Site icon Berita Kota Makassar

Tak Gentar Meski Pangkas Rambut Modern Menggurita

BISNIS pangkas rambut modern semakin menggurita di Kota Makassar dan sekitarnya, apakah pangkas rambut pinggiran masih ada?.

Laporan: ARIF AL QADRY

Berada di ruas Jalan Tamalate I, Kecamatan Rappocini, tampak lapak berdinding tripleks ukuran kecil berdiri kokoh di bawah rindangan pohon. Penulis menjumpai Rahmat, pria berusia 32 tahun itu telah menekuni usaha cukur sejak era awal 2000-an.
Baginya, menjadi tukang cukur memang melelahkan. Meski tidak berpenghasilan besar, namun ia tetap sabar menjalani pekerjaan yang sudah digelutinya tersebut.

Penulis: ARIF AL QADRY

SIANG itu, sekitar pukul 09.00 Wita, Rahmat duduk-duduk santai di lokasi tempat kerjanya di Jalan Tamalate 1. Tatapannya menatap jauh ke arah orang yang lalu lalang, seakan mengharap kedatangan pelanggan yang ingin menggunakan jasanya.
Memang diakui perkembangan dunia usaha sangat pesat dan persaingan juga semakin tinggi. Banyak masyarakat membuat suatu usaha dalam bentuk apapun termasuk pelayanan jasa, seperti yang dilakoni Rahmat.
Sambil menikmati secangkir kopi pahit, Rahmat, sempat merapikan sendiri rambutnya. Ia mengaku rambut adalah mahkota kepala setiap manusia. Tidak terkecuali bagi kaum perempuan, para kaum pria juga dapat menata mahkota kepalanya agar dapat terlihat rapi dan menjadi simbol kepribadian serta karakter seseorang.
Apalagi saat ini, sudah begitu banyak model dan gaya rambut seperti model mohak, mandarin, dan jabrik yang kebanyakan model rambut tersebut dipakai oleh anak muda sekarang. Sedangkan model dan gaya rambut les pinggir, 3, 2, 1 yang dimana model rambut kepala di bagian atas 3 cm, tengah 2 cm dan pinggir 1 cm lebih banyak digunakan untuk pelanggan yang sudah berusia 40 hingga yang lanjut usia. “Saat ini sudah ada berbagai pilihan model dan gaya rambut. Tinggal bagaimana pelanggan menyesuaikan gaya rambut tersebut. Apalagi, sudah ada foto atau gambar model dan gaya rambut pria masa kini yang ditempelkan di dinding dengan ukuran yang cukup besar,” kata Rahmat.
Hampir satu jam Rahmat bersama penulis, muncul beberapa pelanggan untuk meminta Rahmat memperbaiki rambutnya. Tak bisa melayani secara keseluruhan, Rahmat meminta para pelanggan untuk antri dan menunggu giliran, bahkan menyerahkan sebagian ke teman sesama profesinya untuk mencukur para pelanggannya.
Masih banyaknya orang menggunakan jasa tukang cukur Madura menjadi indikator kalau tempat cukur Madura masih diminati dan dipercaya untuk memotong rambut. Selain harganya yang terjangkau, kualitas atau hasil dari pencukuran juga dinilai baik.
Alat yang digunakan para pemangkas rambut madura juga cukup lengkap. Mulai dari alat gunting potong, sasak, sisir, pisau hingga mesin pemotong rambut sebagai senjata andalan yang mampu membuat orang terlihat rapih.
Menurutnya, ia berprofesi sebagai tukang cukur dimulai tahun 2008 lalu. Ia-pun mengaku sama sekali tidak khawatir bersaing dengan tempat cukur modern yang lengkap dengan pembersih wajah atau Babershop, yang sampai saat ini cukup banyak di Kota Makassar.
“Saya tidak ragu dan takut dengan banyaknya usaha cukur yang lebih modern. Sebab yang mencukur di usaha cukur Madura adalah pelanggan dari kehidupan menengah ke bawah. Bahkan kalangan orang tua usia lanjut mengaku usaha cukur Madura adalah tempat potong rambut tradisional,” ujarnya. (arf)

Exit mobile version