Site icon Berita Kota Makassar

Jahe Didatangkan Langsung dari Daerah

TINGGINYA animo warga Makassar dan pendatang untuk menikmati minuman khas Kota Makassar, Sarabba membuat pengelola usaha Sarabba Putra Kembar di Jalan Sungai Cerekang mendatangkan langsung jahe dari daerah lain.

Laporan: ARIF AL QADRY

Jahe memang menjadi bumbu utama dalam membuat minuman sarabba, setelah gula merah dan santan.
Menurut Adi, pengelola Sarabba Putra Kembar, setiap hari, ia bersama keluarganya sebagai karyawan di warung milik tantenya itu secara bergantian pergi mengambil stok jahe di pasar-pasar tradisional. Jahe tersebut ia telah pesan di sejumlah daerah di Sulsel.
Sebenarnya sudah lama dirinya memiliki langganan khusus untuk membeli jahe. Dan tidak sulit bagi ia mendapatkan bahan-bahan tersebut. Sejak warung sarabba miliknya dibuka, dirinya sudah memiliki langganan mengambil jahe-jahe dari luar Kota Makassar. Tentunya dengan langsung memesan ke petani, harga jahe yang didapat jauh lebih murah ketika membeli jahe di pasar tradisional di Makassar.
“Jahe yang kita buat menjadi Sarabba kita datangkan langsung dari daerah. Memang sudah lama kita punya langganan dan itu sejak warung ini masih dikelola tante saya. Sekarang saya tinggal pesan saja,” sebutnya.
Menurut Adi kepada penulis, kepadatan pembeli setiap malam khususnya di Kamis malam dan Sabtu malam sering terlihat. Setiap malam, warung milik keluarganya mulai buka sejak pukul 18:30 sampai dengan pukul 01:00 dini hari.
” Kalau Sabtu malam biasanya tutup sampai jam dua pagi. Mengenai pengunjung yang paling banyak atau yang dominasi itu dari kalangan remaja,” sebutnya.
Warung Putra Kembar memulai bisnis sarabbanya tahun 2004 lalu. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau mulai dari Rp6 ribu untuk sarabba original, Rp8 ribu sarabba susu dan Rp12 ribu sarabba komplit telur plus susu. Untuk pisang goreng per porsinya dihargai Rp5 ribu yang tiap porsi ada tujuh buah pisang.
” Komposisi membuat sarabba itu biasa saja, tapi tetap ada juga racikan tambahan yang dapat membedakan sarabba miliknya dengan pemilik warung sarabba lainnya. Kebetulan warung ini milik keluarga ji juga, dan yang kerja disini keluarga ji semua tidak ada orang lain,” sebutnya.
Terkait penghasilan, ujar Adi, setiap hari hasil penjualan sarabba bisa mencapai Rp500 ribu sampai Rp600 ribu di hari biasa. Kalau Sabtu malam bisa mencapai jutaan rupiah dengan menghabiskan tiga panci besar sarabba.
” Jika diliterkan mencapai 15 liter. Sedangkan telur habis sampai 30 butir dan pisang sampai lima sisir,” katanya.
Merintis usaha kata Adi, tentu memiliki suka duka. Seperti harus begadang setiap hari serta memberikan pelayanan maksimal untuk pelanggan.
” Untuk menarik pelanggan, kami memperhatikan keinginan pelanggan seperti menyediakan televisi dan musik di warung. Selain itu, harga yang ditawarkan harus terjangkau,” tambahnya. (arf)

Exit mobile version