JIKA melintas di sepanjang Jalan Danau Tanjung Bunga Makassar, pemandangan yang asri dan indah akan terlihat di sebagian ruas jalannya. Sederet tanaman hias berjejer di sebagian ruas jalan tersebut seolah membentuk sebuah taman.
Laporan: NUGROHO
Namun jangan salah dulu, tanaman hias yang berjejer tersebut diperjualbelikan. Apalagi, di sepanjang jalan tersebut, berjejer banyak penjual tanaman hias.
Mulai dengan harga yang cukup murah, sampai yang berharga mahal. Rapi sekali jejerannya, teratur, bersih, dan terlihat cukup indah. Para pedagang di sana terlihat cukup paham bagaimana menjaga kebersihan dan keindahan di tempat tersebut sehingga mampu menarik pelanggannya.
Salah satu pedagang tanaman hias, Andi Oddang tak sungkan menceritakan pengalamannya selama berdagang di sana. Mulai dari nyamannya berjualan di tempat yang cukup sejuk, sampai seringnya mengalami kecurian.
Saat ditemui, pemilik “Yoga Flower” ini terlihat santai dengan mengenakan kaos berwarna coklat dan celana jeans panjang.
Bersama istri dan anaknya, Ia menikmati suasana berjualan dengan sembari membakar ikan menyiapkan makan siang. Walaupun matahari terik, namun di tempatnya terasa sangat sejuk.
Oddang, sapaan akrab Andi Oddang sudah memulai usahanya berdagang tanaman hias sejak 20 tahun lalu. Ia merintis sendiri tempat tersebut diatas lahan pemerintah. Oddang mengatakan jika pemerintah memang meminjamkannya lahan untuk dikelola. “Ya tanah pemerintah ini, cuma kita jaga saja kebersihannya,” kata Oddang sambil mengipas-ngipas ikan yang dibakarnya.
Tanaman yang dijualpun bermacam-macam. Mulai dari jenis tanaman perdu sampai jenis tanaman hias yang tergolong elit. Tanaman perdu yang dijual adalah tanaman hias yang ukuran kecil seperti wadelia, kenikir, ajeran, dan lainnya. Tanaman ini Oddang jual sekitar Rp3.000. Sedangkan tanaman hias lain yang leih besar semacam anggrek, biasa dijual Oddang sampai Rp1 juta.
Oddang mengatakan, jenis tanaman yang paling banyak dicari oleh pelanggannya adalah tanaman-tanaman perdu. Selain murah, tanaman ini juga biasa dijadikan sebagai hiasan di halaman-halaman rumah. “Paling banyak tanaman perdu, biasa orang-orang kantoran itu beli katanya biasa untuk dikantornya,” ucap Oddang.
Sampai sejauh ini pelanggan Oddang sudah lumayan banyak. Bukan Cuma orang-orang dari Makassar, namun banyak juga dari luar daerah bahkan sampai di Papua. Ia mengaku mendapatkan pelanggan tersebut karena pernah mengunjungi tempatnya. “Pelangganku banyak dari Bone, Pare-Pare, bahkan pernah sampai Papua. Yang sampai Papua ya kita packing sendiri terus dikirim kesana,” jelas Oddang.
Soal pendapatan, Oddang mengatakan jika hal tersebut tidak menentu. Terkadang kalau ada yang membeli tanaman anggreknya, maka penghasilannya akan lebih tinggi. Namun jika di hari-hari biasa, maka tak kurang Rp100 ribu per hari bisa ia dapatkan. Penghasilan tersebut pun baginya sudah cukup untuk menghidupi keluarganya.
Hal yang paling tak mengenakkan bagi Oddang selama berdagang adalah seringnya ia mengalami kecurian. Wajar saja, waktu ia berdagang adalah pagi sampai menjelang maghrib. Saat malam tiba, maka tanaman-tanamannya dibiarkan di tempat tersebut tanpa ada penjagaan.
Pernah suatu hari bahkan Oddang mengalami kecurian sampai 100 buah tanaman. Hal yang membuatnya sedikit syok kala itu. Namun Oddang seakan tak mau ambil pusing. Ia hanya mengikhlaskan saja kejadian tersebut. “Sering kecurian, pernah bahkan sampai 100, tapi untung tanaman perdu ji yang dicuri. Jadi ya saya ikhlaskan saja, mungkin dia lagi butuh bunga” ucap Oddang sambil tertawa kecil.
Oddang pun tidak pernah melaporkannya kepada pihak berwajib karena sampai sejauh ini tidak ada yang pernah mencuri tanaman-tanaman elitnya. Sampai sejauh ini pun, Oddang belum kepikiran untuk menyewa jasa keamanan.(nug/war/b)
