SEMUA orang pasti pernah mengalami masa sulit dalam hidupnya. Salah satunya soal keuangan serta masalah lainnya. Ada yang kemudian memilih pasrah dengan kondisi yang ada. Tapi tidak sedikit diantaranya yang memilih berjuang untuk membalikkan keadaan dan memperbaiki nasibnya.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
PADA sebuah pagi di lobby sebuah hotel bilangan Jalan Dr Ratulangi, Makassar. Seorang wanita tampak anggun mengenakan jilbab berwarna pink dipadu dress berwarna hitam.
Ia mengatakan sedang menunggu rekannya yang berjanji akan menemuinya. Mungkin saja yang dimaksud adalah rekan bisnisnya.
Namanya Nurfadilah. Dia adalah pemilik Big School Centre Makassar. Sebuah bimbingan belajar yang dikhususkan untuk para siswa.
Orangnya ramah. Saat diwawancara, kerap kali ia menyunggingkan senyuman. Diapun tak sungkan berbagi cerita tentang bagaimana dirinya sampai bisa memiliki perusahaan sendiri.
Dilah, panggilan akrab Nurfadilah adalah anak pertama dari empat bersaudara. Lahir di Kuala Lumpur, Malaysia. Karena orang tuanya bekerja di Negeri Jiran tersebut. Ayahnya bernama Alimuddin. Ibunya Sitti Nur. Walupun lahir di Kuala Lumpur, namun ia dan keluarganya berasal dari Polewali, Sulawesi Barat.
Ia pernah bersekolah di Kuala Lumpur, sebelum akhirnya pindah ke Sulbar saat duduk di bangku kelas 5 SD. Di Indonesia, ia bersekolah di SD 012 Karama, SMP 5 Tinambung, dan SMK PGRI 1 Makassar. Kemudian kuliah di jurusan Manajeman Universitas Negeri Makassar (UNM) angkatan 2013 dengan bantuan Beasiswa Bidikmisi.
Dari cerita yang dikisahkannya, terungkap jika Dilah pernah mengalami masa sulit kala masa kecil. Mulai dari masalah ekonomi karena kebangkrutan orang tuanya, bencana alam yang menimpanya, hingga terpaksa harus diasuh oleh tantenya.
Ketika Dilah masih kecil, ayahnya yang bekerja di Malaysia pernah mengalami kebangkrutan. Saat itu, kata Dilah, ayahnya ditipu oleh temannya sendiri. Dilah tak bisa menceritakannya secara detil karena saat itu dirinya masih amat kecil. Namun saat itulah kehidupan ekonominya benar-benar berantakan.
Selain mengalami kebangkrutan, keluarga Dilah juga mengalami musibah lain saat itu. Rumah yang di tempatinya di Malaysia terkena longsor. Dari kejadian itu pula, ibu Dilah harus pulang kampung ke Indonesia, tepatnya di Mamuju.
Dilah yang sebelumnya bersekolah di Malaysia, juga harus pindah ke Mamuju bersama adik-adiknya saat masih kelas 5 SD. Mereka pun menetap di sana, terpisah dari ayah Dilah yang tetap tinggal di Malaysia. Sejak di Polewali, Dilah harus rela tinggal dan diasuh oleh tantenya karena kesulitan ibunya untuk menghidupi Dilah dan adik-adiknya. “Ibu saya harus menanggung kami seorang diri saat itu,” kenang Dilah.
Saat memasuki masa SMK, Dilah pindah ke Makassar dan diasuh lagi oleh tantenya yang tinggal di kota ini. Di rumah tantenya inilah ia harus belajar mandiri. Oleh tantenya, ia diajarkan berjualan.
“Tanteku itu kan ada warungnya. Saya diajarkan jualan disitu. Selain itu, dia juga jualan sepatu. Saya pun juga belajar jualan itu,” kata Dilah. (*/rus/b)
