MAMUJU, BKM — Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulbar, Suntono SE, MSi memaparkan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi di wilayah Provinsi Sulbar. Berdasarkan hasil survei pada harga konsumen dari 82 kota di Indonesia yang menjadi sampel pada bulan Juni 2017, sebanyak 79 kota mengalami inflasi.
Angka inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Tual sebesar 4,48 persen. Sedangkan untuk di Mamuju, inflasi terjadi karena adanya peningkatan harga yang ditunjukkan pada enam kelompok, di antaranya kelompok makanan jadi, rokok, kelompok perumahan, air, listrik, dan gas.
Sementara untuk kelompok kesehatan, relatif stabil dan tidak mengalami perubahan. Dengan melihat dari tingkat perubahan indeks tahun kalender Mamuju pada Juni 2017, mengalami inflasi sekitar 2,71 persen. Jauh berbeda dari periode yang sama tahun 2016. Dimana, angka inflasi di Mamuju mencapai 4,19 persen.
Untuk kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, pada bulan Juni 2017 ini mengalami inflasi sebesar 0,42 persen dengan IHK 119,63. Ini menunjukkan adanya peningkatan indeks dengan membandingkan pada bulan Mei 2017 dengan IHK 119,13.
Maka dari empat sub kelompok, terdapat satu kelompok mengalami deflasi, yakni pada sub kelompok transportasi sebesar 0,59 persen. Khusus di 11 kota di Pulau Sulawesi, kata Suntono, inflasi tertinggi terjadi di Kendari dan terendah di Palu yang hanya 0,76 persen. Sedangkan inflasi di Kabupaten Mamuju menempati peringkat sembilan dari sebelas kota yang ada.
Lanjut Suntono mengatakan, untuk perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni 2017 di Sulbar mencapai sebesar 104,65. Turun sekitar 0,92 persen dibandingkan pada NTP Mei 2017 sebesar 105,65 persen.
”Komoditi yang menjadi penyumbang inflasi di Mamuju adalah ikan cakalang dan kelompok bumbu-bumbuan, seperti cabe merah” kata Suntono. (ala/mir/c)
Harga Meningkat Pengaruhi Inflasi di Mamuju
