Site icon Berita Kota Makassar

Sindir Menyindir tak Produktif, Bisa Kurangi Daya Tarik

SINDIRAN terhadap pemerintahan Gubernur SYL dan Wagub Agus AN melalui video, disebut mirip dengan yang dilontarkan Nurdin Halid kepada SYL dengan kalimat Komandan serta Ichsan Yasin Limpo dengan sebutan Punggawa.
Dosen politik Universitas Bosowa, Arief Wicaksono menilai jika sindiran merupakan hal biasa dalam kontestasi apapun.
“Menurut saya, sindiran justru membuat kita lebih sehat dalam berstrategi dan menerapkan taktik. Kesan yang tercipta itu, nantinya justru baik bagi masing-masing tim cagub sebagai ruang untuk mempelajari kekuatan calon lawannya lebih jauh,” jelas Arief, Selasa sore (18/7)
Dalam situasi seperti ini, kata dia, kadang bukan hanya sindiran yang terlihat. Tapi sudah masuk negative campaign, bahkan fitnah.
”Nah, level intensitas dan frekwensinya saya kira yang perlu dijaga oleh penyelenggara pemilu (KPU), meskipun belum masuk tahapan. Tapi tidaklah salah jika otoritas kepemiluan juga selalu mengingatkan calon kontestan dan timnya untuk selalu menjaga ketertiban umum dan keamanan bersama,” terangnya.
Dosen politik UIN Alauddin, Firdaus Muhammad menilai, saling sindir sulit dihindari. Karena pilgub merupakan ranah politik yang penuh persaingan.
Meski begitu, dia berharap agar para elit politik tidak menebar konflik dengan saling kritik yang bisa mempengaruhi loyalis mereka.
Pengamat politik, Syaifuddin Almugni menilai, sindir menyindir adalah bagian pelemahan opini terhadap objek yang disoroti. Sindir adalah bahasa politik, tentu berbeda dengan kiasan atau yang lainnya.
Terkait ‘perang terbuka’ dan saling serang dalam opini antara NH, IYL, AAN, dan NA adalah variasi kecil untuk mendinamisasikan gerak demokrasi politik di Sulsel menjelang Pilgub 2018 mendatang. “Sepanjang serang menyerang itu bukan benturan fisik, tapi lebih pada visi misi serta progres masa depan Sulsel. Karena NH, IYL, AAN, NA dan tokoh lainnya adalah investasi sosial bagi masyarakat Sulsel. Kita berharap semua dibangun dari konsep sipakatau dan sipakalabbi. Dari sinilah demokrasi Sulsel ditemukan,”jelas Syaifuddin.
Dosen politik Unismuh Makassar, Arqam Azikin menilai jika perang opini dalam pembentukan imej masing-masing balon gubernur memang tidak mungkin dihindari. Karena ada target politik masing-masing menaikkan tren posisi kesukaan masyarakat kepada setiap figur.
“Yang terpenting yakni apakah pembentukan opini tersebut memiliki data dan fakta. Bila ada parameternya, silakan dalam konteks memberitahu publik. Tapi kalau tidak faktual, justru akan menimbulkan risiko balik,” ujar Arqam.
Menurutnya, sindir menyindir tidak produktif serta akan mengurangi daya tariknya ke publik. Karena terkesan tidak mampu melakukan kerja-kerja politik menaikkan tren keterpilihannya di tengah-tengah masyarakat pemilih.
“Sebaiknya balon-balon gubernur menyibukkan diri dengan kinerja politik yang memberikan manfaat bagi rakyat, ketimbang meberi sindiran-sindiran yang sekadar mau menarik perhatian publik dan sama sekali tidak menjadi instrumen pendidikan politik bagi hampir 7 juta pemilih di Sulsel,” tandas Arqam. (rif)

Exit mobile version