MAKASSAR, BKM — Peristiwa pencurian Rp1,2 miliar dari brankas milik PDAM Kota Makassar baru berselang sepekan. Meski begitu, musibah kembali terjadi di kantor perusahaan pengelolaan air bersih ini.
Hari Minggu (30/7) subuh, kira-kira pukul 05.15 Wita. Salah satu ruangan di kantor yang berlamat di Jalan Ratulangi itu terbakar. Api melalap ruang Satuan Pengawas Internal (SPI).
Beruntung, si jago merah bisa dengan cepat dipadamkan. Karena kantor Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) tepat berada di samping kantor PDAM.
Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Anwar Hasan, yang dihubungi kemarin, mengaku sempat terkejut ketika dilapori anggotanya bahwa telah terjadi kebakaran di kantor PDAM. Sebab, kasus pembobolan brankas masih sementara diusut, tiba-tiba ada lagi peristiwa baru yang terjadi.
”Awal menerima informasi itu saya sempat kaget juga. Saya kira kebakaran terjadi di ruangan yang sebelumnya dibobol. Ternyata yang terbakar ruangan SPI. Bersebelahan dengan ruang yang dibobol,” terang Anwar Hasan.
Perwira dua melati di pundaknya itu merinci barang yang dilalap api di ruang berukuran 7×12 meter tersebut. Masing-masing satu unit kamera pengintai (CCTV). Tiga unit AC. Empat unit komputer. Satu unit televisi ukuran 23 inci, serta kursi sofa.
”Selain barang elektronik, ada pula dokumen yang ikut terbakar. Termasuk brankas yang ada dalam lemari. Beberapa bagian bangunan mengalami kerusakan. Kerugian ditaksir hingga Rp150 juta,” jelas Anwar lagi.
Ditanya soal adanya keterkaitan antara kasus pembobolan brankas beberapa hari lalu dengan kebakaran ini, Anwar Hasan tak ingin berspekulasi lebih jauh. Meski begitu, dia tak menampik jika penyidik kepolisian yang menangani kasus ini tengah mendalami adanya indikasi dugaan keterlibatan orang dalam PDAM.
”Ada dugaan, raibnya uang dari dalam brankas yang disusul peristiwa kebakaran, kemungkinannya untuk menghilangkan jejak. Salah satu indikasinya dari terbakarnya kamera CCTV serta komputer dalam ruangan SPI. Untuk memastikannya, semuanya masih dalam proses penyelidikan. Mudah-mudahan kita bisa ungkap semuanya,” tandas Anwar.
Kepala Bagian Humas PDAM Makassar Muh Idris yang dihubungi, kemarin mengatakan, ruang SPI yang terbakar tepat berada di depan ruang arsip. Kejadian ini pertama kali diketahui seorang komandan regu (danru) jaga bernama Juardy. Saat itu ia tengah menunaikan salat subuh.
”Ketika salat, dia (Juardy) tiba-tiba mendengar suara ledakan dari luar musalah. Dia langsung keluar dan melihat kaca jendela pecah di ruang SPI. Bersamaan dengan itu ada api dalam ruangan. Kemungkinan kaca jendela pecah karena panas. Karena di bawah jendela itu ada sofa yang terbakar,” jelas Idris di kantor PDAM, kemarin.
Idris menjelaskan, dalam ruang SPI terdapat beberapa ruangan. Seperti ruang kepala bidang, kepala seksi serta staf. Sementara yang terbakar adalah ruangan staf.
Meski dalam ruangan terdapat banyak berkas dokumen laporan karyawan, mulai dari laporan bulanan, laporan harian hingga biaya pegawai, namun Idris mengklai, tidak ada berkas atau dokumen penting yang terbakar.
“Tidak adaji berkas dan dokumen penting yang terbakar. Ini ruang SPI. Ruang pemeriksaan internal di PDAM Makassar untuk setiap kegiatan-kegiatan. Sebelum kami diperiksa diluar atau eksternal, kami diperiksa dulu di ruang ini. Tapi tidak adaji berkas dokumen penting yang terbakar,” jelasnya.
Disinggung soal keterkaitan antara pembobolan uang dari dalam brankas senilai Rp1,2 miliar dengan peristiwa ini, Idris langsung membantahnya.
”Tidak adaji kaitannya. Apalagi laporan sementara yang didapat dari Dinas Damkar, kebakaran diduga arus pendek. Juga tidak ada struktur bangunan yang rusak. Plafon tidak terbakarji,” tandasnya.
Kepada BKM, danru Juardy yang pertama kali mengetahui kebakaran tersebut, mengatakan saat itu dirinya sedang salat subuh di musalah. Jaraknya hanya tiga meter dari ruang SPI. Baru saja mengucapkan salam dan wajahnya menghadap ke samping kiri, dia mendengar suara ledakan dari luar.
”Saya kira ada lagi ruangan yang dibobol. Ternyata jendela kaca yang pecah akibat kebakaran dalam ruangan SPI. Saya langsung menghubungi teman bernama Asdar yang ada di pos jaga utama untuk segera menghubungi pemadam. Tidak lama kemudian satu unit damkar datang,” jelasnya.
Panit Sabhara Polsek Ujungpandang I Wayan Suwirta yang dikonfirmasi, mengatakan polisi masih menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab kebakaran. Namun untuk lebih jelasnya, ia meminta agar menghubungi Polrestabes Makassar.
”Yang tangani polrestabes. Kami di polsek hanya menindaklanjuti laporan yang masuk dan langsung turun ke TKP. Tiga orang reserse, dua orang sabhara, binmas satu orang dan dua orang piket intel sudah datang ke lokasi,” ujarnya.
Kepala Bidang Operasional (Kabid Ops) Dinas Damkar Kota Makassar Hasanuddin, mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab terjadinya kebakaran. Dia hanya menjelaskan tentang proses pemadaman api.
”Kebakaran berhasil dikendalikan dalam waktu kurang lebih 15 menit. Satu unit armada didatangkan. Alhamdulillah, api bisa dikuasai dan tidak menyebar ke ruangan lain,” ujar Hasanuddin. (arf-ish-ucu/rus)
Terbukalah ke Publik
Apa Sebenarnya Terjadi
BADAN Pengawas (BP) PDAM Kota Makassar meminta kepada direksi untuk segera memperbaiki sistem manajemen yang ada. Hal itu disampaikan menyusul adanya pembobolan uang Rp1,2 miliar, serta peristiwa kebakaran yang terjadi di ruang SPI.
Nurmal Idrus, salah seorang anggota BP PDAM melihat bahwa peristiwa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir di PDAM menjadi masukan agar sistem menajemen diperbaiki. Dengan begitu, kejadian serupa dapat dihindari di masa-masa mendatang.
Selain itu, menurut Nurmal, manajamen perusahaan harus terbuka kepada publik menyampaikan sebenarnya yang terjadi di dalam perusahaan. Dengan begitu, tidak timbul asumsi-asumsi yang tak jelas.
”Secara umum sistem manajemen yang perlu diperbaiki, agar apa yang telah terjadi dapat diantisipasi di masa mendatang. Direksi juga harus terbuka kepada publik untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,” imbuhnya.
Nurmal mengklaim, pembobolan uang Rp1,2 miliar dari dalam brankas yang berada di gedung keuangan tidak memiliki keterkaitan dengan kebakaran di ruang SPI. Sebab di ruang SPI hanya menjadi tempat pemeriksa untuk kegiatan direksi.
“Kecuali mungkin yang terbakar adalah ruang keuangan, mungkin saja ada keterkaitan. Karena di ruangan keuangan semua data-data keuangan ada. Tapi ini kan ruang SPI. Jadi menurut saya tidak ada keterkaitan soal itu. Kami badan pengawas tidak bisa memasuki lebih jauh, karena kami hanya bertugas mengawasi dan menyampaikan apa yang seharusnya untuk direksi,” kuncinya. (arf/rus)
