MAKASSAR, BKM — Setiap tahun seluruh kabupaten/kota di Indonesia berlomba-lomba untuk berebut Piala Adipura. Sebuah penghargaan bergengsi yang menjadi supremasi bagi sebuah kota dalam pengelolaan kebersihan dan penataan serta menjaga lingkungan.
Di Sulawesi Selatan, setiap tahunnya ibukota kabupaten/kota silih berganti meraih piala ini. Malah ada daerah yang mampu mempertahankannya selama beberapa tahun berturut-turut.
Untuk memperoleh piala Adipura bukan persoalan mudah. Secara umum, menurut Kepala Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup Sulsel, Andi Hasbi Nur, ada dua indikator pokok yang harus dipenuhi daerah.
Indikator kondisi fisik lingkungan perkotaan dalam hal kebersihan dan keteduhan kota, serta indikator pengelolaan lingkungan perkotaan (non fisik). Meliputi institusi, manajemen, dan daya tanggap.
Namun, semakin lama, indikator yang ditetapkan pemerintah untuk meraih Adipura kain berat. Ada tambahan kriteria khusus yang harus dipenuhi.
Dia mengemukakan, selama tiga tahun terakhir, proses penilaian alias indikator lain ditetapkan adalah bupati/wali kota harus melalui presentasi dan wawancara di depan Dewan Pertimbangan Adipura, praktisi pengelolaan sampah dan bidang pemasaran, pejabat KLHK, akademisi perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, serta rekan-rekan media massa.
Selain itu, pengelolaan sampah dengan sistem sanitasi terkontrol juga masuk dalam kriteria.
Tahun 2017 ini, khusus untuk Provinsi Sulsel, ada enam daerah yang mengantongi penghargaan tersebut. Untuk kategori Kota Metropolitan, Makassar tahun ini masih dipercaya memegang penghargaan tersebut.
Sementara untuk kategori kota kecil, lima kabupaten yang meraih penghargaan yakni Kota Maros, Bantaeng, Sengkang, Sidrap, dan Pinrang.
Khusus untuk Kota Makssar, tahun ini adalah Adipura yang ketiga berhasil diraih. Salah satu yang menjadi kelebihan ibukota Sulsel itu hingga meraih Adipura adalah sistem pengelolaan bank sampahnya yang sangat bagus dan konsisten dijalankan.
Berbeda dengan sejumlah kota metropolitan lainnya yang ada di Indonesia. “Kalau di daerah lain, pengelolaan bank sampahnya banyak yang mati,” ungkap Hasbi.
Yang menjadi unggulan lain, Makassar adalah penataan lorong garden begitu asri dan apik. Malah, diperlombakan. Itu juga menjadi poin yang bisa membantu Makassar meraih adipura.
Sebenarnya ada 14 kabupaten/kota yang diusulkan meraih Adipura, namum hanya enam yang memperoleh. Tahun 2016, enam daerah meraih penghargaan tersebut. Yakni Kota Makassar, Parepare, Kabupaten Pinrang, Bulukumba, Bantaeng, dan Maros.
Tahun 2015, di Sulawesi Selatan, sebanyak tujuh kabupaten/kota berhasil meraih piala yang menjadi lambang kebersihan dan pengelolaan lingkungan itu.
Tujuh kabupaten/kota penerima piala Adipura di provinsi ini yaitu Kota Makassar, Parepare, Palopo, Kabupaten Bulukumba, Enrekang, Soppeng, dan Maros.
Pada tahun 2014, sebanyak tujuh ibukota kabupaten di Sulawesi Selatan meraihnya. Masing-masing Kabupaten Bantaeng, Selayar, Pinrang, Malili, Pangkajene Sidrap, Pangkajene Kepulauan dan Maros.
Jika melihat raihan Adipura tahun 2013, maka prestasi tahun 2014 menurun drastis. Menurut Andi Hasbi, menurunnya jumlah penerima Adipura disebabkan bertambahnya kriteria baru dalam penilaian.
“Pemerintah menaikkan kriteria dengan memasukkan sistem pengelolaan sampah menurut UU No.18 Tahun 2008,” ungkapnya.
Berdasarkan undang-undang itu, piala Adipura tidak diberikan ke kabupaten/kota yang pengelolaan sampahnya belum menggunakan sistem sanitary landfill.
Sanitary landfill adalah sistem pengelolaan sampah dengan sanitasi yang terkontrol. Dengan sistem ini, bagian dasar tempat pembuangan akhir (TPA) dilengkapi dengan sistem pembuangan limbah cair dan pipa gas untuk menyalurkan gas metana. Biaya untuk pembangunan fasilitas itu cukup mahal. Bulukumba misalnya, menghabiskan anggaran Rp8 miliar untuk sanitary landfill.
Sebanyak 13 daerah menerima piala Adipura tahun 2013 di Sulsel. Yaitu Kota Makassar, Kabupaten Maros, Selayar, Enrekang, Kota Parepare, Pangkajene Kepulauan, Pinrang dan Luwu Timur, Bantaeng, Barru, Soppeng, Wajo, dan Bulukumba.
Untuk tahun 2017, piala Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup akan diserahkan hari ini, Rabu (2/8). Khusus untuk Kota Makssar, Adipura ini merupakan yang ketiganya.
Rencananya besok, Kamis (3/8) akan dilakukan proses penjemputan di Bandara Sultan Hasanuddin. Selanjutnya diarak berkeliling dan finish di Anjungan Pantai Losari.
Rute iring-iringan Piala Adipura dimulai dari Bandara Sultan Hasanuddin-Jalan Perintis Kemerdekaan-Jalan AP Petta Rani-Jalan Pa’baeng-baeng-Veteran-Bandang-Tentara Pelajar-Sulawesi-Ahmad Yani-Jenderal Sudirman-Sam Ratulangi-Kakatua-Cendrawasih-Haji Bau dan finish di Anjungan Pantai Losari. (rhm-arf/rus)
Selamat Datang Adipura
