SEORANG anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) identik sebagai wakil rakyat. Karena itu, idealnya mereka memperjuangkan kepentingan dan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Bukan malah sebaliknya, lupa rakyat ketika sudah duduk di kursi empuk.
Laporan: Suherman Karim
DRS ARFAN RENGGONG,MSI sadar betul bahwa keberhasilannya duduk sebagai anggota DPRD Enrekang tak luput dari keterlibatan para konstituennya. Merekalah yang memilih dan memberikan hak suaranya dalam pemilu legislatif (pileg) lalu.
Arfan telah duduk di kursi legislatif sejak tahun 2009-2014. Kemudian terpilih lagi pada periode berikutnya. Saat ini dipercaya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPRD Enrekang.
Partai Golkar menjadi jembatannya mengemban amanat sebagai anggota dewan. Ia terpilih dari daerah pemilihan dua, yang meliputi Anggeraja, Baraka, Malua dan Buntu Batu.
Sebagai seorang politikus tulen, Arfan telah malangmelintang pada kancah perpolitikan di Bumi Massenrempulu. Ia pun pernah tercatat sebagai tim pemenangan Bupati Muslimin Bando serta La Tinro La Tunrung.
Sejak terpilih menjadi legislator, Arfan intens turun ke lapangan menemui masyarakat. Tidak hanya di ibu kota Kabupaten Enrekang. Arfan juga kerap terlihat di desa-desa terpencil.
Ada alasan tersendiri sehingga dirinya berkunjung ke wilayah pelosok, meski dibutuhkan perjuangan untuk sampai ke sana. Ya, Arfan ingin mendengar langsung apa keluhan dan aspirasi yang diwakilinya. Sekaligus menjemput aspirasi untuk diperjuangkan di lembaga wakil rakyat.
”Untuk mendengar keluhan dari masyarakat, saya memilih turun langsung hingga ke pelosok desa. Dengan begitu, tercipta komunikasi yang baik dengan rakyat,” kata suami Alfi Dezi Harvani ini.
Kala berkunjung ke desa-desa terpencil, mantan ketua pemenangan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Agus Arifin Nu’mang di Enrekang ini tek segan menginap di rumah-rumah penduduk. Sambil menikmati suasana desa terpencil yang masih alami, Arfan sekaligus mendengar suara mereka.
”Selama menjadi anggota dewan, saya rutin keliling desa. Bahkan sering menginap di rumah-rumah penduduk. Dari situ biasanya ada aspirasi yang mereka sampaikan untuk kami perjuangkan di dewan,” ujar Arfan.
Menurutnya, dari sejumlah desa yang pernah ia datangi, hampir semua mengeluhkan tentang infrastruktur jalan. Mereka meminta kepada pemerintah agar jalanan di kampungnya diperbaiki, untuk memudahkan akses ke daerah lain.
Salah satu hasil dari perjuangannya adalah beberapa jalan di Enrekang yang dulunya hanya bisa dilewati kendaraan roda dua, kini sudah bisa dilalui mobil.
Ketika berkunjung ke wilayah terpencil, Arfan kadang merasa ada beberapa daerah yang yang tidak diperhatikan. Kenyataan inilah yang sering membuatnya mendesak eksekutif untuk tidak pilih kasih dalam membangun. “Alhamdulillah, sekarang sudah banyak perubahan,” imbuhnya. (*/rus)
