).
Dalam hitungan sekejap pengendara motor itu bertabrakan keras dengan bus besar tersebut. Motor yang dikendarai beserta Sukri dan anak bungsunya Rifky yang tergeletak di bawa kolong bus terseret sikitar 100 meter. Praktis, motornya ringsek tak berbentuk, sementara Sukri dan Rifky dengan luka di sekujur tubuhnya bersimbah darah hingga tewas di tempat.
Sementara isterinya Nursanti dan anak pertamanya Susan yang dibonceng terlepental jauh sekitar 50 meter kedalam jurang, tersangkut di sebuah pohon di atas jurang yang dalam di sisi bagian Barat laut jalan tersebut.
Nursanti yang berprofesi sebagai guru SD di sebuah sekolah di Lainungan Sidrap itu bersama anaknya Susan juga mengembuskan nafas terakhir di TKP.
Meski tak ada saksi mata, namun Sukri yang mengendarai sepeda motor berboncengan dengan anak-isterinya dari arah Selatan diperkirakan hendak melambung sebuah kendaraan di depannya, tiba-tiba dari arah Utara menuju ke Makassar muncul Bus Bintang Prima.
Diduga kuat, baik pengendara motor maupun sopir bus masing-masing tidak melihat ada kendaran yang melaju di depannya lantaran terlindung jalan menikung yang juga licin karena gerimis. Akhirnya, tabrakan tak bisa dihindari yang menyebabkan satu keluarga atau suami isteri dan dua orang anaknya tewas habis seketika karena tabrakan, tak satupun yang tersisa.
Sesaat kemudian, warga yang tak jauh dari lokasi maupun warga yang lewat di hari lebaran itu ramai berkerumun menyaksikan peristiwa yang menggemparkan tersebut. Petugas dari Satlantas Polresta Parepare dan Tim 112 Centre (tim khusus antisipasi kecelakaan Pemkot Parepare) muncul di lokasi.
Para korban tewas di tempat kemudian dievakuasi oleh petugas dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk divisum.
Sementara Bus Bintang Prima yang juga rusak beserta sopirnya diamankan pihak Satlantas Polresta Parepare. Dialihkan
Pasca peristiwa lalakalantas yang terbilang langka itu, Bus 10 roda Bintang Prima yang melintang miring di jalan, diperparah dengan luapan warga yang datang memicu kemacetan panjang hingga beberapa waktu lamanya. Apalagi hari itu, dalam suasana hari lebaran yang diramaikan lalu-lalang kendaraan warga yang hendak mengunjungi sanak-keluarga dan handai-tolan. Praktis, kemacetan panjang di poros provinsi tersebut menyebabkan pengguna jalan banyak yang terhalang.
Sebut saja, keluarga DR Abdullah Sinring MPd, Dekan Fak Psikologi UNM yang hendak pulang kampung ke tanah kelahiranya Manisa, Sidrap ikut terhalang karena kemacetan. “Karena macet, saya dan keluarga terpaksa memutar kendaraan kemudian lewat Pinrang baru masuk ke Sidrap,” ujar Abdullah Sinring, pakar Psikolog UNM itu.
“Mau diapakan lagi, ini musibah kemanusiaan. Yang penting polisi tanggap mengatur arus kendaraan agar tak terlalu lama macet,” ujar Dandi salah seorang sopir di TKP.
Usai dievakuasi korban disemayamkan di rumah orangtuanya tak jauh dari Taman Wisata Datae. Besoknya, Senin (26/6). Jenazah suami-isteri (Sukri-Nursanti) dan dua anaknya (Susan dan Rifky) dimakamkan berderet pada satu liang lahat di Pekuburan Lagong Kecamatan Baranti Kab Sidrap (*)
Korban Tewas Kecelakaan Imbalannya Surga
Peristiwa lakalantas yang menelan 4 korban jiwa atau satu keluarga yang tewas habis di hari lebaran ,(25/6) lalu, hingga kini masih menjadi bahan pembincangan berbagai kalangan di daerah ini. Sementara pihak keluarga merasa sangat sedih, terpukul dan merasa kehilangan atas kepergian 1 rumpun keluarganya 4 orang sekaligus (suami-isteri dan 2 anaknya) secara tragis dan menyedihkan. Bahkan pihak keluarga hampir hilang kendali. Kendati demikian, kesedihan jajaran keluarga kini mulai reda dan kembali menyadari bahwa musibah itu sudah merupakan suratan takdir yang tak dapat dielakkan.
Sejumlah agamawan dan udztas yang dimintai pandangannya tentang peristiwa ini pada intinya melihat bahwa kejadian ini sudah merupakan ketentuan Tuhan. Drs H Ahyaruddin Hakim, dosen STISIP Muhammadiyah Kab Sidrap mengatakan, peristiwa kecelakaan yang menelan korban satu keluarga itu hendaknya dipetik hikmahnya. Menurut udstaz yang juga mantan anggota DPRD tersebut, korban kecelakaan ketika hendak bersilaturahim di hari fitri itu termasuk ibadah. Lain halnya kalau orang hendak minum atau narkoba lantas mendapat kecelakaan itu bukan ibadah.
Untuk itulah, Ahyaruddin Hakim yang juga mantan Pimpinan Daerah Muhamadiyah Kab Sidrap tersebut meminta kepada pihak keluarga yang ditinggalkan meyakini sepenuhnya bahwa segala sesuatunya itu sudah ditentukan Allah SWT. Oleh karena itu, urainya, agar keluarga yang ditinggalkan tetap bersyukur dan bersabar sebab dengan bersyukur dan bersabar insya Allah akan mendapat rahmat Allah. Pihak keluarga, lanjutnya, tidak perlu kuatir sebab para korban tewas tersebut sahid yang menunggu surga. ”Makanya, begitu saya baca di facebook, saya langsung mendoakan korban, jadi jajaran keluarga dan handai-tolan korban agar banyak-ba nyak berdoa untuk para korban”, ujar uztads yang dikenal vokal menyuarakan kebenaran itu.
Pesan senada diungkapkan Udztas H. Muh Nasir Cumba, Sekretaris Safari Berjamaah Kab Sidrap. Dikatakannya, suami-isteri dan dua anaknya yang tewas kecelakaan di hari fitri itu masuk surga. Ustads Nasir menggambarkan bahwa seandainya keluarga yang ditinggalkan dapat melihat keadaan korban kecelakaan setelah tewas, maka keluarga akan melihat mereka nyaman di alam sana.
“Hanya saja, kita dan keluarga yang ditinggalkan, hanya melihat peristiwanya tragis, menyedihkan sehingga kita merasa ibah dan terpukul dengan peristiwa itu padahal mereka nyaman di sana,” hematnya.
Bagi kaum muslim, lanjutnya, musibah itu sebenarnya merupakan cobaan sedangkan pihak lain bisa jadi laknat Tuhan YMK. Karena merupakan ujian dan cobaan, urainya, maka keluarga yang ditinggalkan diuji apakah mereka mampu untuk bersabar dan bersabar sebesar apapun musibah yang menimpahnya. Menurut udztas Nasir yang dikenal dengan gaya humorisnya ini, ketika kita bersabar menerima cobaan, maka berdasarkan Al Qur’an dan Hadist Allah SWT menjanjikan balasan berupa kebaikan yang teramat besar dan hanya Tuhan yang tahu dan setelah mendapatkan kebaikan maka akhirnya mendapatkan pahala dan amal kebajikan.
”Janji Allah itu pasti, lain halnya kalau manusia yang berjanji relatif, bisa jadi dipenuhi dan bisa tidak, tapi jika Allah yang berjanji itu pasti,” tegasnya berulang-ulang.
Pesan senada diungkapkan pula 2 orang udztas yang dihubungi melalui ponselnya di Makassar. Al Ustadzs Andi Hadi Ibrahim Baso, SS, MA, Ketua Ikatan Dakwah Islamiyah Kota Makassar pada intinya mengatakan, semoga musibah yang menimpah keluarga tersebut dapat segera terselesaikan dengan baik. Menurutnya, musibah yang menewaskan 4 orang sekaligus atau suami-isteri dan 2 orang anaknya tersebut merupakan ujian dari Allah SWT. Oleh karenanya pihak keluarga yang ditinggalkan hendaknya bersabar menerima ujian ini.
Sementara Udztas Haidir, Imam Masjid Bandara Sultan Hasanuddin Makassar mengatakan, mati karena kecelakaan seperti itu imbalannya adalah surga. “Ada dalilnya yang menjami itu, bahwa kalau orang mati tabrakan, mati tenggelam, mati terbakar maka korbannya masuk surga,” tandasnya. Imam muda yang dikenal bersuara merdu dan fasih ketika melantumkan ayat-ayat suci Al qur’an ini juga berpesan kepada jajaran keluarga yang ditinggalkan agar tetap tabah dan bersabar menghadapi cobaan ini. (*)
Semasa Hidup Nursanti pernah Minta Pisah dari Keluarga
Hari itu, tak pernah terbayangkan kalau Sukri (suami) dan Nursanti (isteri Sukri) beserta anak sulungnya Susan (wanita) dan anak bungsunya Rifky (laki-laki), harus tewas bersamaan satu keluarga di hari fitri. Ada selintas cerita lain di balik peristiwa naas yang menimpa pasangan muda yang dikenal hidup bahagia itu.
Adalah Nursanti, kelahiran tahun 1979 itu adalah seorang guru sekolah dasar, tepatnya guru SD Negeri 2 Lainungan Kec Watangpulu Kab Sidrap yang bertempat tinggal Kompleks Perumahan SD tersebut. Ibu muda yang dikenal taat beragama itu merupakan anak ke-6 dari 7 bersaudara dari ayahnya almarhum Puang Bulang dan ibunya bernama I Tima, (70), masih hidup). Lantaran suami dan 2 anaknya satu nasib, tewas bersamanya, maka keluarga dekat yang ditinggalkan adalah, ibunya kandunya bernama I Tima , 5 orang kandungnya masing-masing bernama Ramlah, Safri, Lallang, Hasnah, Eta dan Cenni.
Abd Hafid, Kepala Desa Carawali Kec Watangpulu yang dimintai keterangannya menggambarkan sekilas bahwa Nursanti adalah sosok wanita yang baik budi pekertinya dan taat beragama sejak usia muda. “Nursanti itu wanita yang moralnya baik, saleha dan dia kader IRM (Ikatan Remaja Muhammadiyah) yang patuh,” ujar Hafid, Kades yang juga mantan Instruktur IRM.
Pihak keluarga di rumah duka mengungkapkan bahwa pada hari lebaran lalu, suaminya Sukri, Nursanti, 2 anaknya Susan dan Rifky berpakaian seragam hitam-hitam. Ada pihak yang menanggapi bahwa pakaian seragam itu merupakan tanda-tanda bahwa ia bakal senasib mati bersama. Sementara, sejumlah anggota keluarga mengatakan seamasa hidupnya Nursanti dan keluarganya memang suka berkostum seragam satu keluarga dan pakaian hitam-hitam itu memang merupakan stile trend masa kini yang mencirikan ketaatan bergama.
Yang unik, sebagaimana diungkapkan saudara kandungnya, Ramlah dan Hasnah (I Senna) bahwa Nursanti semasa hidup, belum lama ini pernah memberikan pernyataan mengejutkan. Seperti diketahui, kakaknya Ramlah, akan melangsungkan pesta pernikahan seorang putranya 16 Juli 2017 mendatang. Nursanti mengatakan tidak akan menghadiri pesta pernikahan itu karena akan keluar dan akan memisahkan diri dari komunitas keluarganya. “Mungkin saya tidak menghadiri pesta pernikhan karena saya akan keluar dari kelompok keluarga,” ujar Nursanti nada berkelakar sembari tertawa sebagaimana diungkapkan Ramlah dan Senna, kakaknya.
Kendati Nursanti ketika itu hanya berguyon, namun setelah Nursanti ditimpah musibah kecelakaan yang merenggut nyawanya bersama suami dan anak-anaknya, pernyataannya semasa hidup itu ternyata benar adanya. Oleh karenanya, pernyataan Nursanti ketika tersebut dinilai sebagai tanda-tanda dan firasat bahwa ia dan keluarganya akan menemui ajal dan berpulang ke rahmatullah sebelum pesta pernikahan keponakannya. Disamping itu, Pernyataan Nursanti semasa hidup tersebut seakan-akan mohon pamit kepada jajaran keluarganya sebelum menghadap keharibaan Allah SWT.
Kepergian Nursanti bersama suaminya Sukri dan 2 orang anaknya, Susan dan Rifky karena bertabrakan dengan bus memang amat memilukan dan meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Bahkan, tragedi kemanusiaan ini mengundang ibah dan simpati berbagai kalangan sehingga pada prosesi pemakaman sehari setelah kejadiaan, Senin (26/6) lalu, lokasi pemakaman di Pekuburan Lagong Simae Kel Duampanua Kec Baranti Sidrap dipadati sanak- keluarga dan khalayak yang ingin menyaksikan langsung peristiwa yang terbilang langka itu. (*)
