WALAUPUN hidup dalam keluarga dengan tingkat ekonomi rendah, namun Agus memiliki keinginan kuat untuk sukses. Ia bercita-cita tinggi, menjadi seorang polisi.
Laporan: NUGROHO
Diusianya yang masih 14 tahun, semangat menggubah kehidupan keluarganya telah ada pada dirinya.
Memang sampai sejauh ini yang ia bisa lakukan untuk keluarganya adalah membantu memulung. Walaupun penghasilannya tak seberapa, namun setidaknya ia bisa membeli barang-barang kebutuhannya dengan uang yang dihasilkan sendiri.
Agus adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Malangnya, tiga dari empat kakaknya adalah seorang pemulung. Sedangkan kakaknya yang satu lagi bekerja sebagai sopir mobil pengangkut sampah.
Jika ada kesempatan, terkadang Agus membantu kakaknya menemani mengangkut sampah saat malam hari. Jika diikutkan, ia biasa ditugaskan di dalam bak sampah pada mobil tersebut untuk mengatur penyusunan sampah. “ Kalau saya biasa di atas ja, atur-atur sampah supaya bisa muat banyak,” kata Agus.
Dalam kesehariannya memulung setiap pulang dari sekolah, Agus bukannya tanpa keluhan. Ia kerap merasa lelah saat harus memulung. Wajar saja, berkarung-karung sampah harus ia pikul setiap hari demi sebuah penghasilan.
Namun dibalik keluhannya, Agus tetap tak mau berhenti memulung. Ia sadar betul, jika berhenti memulung, maka ia tak akan bisa lagi membeli barang ataupun alat-alat sekolah kebutuhannya yang ia butuhkan. Maka dari itu, dengan harapan besar di masa yang akan datang, Agus tetap menjadi seorang pemulung.
Sampah yang berhasil ia dapat biasanya akan dikumpulkan terlebih dahulu dirumahnya. Jika telah terkumpul cukup banyak, barulah oleh ayahnya di bawa ke daerah kawasan KIMA. Di KIMA tersebut, sampah-sampahnya bernilai uang.
Pernah suatu kejadian, ia dan keluarganya mendapat musibah besar. Suatu hari, kebakaran terjadi di rumah-rumah sekitar kawasan TPA Tamangapa Antang. Sekitar tujuh rumah saat itu yang terbakar.
Naasnya, salah satu rumah yang terbakar saat itu adalah rumah milik keluarga Agus. Rumahnya terbakar habis. Semua barangnya lenyap dimakan api. “ Rumahku juga yang terbakar itu hari, menangis ki bapak sama mamaku karena ndak ada yang tersisa, terbakar semua,” kenang Agus.
Saat itu pun Agus dan keluarga mengungsi ke rumah tetangga yang selamat dari musibah kebakaran. Hampir mengalami putus asa, Pemerintahpun dengan segera memberi bantuan kepada keluarganya. Sedikit demi sedikit, ayahnya membangun kembali rumah tersebut. Peralatan rumah tangga pun sedikit-demi sedikit di beli dari bantuan tersebut dan dari hasil memulung setiap hari. Akhirnya, rutinitasnyapun berjalan seperti biasa sampai pada saat ini.
Dari sosok Agus, bisa diambil sedikit pelajaran jika setiap orang tidak boleh menyerah akan keadaan seperti apapun. Terus berjuang walaupun dalam keterbatasan. Dan bercita-cita tinggilah sampai cita-cita tersebut terwujud walaupun saat ini masih sebagai seorang pemulung. Namun yang paling penting pesan dari orang tua agus adalah harus tetap mengutamakan sekolah. (nug/war/b)
