MENJADI seorang guru dengan murid anak-anak berkebutuhan khusus adalah sebuah pekerjaan yang berbeda. Tidak semua orang mau menekuni profesi ini. Salah satu alasannya, karena tingkat kesulitannya jauh lebih tinggi. Tidak semua orang juga mampu, sebab kemampuan mengajar yang harus lebih baik dibanding guru lain.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SEORANG guru PLB (Pendidikan Luar Biasa) harus mampu bersikap tenang menghadapi muridnya. Mereka juga dituntut untuk selalu sabar. Karena tanpa itu semua, seseorang tak akan bisa menekuni profesi mulia ini.
Tidak salah jika kemudian guru PLB disebut berbeda. Karena itulah, tentu banyak suka serta duka yang dialami Mustahira. Namun, semua ia lakoni dengan tujuan yang mulia pula, mencerdaskan anak-anak yang berkebutuhan khusus.
Wanita alumni jurusan PLB Universitas Negeri Makassar (UNM) ini selalu memulai pembelajarannya dengan membaris murid-muridnya di depan kelas. Selanjutnya mempersilakan mereka masuk ke dalam kelas satu persatu dengan berbagai pemeriksaan kesehatan. Seperti kesehatan gigi, mata, telinga, hidung, mulut, leher, dan kuku.
Setelah semua muridnya masuk, maka dimulailah pembelajaran dengan terlebih dahulu memanjatkan doa bersama. Barulah kemudian berlanjut pada proses belajar mengajar.
Karena Mustahira merupakan satu-satunya guru SDLB di Yayasan Pendidikan La Niang, maka ia harus mengajar semua mata pelajaran. Yang ia ajar pun adalah murid dari kelas I sampai VI.
“Jumlah semua murid di SDLB dari kelas I sampai VI ini ada sembilan orang. Sebenarnya sesuai standar, satu guru itu minimal lima siswa yang diajar. Tapi ini karena kita masih kekurangan guru, maka sembilan orang saya ajar,” jelas Mustahira.
Murid yang ada di SDLB ini, diakui Mustahira tidak asal-asalan masuknya. Mereka terlebih dahulu harus diassessment. Tujuannya untuk memetakan anak, apakah berat atau tidak ketunarunguannya. Karena jika berat, maka metode pembelajaran yang diberikan kepadanya juga harus sedikit berbeda.
“Jika kendala pendengarannya berat, itu yang agak sulit. Karena biar pakai alat bantu pendengaran juga tidak akan bisa. Kalau yang kendala pendengarannya tidak berat, kan biasa masih dia tahu sedikit-sedikit bahasa verbal,” ungkap Mustahira.
Selama proses pembelajaran, tentu sangat tidak nyaman apabila murid-murid kerap membuat keributan. Hal ini jelas selalu dirasakan oleh Mustahira.
Awalnya, dirasa oleh Mustahira cukup berat menenangkan anak-anak tersebut. Setelah terbiasa, murid-murid dirasa bisa cukup mengerti. Mereka bahkan sudah kerap mengingatkan ke temannya yang lain untuk tidak ribut dalam kelas.
“Saya bilang saja ssttt, jangat ribut (sambil menggunakan bahasa isyarat), maka duduklah mereka. Mereka juga selalu bilang ke teman-temannya jangan ribut, nanti bu guru capek,” kata Mustahira tersenyum.
Sebelum mengajar di Yayasan Pendidikan La Niang, Mustahira sebenarnya telah mengajar di SLB YAPALB, Jalan Perdamaian Makassar. Ia mengajar di sana selama 15 tahun, sebelum pindah ke Yayasan Pendidikan La Niang pada 2010.
Di SLB YAPALB, Mustahira mengajar di anak-anak tuna grahita. Menurut Mustahira, anak-anak tuna grahita lebih sulit lagi diajar. Hal ini karena kemampuan otak mereka yang berbeda dibanding anak-anak normal. Berbeda dengan anak-anak tuna rungu yang hanya bermasalah pada pendengaran dan pengucapan bahasanya.
Saat mengajar anak tuna grahita, Mustahira benar-benar menjadi sosok ibu yang sesungguhnya bagi semua muridnya. Bagaimana tidak, tiap harinya ia yang memperhatikan, bahkan sampai membersihkan kotoran hasil buang air besar murid-muridnya.
“Anak-anak tuna grahita itu, kalau mau buang air besar ya buang air besar saja di tempatnya duduk. Jadi hampir tiap hari dulu saya membersihkan kotoran-kotoran itu,” kenangnya.
Dengan profesinya saat ini, Mustahira berharap banyak akan perhatian pemerintah. Baik untuk kesejahteraan guru-guru PLB, maupun anak-anak berkebutuhan khusus.
Baginya, gaji guru dan fasilitas yang diterima guru PLB harus senantiasa diperhatikan. Karena ini merupakan pekerjaan sangat mulia, yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Ia juga sangat berharap pemerintah mau membangun kampus khusus anak-anak berkebutuhan khusus. “Sekarang kan belum ada ada kampus khusus mereka. Jadi kalau mau kuliah, susah mereka. Bagusnya kalau pemerintah juga bangun kampus buat mereka, supaya mereka bisa terus menempuh pendidikan setinggi-tingginya,” kata Mustahira penuh harap. (*/rus/b)