MAHASISWA adalah agen perubahan. Sebuah status yang tak akan pernah lepas dari seorang pemuda terdidik. D imana dan dengan cara apapun, seorang mahasiswa memang sudah sepatutnya memberikan pengaruh atas perkembangan sains, teknologi, budaya, pendidikan, maupun sosial.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SALAH satu contoh kecil dari seorang agen perubahan bisa dilihat pada sosok St. Zahra Mulianti Natsir.
Pendidikan adalah salah satu faktor pendukung kemajuan suatu negara. Tanpa orang-orang terdidik, sebuah negara tentu akan bingung mengelola sumber daya alamnya. Tanpa orang terdidik, harga diri bangsa akan lebih mudah diinjak-injak.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tepat sasaran. Pendidikan yang memang tertuju pada subjek tujuan kita mendidik. Zahra, sapaan akrab St Zahra Mulianti Natsir, membuat suatu kelompok pendidikan secara sosial. Tanpa banyak bicara, ia bergerak menyasar kepada anak-anak yang memang membutuhkan pendidikan.
Tak pernah melakukan demonstrasi, namun bisa memberikan efek sosial yang baik bagi masyarakat. Ia berhasil mengajak teman-teman sejawatnya untuk turut serta melakukan gerakan perubahan.
Ia berhasil meyakinkan para pengambil kebijakan untuk mendukung program sosialnya. Dan Zahra mampu mempengaruhi anak-anak putus sekolah untuk kembali mengenyam pendidikan.
BKM menemuinya di sebuah sekretariat organisasi kampus yang juga digeluti oleh Zahra. Suasananya rindang, penuh dengan pepohonan yang tumbuh subur di area tersebut.
Suasananyapun sangat tenang saat Zahra mulai menceritakan semua kisahnya. Mulai dari saat mendirikan sekolah literasi miliknya, hingga kesehariannya menjalankan sekolah tersebut. Ia menamai sekolahnya “Anak-Anak Senja”.
Anak-anak Senja berlokasi di Kecamatan Soreang, Kota Parepare. Didirikan oleh Zahra dan keempat temannya, yaitu Darwansyah, Yustin, Risnawati, dan Ahmad Zuhudi. Sekolah ini bergerak di bidang literasi dengan sasaran anak-anak putus sekolah.
Zahra mengatakan, pemilihan lokasi tersebut berdasarkan situasi wilayah di sana saat ia melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada Oktober 2016. Di lokasi itu, secara tidak sengaja ia berbincang dengan seorang anak seusia SD, namun ternyata anak tersebut tidak suka bersekolah. Saat itulah ia tergugah untuk bergerak memajukan anak-anak di sana melalui pendidikan.
Zahra saat ini kuliah di Universitas Negeri Makassar (UNM) Jurusan Fisika angkatan 2013. Ia lahir di Kota Parepare 10 Mei 1995.
Namun sedari kecil, anak dari pasangan Muhammad Natsir dan Surnaeni ini dibesarkan di Makassar. Zahra merupakan alumni SD Inpres Minasa Upa, MTsN Model Makassar, dan MAN 2 Model Makassar.
Setiap Sabtu dan Minggu, Zahra beserta teman-temannya berangkat dari Makassar ke Parepare hanya untuk mengajari anak-anak di sana membaca dan menulis. Ia berhasil meyakinkan Dikti untuk memberikan bantuan dana sebagai biaya akomodasi selama di sana. Selain itu, ada bantuan dana juga dari ketua DPRD Kota Parepare serta bantuan dari Dinas Pendidikan Kota Parepare berupa buku dan alat tulis. Semua itu didapatkan Zahra dari gencarnya sosialisasi yang ia lakukan selama di sana.
“Ini kan dulu awalnya ide PKM, jadi kita kirim proposal ke Dikti. Alhamdulillah didanai. Dari ketua DPRD juga dalam bentuk uang dan buku bacaan. Dari Dinas Pendidikan yaitu buku dan alat tulis. Alhamdulillah, pemerintah cukup mendukung kami,” tutur Zahra.
Situasi di lokasi tempatnya mendirikan sekolah sedikit berbeda dengan situasi Kota Parepare pada umumnya. Di sana, sebagian penduduk berprofesi sebagai nelayan, karena letak wilayahnya yang berbatasan langsung dengan laut.
Anak-anak di wilayah tersebut memang lebih memilih membantu orang tuanya mencari ikan daripada bersekolah. Nah, hal inilah yang menggugah Zahra beserta empat rekannya untuk meyakinkan anak-anak itu tentang betapa pentingnya sekolah.
Dengan kehadirannya, dampak positifpun mulai terlihat. Perlahan anak-anak nelayan itu kembali antusias bersekolah. (*/rus/b)
