MENJADI pedagang musiman menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia menjadi pilihan Hadaeng (65). Ini ia lakukan agar tetap bertahan memenuhi kebutuhan hari-harinya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Penyakit pinggang yang diderita membuatnya harus beristirahat berkeliling jualan roti dari warung ke warung. Alasannya, dirinya sudah tidak mampu lagi berjalan kaki hingga ratusan meter menawarkan roti.
“Saya sempat jualan roti, dan roti saya ambil di Jalan Kijang. Dulu saya kuat berjalan kaki dari warung ke warung. Tapi setelah menderita sakit, tidak kuat ma jalan jauh,” akunya.
Sekitar tahun 1978 silam, Hadaeng dan suaminya pisah. Perpisahan dengan suaminya yang sudah memiliki istri ke dua, sebenarnya membuat Hadaeng menjadi perempuan yang hebat karena semangatnya yang kuat menghidupi ke tiga anaknya. Hampir semua pekerjaan serabutan dia pernah lakukan, seperti berjualan cabai, sumbu kompor minyak dari pasar ke pasar dan jualan roti.
“Hampir semua namanya pekerjaan serabutan saya kerjakan, seperti jual cabai, jual sumbu kompor minyak di pasar-pasar dan jualan roti. Sudahpa itu sakit baru saya jualan bendera. Tidak enakka juga sama anakku kalau tidak ada saya bantukan ki kodong,” sebutnya.
Menurut ceritanya, awal dia berjualan bendera saat ia mendapat pinjaman kain bendera dari seseorang yang baru dia kenalnya. Dia bahkan belajar cara memulai berjualan kain bendera.
“Saya ditanya sama penjual dulu, kalau barang ini (kain bendera) biasa ji kita dipinjamkan. Tapi adapi jaminan atau kenalan. Bisaji juga pakai modal sendiri tapi tidak main-main juga sampai puluhan juta,” ingatnya.
Merasa telah cukup banyak mendapat informasi, diapun bergegas mencari cara bisa mendapat pemilik modal. Kebetulan pada waktu itu, tetangganya memiliki kenalan yang kebetulan pengusaha kain bendera dan toko di Jalan Irian.
“Ada tetanggaku punya teman pengusaha bendera juga, jadi saya minta tolong sama itu tetanggaku dan alhamdulillah sampai sekarang saya masih dan tetap dipercaya dipinjamkan modal,” tuturnya.
Dia berharap di tahun ini penjualan kain bendera lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Dimana ditahun lalu dirinya mendapat uang hasil penjualan sebesar Rp2,5 juta bersih, tahun ini ditarget dapat lebih baik.
Saat inih ampir semua jalan protokol di Kota Makassar mulai ramai dengan pedagang musiman.
Merah putih, warna kain bendera itulah yang saat ini telah banyak terlihat dan ditemukan dimana-mana. Dan pedagang musimanpun sudah mulai berlomba-lomba mencari tempat berjualan yang startegis menjajakan aksesories HUT Kemerdekaan Indonesia mulai berupa kain bendera, umbul-umbul hingga gantungan kunci.
Di Jalan AP Petta Rani, Jalan Hertasning Baru dan di Jalan Ratulangi, pedagang musiman kain bendera yang menempati trotoar jalan mulai banyak terlihat. Dan hingga membuat suasana di kawasan tersebut berubah menjadi ramai penuh warna.
Di Jalan Ratulangi misalnya, pedagang musiman sudah banyak mengisi pinggir trotoar jalan untuk berjualan, terutama dibawah pohon yang rindang. Selain di bawah pohon, halte bus juga menjadi sasaran bagi para pedagang berjualan.(arf)
