Site icon Berita Kota Makassar

Keikhlasan dalam Mengajar Anak-anak Berkebutuhan Khusus

MERUNUT sumber dari berbagai buku pelajaran sekolah, pahlawan adalah orang yang memperjuangkan kemerdekaan. Itu telah tertanam dalam pikiran banyak orang di negeri ini. Namun, benarkan arti pahlawan sesempit itu?

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

DALAM dunia pendidikan, dikenal pula arti pahlawan. Yang dituju adalah guru. Mereka bahkan disebutkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Dulu, para guru dengan gigihnya terus menerus memperjuangkan pendidikan demi mencerdaskan anak bangsa. Namun sekarang apakah telah berbeda? Apakah guru-guru kekinian benar-benar memperjuangkan pendidikan?
Bagaimanapun niatnya, setidaknya tanpa seorang guru, Stephen Sanjaya tak akan pernah meraih medali emas dalam International Mathematic Olympiad (IMO) di Kolombia pada 2015 lalu. Nixon Widjaja pun tak akan meraih medali emas di ajang Olimpiade Sains Junior Internasional (IJSO) di Jakarta pada 2016 lalu.
Guru adalah seorang pahlawan. Setidaknya ia memperjuangkan nama baik bangsa dengan caranya sendiri.
Yang tak kalah luar biasa sebenarnya adalah seorang guru bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Di saat sebagian orang menyepelekan mereka, seorang guru Pendidikan Luar Biasa (PLB) tak pernah surut memperjuangkan pendidikan untuk mereka.
Tak banyak bisa kita temui guru-guru seperti ini. Hanya sedikit yang mau menjalani profesi ini. Salah satunya adalah Mustahira.
Guru Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Yayasan Pendidikan La Niang ini tampak sangat menikmati profesinya. Tampak dengan ikhlas ia membimbing anak-anak luar biasa di sekolah yang berlokasi tak jauh dari kompleks perumahan Bumi Tamalanrea Permai (BTP).
Dengan baju dinas khas seorang guru, BKM menemuinya di pelataran Sekolah Yayasan Pendidikan La Niang. Ia menyambut BKM dengan penuh senyum. Begitu ceria, seperti tak memiliki beban.
Sambil duduk santai di bawah pohon di sekolah tersebut, Mustahira dengan semangat menceritakan hari-harinya sebagai seorang pengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Wanita asal Kabupaten Soppeng ini telah memiliki suami dan dua orang anak.
Suaminya adalah seorang guru PLB juga, sebagai guru di SLB YPAC. Sedangkan anaknya yang pertama kuliah di Politeknik Negeri Ujung Pandang. Sementara yang kedua masih duduk di bangku SMP 25 Makassar. Mereka sekeluarga tinggal di kompleks perumahan Mangga Tiga, Makassar.
Mustahira mengatakan, saat ini ia khusus mengajar anak-anak tuna rungu. Diakuinya, tidaklah mudah menghadapi anak-anak seperti itu. Selain mengajarkan bahasa verbal melalui tulisan, seorang guru anak tuna rungu juga harus menguasai bahasa isyarat. Nah, pengetahuan bahasa isyarat inilah yang membuatnya berbeda dengan guru lain.
Proses belajar anak-anak berkebutuhan khusus seperti itu, juga dikatakan Mustahira, sangatlah berbeda dengan mereka yang normal. Bukan hanya dari segi bahasa, namun proses pemahaman mengenai pelajaran juga harus dimengerti oleh seorang guru PLB.
“Kalau anak-anak normal diajar, satu kali diberi contoh sudah ada yang mengerti, maka pelajaran bisa dilanjutkan. Kalau anak-anak seperti ini, tidak. Jadi harus semuanya paham baru bisa dilanjutkan, karena tidak sembarang orang yang bisa ajar mereka,” terangnya.
Ia kemudian memberi misal. Kemarin sudah diajarkan 5×5 berapa. Terus hari ini masih belum paham, maka hari ini pengajarannya juga harus tentang 5×5. Tidak boleh melangkah lebih jauh.
Mustahira melanjutkan, dalam proses mengajarnya banyak sekali hal yang dirasa amat sulit. Namun ia menjelaskan kembali, bahwa kesulitan itu selama ini tertutupi dengan keikhlasannya dalam mendidik muridnya.
“Intinya ikhlas. Lihat mereka. Sebenarnya sama dengan kita. Hak mereka pun juga harusnya sama. Jadi saya juga punya tugas mencerdaskan mereka,” kata Mustahira sambil menunjuk murid-muridnya. (*/rus/b)

Exit mobile version