PANGKEP, BKM — Hingga Kamis (6/7), empat korban tenggelamnya kapal ambulans di Perairan Pulau Samatellu, Desa Mattirowalie, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Pangkep belum juga ditemukan. Tim BNPB, BPBD, Satuan Polisi Air masih terus melakukan pencarian. Keempat korban yang hilang itu yakni Hamka, Haikal, Abd Rahman dan Ansar.
Sementara 11 orang penumpang telah ditemukan dalam keadaan selamat. Masing-masing Edi, Santi, Raodah, Aliyah, Fattan (juru mudi kapal), Irma, Amirullah, Andi, Andi Rahim, Mustakim dan Syamsuriyadi.
Nasib tragis dialami dua keluarga dalam kejadian ini. Yakni Amirullah yang berdomisili di Jalan Flamboyan, dan Sukirman yang bertempat tinggal di Kompleks Perumahan Haji Rako. Sanak famili mereka menjadi korban pada peristiwa tenggelamnya perahu jolloro yang dijadikan ambulans desa, Rabu (5/7) pukul 15.00 Wita.
Enam penumpang meninggal dunia. Dua orang keluarga Amirullah yang ditemukan dalam kondisi tak bernyawa yakni Hj Ramlah (istri) dan Mulianti (anak). Sementara satu anaknya yang lain, Muliansar (16) belum ditemukan.
Hal serupa menimpa keluarga Ruskiman yang ikut dalam rombongan ini. Istrinya Hasmawati (40) dan anaknya Fausiah (16) ikut tenggelam dan meninggal. Sedang anak bungsunya, Haikal (9) belum ditemukan. Seorang adik Ruskiman juga tewas dalam insiden kecelakaan laut ini.
Seluruh korban merupakan satu rombongan pulang dari Pulau Samatellu tujuan dermaga Maccini Baji, Pangkep. Mereka baru saja usai menghadiri hajatan pernikahan Syam, Kepala Desa Mattirowalie di Pulau Samatellu.
Suasana duka menyelimuti keluarga Amirullah kala BKM bertandang ke kediamannya, kemarin. Ia tampak terpukul dan teramat sedih ditinggal istri dan anaknya.
”Kami kehilangan tiga orang. Istri dan dua anakku,” tuturnya sambil berusaha tegas.
Dijelaskan Amirullah, putrinya Mulianti dalam waktu dekat akan menyelesaikan studi profesinya sebagai apoteker di Unhas. Namun Tuhan berkehendak lain. Calon apoteker itu menemui ajal dalam sebuah peristiwa kecelakaan laut. Sementara Muliansar yang belum ditemukan, baru naik kelas XI SMA Negeri 1 Pangkajene.
Amirullah yang silih berganti menemui pelayat, kemudian menceritakan peristiwa yang dipastikan merenggut dua nyawa keluarganya. Dia ke Pulau Samatellu bersama keluarga berjumlah enam orang.
”Mulyadi, anak saya itu paling terpukul. Karena dia yang berusaha terus menolong ibu dan kedua adiknya. Namun ketiganya tak terselamatkan. Mulyadi itu sempat menyodorkan papan kepada ibu dan kedua adiknya. Namun nasib berkata lain, istri dan satu anakku ditemukan tewas. Sementara Muliansar belum ditemukan,” tuturnya sedih.
Pegawai Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Pangkep ini mengaku tidak punya firasat apapun, jika dirinya mesti kehilangan tiga orang keluarga yang begitu sangat dicintainya. “Kejadian ini sungguh di luar dugaan. Semuanya sudah menjadi ketentuan Allah SWT,” ujarnya pasrah.
Amirullah juga menjelaskan, sebelum berangkat ke pulau, dirinya sempat mendengar percakapan telepon antara anaknya Mulianti dengan teman kuliahnya. ”Anak saya bilang ke temannya, dia mau pergi jauh. Setelah itu, saya tidak dengar lagi suaranya dan apa kelanjutan yang dibicarakan,” kenangnya.
Usai dari rumah Amirullah, BKM mendatangi kediaman Ruskiman di Kompleks Perumahan Haji Rako. Rumah ini terlihat kosong. Karena jenazah istri dan anak Ruskiman langsung dibawa ke kampungnya di Parenreng, Kecamatan Segeri.
Seorang tetangga Amirullah, Andi Bangsawan menuturkan, jarak tempuh ke Parenreng sekitar 30 kilometer. ”Hampir semua tetangga di sini ke Parenreng untuk melayat,” ujarnya.
Bangsawan kemudian menceritakan kebaikan hati dari keluarga Ruskiman. ”Kami ini baru lima bulan bertetangga, tetapi sangat merasakan keluarga Pak Ruskiman sudah lebih dari keluarga sendiri. Anak bayiku saja kalau didengar menangis, ibu Hasmawati, istri Pak Ruskiman dan anaknya langsung datang. Biasa juga meminta supaya di bawa ke rumahnya,” terang Andi Bangsawan.
Menurutnya, Hasmawati memiliki jiwa yang suka menolong. Karakter yang sama juga ada pada suami serta anak-anaknya. ”Ibu (Hasmawati) panutan di kompleks perumahan ini. Mulai dari majelis taklim hingga arisan ibu-ibu kompleks selalu dilaksanakan di rumahnya. Pokoknya warga di sini kehilangan atas kepergian almarhumah dan anaknya,” tandasnya.
Menyusul tragedi ini, Bupati Pangkep Syamsuddin Hamid turun langsung memantau proses pencarian korban. Ia mendatangi posko yang didirikan di dermaga Maccini Baji.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pangkep, Herman yang berusaha dihubungi tidak berhasil. Menurut salah seorang stafnya, Kurnia yang baru saja kembali dari posko pencarian korban di dermaga Maccini Baji memberi penjelasan.
”Pak Herman memang agak sulit dihubungi melalui handphone, karena lebih banyak di atas kapal di tengah laut. Karena selalu ikut dengan tim pencari korban,” ujarnya. (udi/rus/b)
Ditelepon Teman Kuliahnya, Calon Apoteker Bilang Mau Pergi Jauh
