Site icon Berita Kota Makassar

Sering Sakit Pinggang Jika Ikat Tali

KEMARIN, cuaca di Kota Makassar terlihat mendung. Salah seorang ibu yang usianya tidak muda lagi 65 tahun sedang memasang Bendera Merah Putih saat penulis menemuinya.

Laporan: ARIF AL QADRY

Sebulan jelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus. Hampir semua jalan protokol di Kota Makassar mulai ramai dengan pedagang musiman.
Merah putih, warna kain bendera itulah yang saat ini telah banyak terlihat dan ditemukan dimana-mana. Dan pedagang musimanpun sudah mulai berlomba-lomba mencari tempat berjualan yang startegis menjajakan aksesories HUT Kemerdekaan Indonesia seperti kain bendera, umbul-umbul hingga gantungan kunci.
Di Jalan AP Petta Rani, Hertasning Baru dan Ratulangi, pedagang musiman bendera menempati trotoar jalan, hingga membuat suasana di kawasan tersebut berubah menjadi ramai penuh warna.
Di Jalan Ratulangi misalnya, pedagang musiman sudah banyak mengisi pinggir trotoar jalan untuk berjualan, terutama di bawah pohon yang rindang. Selain di bawah pohon, halte bus juga menjadi sasaran bagi para pedagang berjualan.
Hadaeng (65), warga Jalan Onta Lama mengaku sudah lima tahun berjualan kain bendera merah putih serta pernak pernik hiasan. Tepat depan SMA Nasional, lokasi tersebut menjadi tempat pilihan berjualan oleh ibu tiga orang anak itu.
Sejak pukul 08:00, perempuan asli Makassar mulai meninggalkan rumahnya dengan membawa barang dagangannya. Setibanya di trotoar jalan depan SMA Nasional, Hadaeng bergegas mengikat kain bendera di pohon dan di pagar rumah. Selesai itu, tugas selanjutnya dengan memasang kain bendera di bambu yang sudah disiapkan.
Kondisi yang sudah cukup tua, ditambah penyakit pinggang yang sering kambuh, untuk dapat menyelesaikan semuanya membutuhkan waktu selama empat jam.
Setiap hari, Hadaeng hanya membawa sedikitnya 150 lembar kain bendera dan terhitung umbul-umbul. Kalau rezeki baik, kain bendera bisa laku terjual semuanya.
“Tidak menentu kalau jualan, kadang laku kadang tidak sama sekali laki. Tapi untung ini barang bukanji barang basi jadi sedikit kemungkinan bisa rugi. Paling sukur mi kalau bisa laku satu lembar satu hari,” sebutnya.
Sudah hampir satu minggu ini, dia mulai berjualan kain bendera dan rencananya hingga sampai 16 Agustus mendatang. Harga satu kain bendera yang ditawarkan terjangkau, ada Rp15 ribu untuk ukuran satu meter dan Rp50 ribu ukuran satu meter setengah dengan kualitas kain baik dan mengkilap. Sedangkan umubul-umbul dijualnya mulai dari harga Rp15 ribu ukuran tiga meter dan Rp45 ribu untuk ukuran empat meter.
Hingga pukul 17:00, kalau rezekinya baik, dirinya mampu membawa pulang uang hingga Rp150 ribu sampai Rp250 ribu. Dan ketika sepi, dia bahkan tidak dapat membawa uang sepeser pun.
“Saya jualan sampai jam 5 sore, dan itu sendiri ja saja. Pulangpa baru datang cucuku bantuka lipat kain bendera. Kalau hasilnya lumayan juga ji. Adami bisa saya pakai titupi biaya sehari-hari dan bagi sama cucu-cucuku,” akunya.
Bendera yang dijual Hadaeng merupakan barang titipan dari orang. Hasil penjualan dia bagi bersama pemilik modal. Misalkan saja, satu bendera dengan harga Rp50 ribu terjual, maka yang dia terima bersih sebesar Rp15 ribu saja. Dia berharap di tahun ini penjualan kain bendera lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Dimana di tahun lalu, dirinya mendapat uang hasil penjualan sebesar Rp2,5 juta bersih. Sedangkan uang modal barang titipan setiap minggu dibayar kepada pemilik modal.
“Biasanya tanggal 10 keatas sudah ramai mi pembeli baik perorang maupun untuk kantor. Mauji sama banyaknya orang yang beli untuk kantornya dan untuk pribadiya di depan rumahnya,” ujarnya.
Sebenarnya, sudah cukup lama dia bercita cita dapat memiliki modal sendiri membuka usaha jenis lain selain berjualan bendera yang ramai diwaktu tertentu saja. Namun jangankan untuk mengumpulkan modal, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sajapun cukup sulit.
“Kalau usaha dengan modal sendiri dari dulumi saya mau, tapi susah sekaliki cari modal. Tutupi kebutuhan sehari-hari saja saya masih susah bagaimanami kalau mau disimpan uang untuk modal. Apalagi kalau sudah lepas mi waktunya, tidak adami lagi kegiatanku,” sebutnya. (arf)

Exit mobile version