MAKASSAR, BKM–Kontestasi menjelang pemilihan gubernur (pilgub), pemilihan wali kota (pilwali) dan pemilihan bupati (pilbup) semakin panas. Aksi jegal menjegal terhadap rival politik kian kencang dilakukan seiring keinginan untuk mendapatkan dukungan partai politik.
Jika aksi ini berhasil, maka dipastikan aktor yang berada di belakang upaya penjegalan dinilai sukses. Apalagi bila mampu mendapatkan dukungan mayoritas partai pemilik kursi di parlemen.
Di pilbup Bone mendatang, dukungan partai politik hampir semuanya mengarah ke pasangan calon bupati dan wakil bupati Andi Fahsar Padjalangi-Ambo Dalle. Demikian pula di Sidrap, dukungan parpol ke Hj Fatmawati Rusdi.
Supervisor Pemenangan Jaringan Suara Indonesia (JSI) Arif Saleh menuturkan, idealnya di momentum pilgub, pilwali maupun pilbup para bakal calon dan timnya memanfaatkan untuk saling beradu ide dan gagasan. Bukan justru larut mempertontonkan ke publik yang terkesan menghalalkan segala cara.
“Harusnya para kandidat dan tim sukses melakukan cara itu fokus pada gagasan dan program yang ingin dijalankan. Bukan saling menciderai, apalagi menjegal,” kata Arif Saleh, Minggu (20/8).
Menurutnya, perilaku para aktor dan sutradara di perhelatan politik selama ini terkadang mengabaikannya. Malah, mencari cara dan celah bagaimana menjatuhkan lawan politik.
Biasanya, lanjut Arif, bakal calon yang punya potensi terpilih selalu jadi sasaran. Misalnya, memunculkan isu-isu negatif terhadap kandidat tersebut, black campaign, ataukah mencarikan celah lain yang bisa memungkinkan mengurangi simpati publik.
“Cara lain jika menganggap calon rivalnya itu sulit dikalahkan jika berhadapan, bisa saja melakukan upaya menutupkan pintu agar tidak maju. Misalnya, memborong rekomendasi parpol, ataukah membagi rekomendasi partai ke kandidat lain. Ini bisa terjadi, termasuk di Sulsel,” papar Arif.
Direktur Eksekutif Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir menilai, bila persaingan merebut usungan parpol itu bagian dari dinamika politik, dan menjadi wajib bagi para balon, agar bisa menjadi calon gubernur atau bupati dan wali kota. Namun, tentu parpol punya mekanisme dan tolak ukur dalam menentukan usungannya di pilkada.
Untuk sukses di pilkada, kata dia, parpol sebaiknya merujuk pada dukungan electoral balon yang ril. Elektabilitas balon yang tinggi tentu semakin mempermudah kemenangan.
“Parpol yang akan bertarung di pileg dan pilpres 2019 harus sukses di pilkada serentak 2018 ini. Syaratnya, mengusung balon yang disukai dan diinginkan masyarakat Sulsel,” jelas Suwadi.
Akademisi Unismuh Makassar Luhur M Priyatno, menilai sikap saling jegal memang tidak bisa dihindari kandidat. Ini terkait strategi kandidat untuk mengatur jumlah kontestan yang paling menguntungkan. Mungkin bisa disebut politik begal, terkait upaya merampas paksa usungan partai di tengah perjalanan.
“Soal jumlah kontestan, saya kira memang telah menjadi bagian dari strategi kandidat. Artinya, ada kandidat yang menginginkan empat kontestan. Tetapi ada pula yang lebih nyaman jika tiga kontestan. Bahkan ada kandidat yang merasa lebih potensial menang jika terjadi head to head,” ujar Luhur.
Menurutnya, pola dan irisan dukungan kontestan sebenarnya telah terbaca dari rilis data beberapa lembaga kredibel. Oleh karena itu, pertarungan mengatur lawan menjadi bagian yang sangat strategis dalam kontestasi pilgub ini.
Peta dukungan partai dalam kandidasi, akan banyak ditentukan oleh kemampuan kandidat bertarung sebelum proses elektoral. Kandidat tidak harus selalu merebut usungan partai. Bisa juga melepas dukungan untuk memudahkan tampilnya kandidat lain yang lebih menguntungkan.
Dosen politik UIN Alauddin Firdaus Muhmmaad mengakui, bila saling jegal sulit dihindari. Terutama sekarang, saling jegal partai karena menjadi penentu maju atau tidak seseorang bakal calon.
“Memang saling jegal sulit dihindari. Sebab menjadi penentu maju tidaknya seseorang di kontestasi seperti pilkada,” jelas Firdaus.
Terpisah, politisi Golkar Muhammad Risman Pasigai tidak sependapat dengan istilah menjegal. “Tidak ada aksi jegal menjegal. Tetapi ini adalah persoalan kemampuan calon masing-masing dalam meyakinkan partai politik. Saya yakin, selain pada variabel potensi menang, parpol juga ingin melihat dan menguji program para calon yang akan dilaksanakan nanti pada saat terpilih nantinya,” ucap Risman.
Menurutnya, politik itu sangat kompleks dan penuh dinamika. Sehingga tidak benar bila ada calon atau figur yang berkeyakinan bahwa dia dijegal atau tidak diinginkan oleh calon lain.
“Ini masalah kematangan strategi masing-masing. Bagi kami, permainan ini perlu strategi, baik dukungan maupun program. Sehingga jika ingin menang, maka salah satu syaratnya adalah kita wajib menentukan siapa lawan kita kelak. Dengan begitu, skenario di lapangan bisa dipersiapkan untuk merebut hati rakyat,” ujar Risman yang juga Direktur kampanye GNH17. (rif)
Kencangnya Saling Jegal Jelang Pilgub, Pilwali dan Pilbup
