Site icon Berita Kota Makassar

Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Turun

MAKASSAR, BKM — Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan merilis data pertumbuhan ekonomi Sulsel di triwulan II tahun 2017 sebesar 6,63 persen. Jika dibandingkan dengan triwulan II tahun 2016 8,02 persen, angka ini mengalami penurunan.
?BPS mencatat dua penyebab utama yang membuat pertumbuhan ekonomi tak menembus angka tujuh persen. Yaitu masalah pengeluaran konsumsi pemerintah atau belanja pemerintah yang masih minim serta masalah ekspor barang dan jasa.
Terkait hal ini, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo meminta angka pertumbuhan ekonomi yang ada dilihat berdasarkan perbandingan tahun ke tahun, jangan bulan ke bulan atau triwulan ke triwulan.
“Harus years on years, nanti kita bingung semua. Mungkin saja benar tapi merilis bulan ke bulan bukan years to years. Namanya juga perdagangan atau ekspor ada saatnya membeli sekarang dan dua bulan lagi menurun,” jelasnya, Senin 7 Agustus.
Menurut Syahrul perekonomian Sulsel tahun ini terus mengalami perbaikan. Karena itu jauh lebih penting menjaga masalah kontinuitasnya dibanding memperhatikan angka yang muncul setiap bulan atau triwulan.
“Saya juga tidak yakin begitu karena kita baru saja naik 7,42 persen ke 7,46 persen. Tiba Tiba turun saja, mungkin karena ekspornya saja yang turun, karena inflasi kita tetap terjaga,” lanjutnya.
Terkait belanja pemerintah yang masih minim, Syahrul mengatakan proses tender yang sementara atau sudah berlangsung tak bisa dipaksakan. Apalagi jika pengusahanya masih memiliki modal yang banyak.
Sehingga mereka belum mencairkan anggaran yang disiapkan oleh pemerintah. Bahkan sesuai data yang dimiliki, Syahrul meyakinkan progres fisik jauh lebih besar dibanding keuangan.
“?Kadang-kadang begini pengusahanya sudah ada sudah menang tender dan sudah kerja, di kasih kesempatan untuk mengambil uang, tapi mereka tidak mau tidak bisa dipaksakan juga,” lanjutnya.
Data dari website milik Bappeda Sulsel, siritta.com, khusus untuk belanja langsung senilai Rp2,558 triliun yang tersebar di 59 SKPD, yang baru terealisasi sekitar Rp507,573 miliar atau baru sekitar 21,8 persen. (rhm)

Exit mobile version