MAKASSAR, BKM– Hewan kurban berupa sapi dan kambing sudah marak diperjual belikan di sejumlah ruas jalan termasuk di Poros Jalan Aroepala-TUN Abdul Razak. Hanya saja, sapi yang diperjualbelikan belum pernah diperiksa kesehatannya oleh Pemerintah Kota Makassar, sehingga hewan kurban yang sakit bisa saja ikut terjual.
Menyikapi kondisi itu, Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Perikanan dan Pertanian (DPP) Kota Makassar mengimbau warga untuk mengambil kartu sehat ke pedagang hewan sebelum membeli. Bahkan dalam waktu dekat turun melakukan pemeriksaan kondisi hewan kurban.
Kepala DPP Kota Makassar, Abd Rahman Bando mengatakan, pemeriksaan hewan kurban mulai dilakukan di H-7 jelang pelaksanaan Idul Adha.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh hewan kurban yang dijual di Kota Makassar sehat dan layak untuk dibeli.
Nantinya, pemeriksaan kesehatan hewan kurban dilakukan dengan mengambil sampel darah hewan. Hewan kurban yang layak dijual dan dibeli oleh warga adalah hewan yang telah melalui periksaan dan memiliki kartu sehat yang dikeluarkan DPP Makassar.
“Tahun ini kita sudah memiliki satu unit mobil laboratorium atau Animal Rescue yang dapat memeriksa sampel darah hewan yang kita ambil. Dan hanya beberapa menit saja, hasilnya sudah kita ketahui. Hewan kurban yang layak seperti bebas dari antrax, usia untuk sapi dua tahun, kambing satu tahun setengah dan kondisi badan yang tidak kurus, kita berikan kartu sehat dan layak. Masyarakat harus minta kartu itu,” sebut Rahman, Minggu (20/8).
Tahun lalu ingat Rahman, ada sekitar 120 hewan kurban baik sapi dan kambing yang tidak diberikan kartu sehat. Sebab hewan-hewan kurban tersebut tidak layak untuk dijual karena usia sangat muda dan kurus. Hewan kurban yang tidak layak banyak ditemukan di Kecamatan Manggala dan Kecamatan Tamalanrea.
“Hampir semua kecamatan pinggiran kota yang berjualan hewan kurban ada saja yang tidak layak. Kita minta ke pedagang tidak menjual dan kita tidak beri kartu sehat hewan,” terangnya.
Sementara itu, pedagang sapi yang berada di Jalan Hertasning, Isman mengaku telah berjualan di area tersebut sekitar dua minggu. Dia mendatangkan sapi-sapi jenis pamarsu langsung dari Kabupaten Sinjai. Sapi –sapi tersebut dijual seharga Rp11 juta hingga mencapi Rp30 juta, tergantung dari ukuran sapi.
Dia juga menjelaskan bahwa saat ini masih sedikit yang membeli sapi. “Tahun ini sapi-sapi saya kurang laku dibandingkan tahun lalu. Tahun ini hanya laku satu atau dua ekor sapi per harinya,” terangnya.
Dia juga menjelaskan bahwa hingga saat ini, belum mengecek kesehatan sapi yang didagangkan. “Sampai saat ini sapi belum di cek kesehatannya dari dinas peternakan juga belum datang untuk lihat kondisi kesehatannya,” ungkapnya.(arf-ppl1,2)
