PRESTASI bukan hanya sebuah label. Namun lebih daripada itu. Prestasi adalah simbol dari kerja keras, ketekunan belajar, dan sebuah doa.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SEJATINYA, sebuah prestasi bukanlah sesuatu yang dicapai dengan instan. Butuh perjuangan besar untuk bisa meraihnya. Karena tidak mudah menjadi seseorang yang berbeda dibanding orang lain dari sisi positif.
Pada sebuah sebuah pagi di kantor Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sulawesi Selatan. Terlihat ratusan orang yang ambil bagian dalam kegiatan pertandingan olahraga dan seni, yang merupakan rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-XXIV tingkat Provinsi Sulsel.
Salah satu yang dilombakan adalah yel-yel antarorganisasi perangkat daerah (OPD) KB. Diantara kerumunan banyak orang, terlihat ada dua orang yang memandu lomba yel-yel tersebut. Satu pria dan satu wanita. Keduanya mengenakan selempang berwarna hitam dengan tulisan warna kuning; Juara I Duta Genre Indonesia 2016
Ternyata, mereka adalah Duta Genre (Generasi Berencana) asal Sulsel yang telah berhasil meraih juara pertama dalam ajang pemilihan pada tingkat nasional di 2016 lalu. Jawara Duta Genre nasional laki-laki tersebut bernama Muhammad Auzan Haq. Karib disapa Auzan.
Usai melaksanakan tugas yang diamanahkan kepadanya, Auzan tak sungkan berbagi pengalamannya dengan penulis. Ia bercerita banyak tentang apa itu Duta Genre, dan bagaimana ia akhirnya bisa keluar sebagai juara nasional.
Saat ini Auzan tengah menempuh pendidikan di Jurusan Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin angkatan 2015. Ia bermukim di Jalan Mangga I nomor 317 Kabupaten Gowa. Anak kedua dari empat bersaudara pasangan suami istri Asnawi Haduka dan Nurhaedah.
Dijelaskan Auzan, Genre merupakan sebuah program BKKBN yang ditujukan bagi generasi muda. Menjadi wadah untuk menciptakan dan melahirkan generasi berkualitas.
Penyebarluasan program Genre melalui dua wadah, yaitu Pusat Informasi dan Konseling (PIK) remaja dan Bina Keluarga Remaja (BKR).
PIK remaja bergerak di ranah remaja. Sedangkan BKR sendiri sasarannya adalah keluarga yang memiliki remaja.
“Jadi PIK ini dari, oleh, dan untuk remaja. Sedangkan BKR sasarannya keluarga. Kita tahu keluarga adalah madrasah pertama bagi remaja, sehingga juga perlu dibina keluarganya,” kata Auzan.
Awalnya, Auzan mengikuti lomba tentang kependudukan yang dilaksanakan BKKBN Sulsel kala masih duduk di bangku SMA. Ia juga tercatat pernah mengikuti lomba pidato kependudukan se-Sulsel saat kuliah.
Kebetulan, waktu itu ia sekamar dengan Duta Genre 2014. Auzanpun berdiskusi banyak saat itu, hingga pada akhirnya ia diajak untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Genre Sulsel.
Akhirnya Auzan pun bergabung dengan kegiatan-kegiatan Genre. Usai mengikuti berbagai kegiatannya, Auzan kemudian memiliki cita-cita untuk menjadi Duta Genre pula.
Ia mulai mencari-cari informasi lebih jauh mengenai Genre. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain informasi mengenai Genre yang didapat, Auzan juga memeroleh kabar tentang berbagai kegiatan PIK remaja. Saat itu pulalah ia lalu bergabung dengan PIK Remaja Unhas.
Dari situ lah ia mulai mendapat informasi tentang pendaftaran Duta Genre Indonesia 2016. Auzan mendaftar untuk perwakilan Makassar. Seleksinya cukup ketat, karena harus bersaing dengan kandidat lainnya dari seluruh wilayah di Sulsel. Sampai pada akhirnya terpilihlah Auzan sebagai Duta Genre Sulsel yang mewakili Provinsi Sulsel untuk berlaga di tingkat nasional.
Pemilihan Duta Genre nasional dilaksanakan di Bogor pada 1 November 2016. Auzan harus bersaing dengan 68 peserta lain dari seluruh Indonesia. Rangkaian tes yang cukup panjang membuat pemilihan ini menjadi sangat kompetitif.
“Banyak yang masuk kategori penilaian. Mulai dari berkas, penilaian saat kegiatan, keaktifan, sampai perkembangan media sosial masing-masing peserta. Tapi Alhamdulillah, dari semua itu saya berhasil juara satu,” tuturnya.
Kegiatan yang diikuti menjadi sangat berkesan bagi Auzan. Baginya, bertemu dengan remaja-remaja yang ada di perkampungan, pedesaan, jalanan, dan di lapas, maupun yang menyandang disabilitas selama kegiatan, adalah hal yang tak terlupakan dalam hidupnya.
“Di balik remaja yang saat ini cenderung apatis, Duta Genre memiliki kepedulian dan aspek sosial yang bagus,” ucap Auzan.
Auzan berharap semoga Duta Genre tetap mengembangkan eksistensinya. “Program Genre ini tidak hanya dikhususkan bagi mereka yang menjadi Duta Genre. Semua komunitas di Makassar pun bisa menerapkan program Genre. Karena ada begitu banyak pembelajaran di dalamnya,” tutup Auzan. (*/rus/b)
