TAK bisa dipungkiri jika Kota Parepare kini telah jauh berubah dari sebelumnya. Di tangan Wali Kota Dr HM Taufan Pawe, begitu banyak yang telah dilakukannya. Tidak salah jika berbagai penghargaan diterima sebagai ganjaran dari kerja keras itu.
Laporan; Samiruddin
IDE cemerlang Taufan Pawe dituangkan dengan menggunakan teori telapak kaki. Konsep ini ternyata ampuh mewujudkan Kota Parepare seperti saat ini. Maju dan berkembang sesuai yang diharapkan masyarakat.
Berkat teori telapan kaki itu pula, wali kota berlatar belakang advokat itu didaulat menjadi narasumber di Institute Bank Indonesia. Kegiatan tersebut dihadiri 15 kepala daerah dari seluruh Indonesia.
Mengacu pada teori tersebut, sektor jasa di Kota Parepare mengalami peningkatan. Pendapatan asli daerah (PAD) naik secara drastis, dan mendapat penghargaan dari pemerintah pusat.
Meningkatnya sektor jasa ini juga berdampak pada berkembangnya usaha lain. Seperti kian banyaknya kafe, outlet hingga hotel. Permintaan masyarakat meningkat, karena banyaknya telapak kaki yang datang dari luar Kota Parepare.
Jadi, inti dari teori telapak kaki ini adalah bagaimana banyak telapak kaki manusia yang menginjak tanah Parepare. Dampaknya, PAD yang sebelumnya hanya Rp60 miliar, kini meningkat hingga mencapai angka Rp140 miliar.
Sebenarnya, tidak ada sumber baru atau kantong-kantor baru di sektor PAD. Peningkatan terjadi karena pemerintah mengoptimalkan sumber-sumber PAD yang sudah ada.
”Kita lihat dunia usaha sekarang begitu maju dan bisa membuka lapangan kerja. Karena itulah saya membangun Kota Parepare dengan mengandalkan teori telapak kaki,” kata Taufan Pawe.
Suami Hj Erna Rasyid Taufan ini selalu berpikir, bagaimana caranya agar bisa semakin banyak telapak kaki yang datang. Parepare bukan lagi sebagai kota transit, melainkan menjadi kota tujuan.
Karena itu, mesti ada kepedulian terhadap kepentingan masyarakat dengan membangun kota jasa dan niaga ini agar lebih maju lagi. Sebab Parepare tidak memiliki industri dengan cerobong asapnya. Begitu pula sawah yang luas serta sumber-sumber kekayaan alam lainnya. Parepare hanya memiliki laut, hingga kemudian menjadi kota jasa dan niaga.
Karena itulah, sebagai nakhoda, Taufan Pawe tidak pernah merasa tenang dan selalu berpikir melahirkan sesuatu yang bermanfaat bagi rakyatnya. Parepare lalu dijadikan kota industri tanpa cerobong asap. Ini juga yang menjadi salah satu muatan dalam teori telapak kaki.
Dengan teori ini, APBD Parepare bisa tembus Rp1 triliun. Simpanan masyarakat naik. Begitu pula tingkat pertumbuhan ekonomi. Indeks pembangunnan Kota Parepare menjadi urutan kedua di Sulsel. Angka kemiskinan turun mecapai 4 persen.
Berkat teori telapak kaki ini pula, pemerintahan Taufan Pawe mampu memungsikan pelayanan kesehatan gratis. Beras untuk orang miskin diantar sampai ke rumah mereka yang berhak.
Pelayanan kesehatan dilakukan adanya call centre 112. Non BPJS juga dilayani.
Diakui Taufan Pawe, di awal mulai memimpin kota kelahiran BJ Habibie ini, kondisinya cukup memprihatinkan. Tidak banyak yang bisa diandalkan dari kota ini untuk membuatnya lebih maju. Terutama dari sumber daya alamnya.
”Tapi karena keinginan kuat membangun kota ini melalui teori telapak kaki, maka bisa kita lihat sekarang seperti apa Kota Parepare,” tutur ayah tiga anak ini.
Disebutkan Taufan, 11 kelurahan yang ada di Parepare merupakan wilayah pesisir. Karena itu ia sangat intens berupaya menciptakan kesejahteraan masyarakat tanpa mengandalkan sumber daya alam. Namun yang diperkuat adalah jasa dan niaga.
Dengan hanya mengandalkan berpikir konsep apa bisa cukup, Taufan kemudian berpikir multiikon agar banyak yang datang. Maka dibangunlah Tonrangen River Side, Taman Syariah hingga Monumen Cinta Ainum Habibuie. Akhirnya, banyak yang berminat untuk datang dan berkunjung menggelar even di kota ini.
Telapak kaki kian banyak yang datang dengan dibangunnya industri kesehatan. Hemodialisa (cuci darah) terbaik kini hadir di Kota Parepare. Diadopsi dari Jepang, semua perangkat tekonologinya dipasang oleh ahli dari negeri Sakura.
Belum lagi perguruan tinggi Institut Teknologi Habibie (ITH) yang segera hadir di Kota Parepare. Tinggal menunggu kebijakan presiden untuk menganggarkan melalui APBN, karena ini ITH milik pemerintah. BJ Habibie juga sangat mendukung kehadiran lembaga pendidikan ini. (*/rus/b)
