Site icon Berita Kota Makassar

Kehadiran Ketua DPRD Pemacu Anak Kembali Bersekolah

TERPUJILAH orang-orang yang senantiasa memperjuangkan pendidikan tanpa mengharap imbalan. Ibarat kita mencintai bangsa, maka senantiasa melakukan yang terbaik. Apapun dilakoni demi harkat dan martabat bangsa. Inikah “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” yang sesungguhnya?

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

ANAK-ANAK di wilayah Bulunippong, Kecamatan Soreang, Kota Parepare ini awalnya acuh akan pendidikan. Banyak dari mereka yang tak bisa membaca. Yang diketahuinya hanya membantu orang tua melaut untuk mencari nafkah. Tanpa mereka sadari, pendidikan justru akan jauh lebih membantu orang tua mereka dalam mengais rezeki.
Keadaan yang cukup membuat resah akan masa depan generasi penerus bangsa ini sekarang lambat laun mulai membaik. Kehadiran sekolah Anak-anak Senja telah mengubah pola pikir anak-anak di wilayah tersebut.
Zahra tak lupa kemudian menceritakan tentang suka dukanya selama merintis dan mengelola sekolah ini. Ia berkisah sedari memulai hingga pencapaiannya saat ini. Dengan tujuan mulia dan pantang menyerah, penuh kesabaran dan telaten ia mendidik anak-anak yang berusia 7 sampai 15 tahun ini.
Sebagian warga di sana sebenarnya memiliki antusias yang tinggi atas kehadiran sekolah Anak-anak Senja. Namun, ada satu orang tua anak yang keras menentang jika anaknya bergabung. Alasan sang orang tua itu bukan sepele.
Zahra menceritakan, orang tua itu hanya ingin anaknya membantunya mencari ikan. Hal itu disebabkan karena sang bapak tunanetra. Ia mengalami kebutaan. Sementara istrinya telah lama meninggal.
Nah, anaknya inilah yang ia harap bisa terus membantunya mencari nafkah. Bukan malah bersekolah.
Zahra pun saat itu sebenarnya merasa iba kepada orang tua tersebut. Namun ia tetap pada tekadnya jika pendidikan tetaplah penting. Akhirnya, dengan alasan bahwa jadwal Anak-Anak Senja hanyalah pada Sabtu dan Minggu, serta berlangsung selama dua jam saja, akhirnya orang tua ini pun mengizinkan anaknya. Zahra sukses meyakinkan orang tua ini bahwa Anak-Anak Senja tidak akan mempengaruhi hari-hari mereka mencari nafkah.
Zahra beserta teman-temannya menggunakan gedung di sekitar pusat pelelangan ikan. Gedung ini hasil kerja sama dengan para nelayan di lokasi tersebut. Menurutnya, gedung ini tidak terpakai, jadi bisa digunakan oleh Anak-Anak Senja.
Wanita yang bercita-cita menjadi dosen ini pun mengakui berbagai kesulitan lain waktu awal-awal ia memulai kelas. Anak-anak yang jarang, bahkan belum pernah tersentuh oleh pendidikan ini sangat sulit dinasihati olehnya. Namun dengan kegigihan dan keikhlasannya, semakin lama anak-anak justru lebih berbaur dengan Zahra dan teman-teman.
“Awalnya anak-anak di sana susah sekali diatur. Tapi Alhamdulillah lama-lama berbaur sama kita. Bahkan kalau kita terlambat datang, mereka yang teleponki,” kata Zahra sambil tersenyum.
Berbagai literasi Zahra ajarkan kepada anak-anak. Mulai dari membaca, menulis cerita panjang maupun cerpen, serta semua yang berhubungan dengan literasi di tingkat sekolah.
“Acuan mengajar kami adalah panduan dari Kemendikbud. Ada memang itu Gerakan Literasi Sekolah dari Kemendikbud yang diajarkan di sekolah. Tujuannya, ya supaya mereka tetap dapat materi sekolah walaupun putus sekolah,” jelas Zahra.
Selain mengajar literasi, para pengajar Anak-anak Senja juga sempat mendatangkan Ketua DPRD Kota Parepare Kaharuddin Kadir untuk mengisi kelas motivasi kepada anak-anak di sana.
Zahra mengatakan, saat kehadiran Kaharuddin, anak-anak begitu antusias. Ternyata ini juga menjadi awal keberhasilan Zahra untuk memacu mereka kembali bersekolah.
Sebanyak 24 anak yang dididik oleh Zahra beserta teman-temannya, kini 12 orang diantaranya telah kembali bersekolah. Sedangkan 12 anak lainnya masih dalam proses perbaikan mindset tentang pendidikan.
Hal ini tentu pencapaian luar biasa dari seorang pengajar sukarela yang bahkan tak digaji. Mereka sukses memasukkan nilai-nilai pendidikan kepada anak-anak yang merasa pendidikan tak penting.
Selain berhasil mempengaruhi anak-anak untuk kembali bersekolah, Zahra juga mendirikan perpustakaan mini yang terletak di salah satu rumah warga. Hal ini supaya budaya membaca anak-anak di sana juga semakin berkembang.
Kini, Zahra dan teman-teman Anak-anak Senja masih terus mengembangkan budaya literasi di wilayah tersebut. Jarak Makassar ke Parepare yang cukup jauh membuat mereka membuka peluang bagi siapapun yang ingin menjadi relawan.
Sekarang telah ada 15 relawan yang bergabung dengannya. Semuanya, dikatakan Zahra, akan dinaungi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Parepare, hasil dari kerjasama mereka. Relawan inilah yang nantinya akan melanjutkan perjuangan Anak-Anak Senja. (*/rus/b)

Exit mobile version