MAKASSAR, BKM– Banyaknya Film yang hanya di sebagai Produk dagangan tanpa memperdulikan estetika film yang menarik.
Hal tersebut disampaikan dalam Workshop Kritik Film & non Kritik yang diselenggarankan oleh Apresiasi Film Perfilman (AFI) 2017 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat pengembangan perfilman mulai tanggal 4-5 September 2017.
Tim Pusbang Film Kemendikbud, Wina Armada Sukardi mengatakan, sebelum mengetahui lebih dalam atau mengkritik bagaimana perfilman saat ini, masyarakat perlu tahu terlebih dahulu sejarah perfilman untuk menangkap pesan didalam film tersebut.
“Sejarah dalam perfilman ini kurang banyak, kritik film itu banyak yang baca 1,7 juta orang, kita percaya nulis itu bagus asal kita tahu dan tahu estetika perfilaman, “ungkapnya di Hotel Aryaduta Makassar, Senin (4/9).
Sekertaris Dewan Pers ini juga menganggap estetika film yang menarik, tidak hanya dianggap dagangan melainkan menampilkan ciri khas tersendiri bagi penikmat perfileman di Indonesia.
“Ada empat anggapan perfilaman soal film yang pertama film sebagai dramatik, semiologi, linguistik ‘bahasa’ dan sebagai konten produk ekonomi,” jelasnya.
Kegiatan Workshop ini pertama kali dilakukan di Makassar menginggat saat ini Kemendikbud sedang memperhitungkan Makassar sebagai kota berkembang terkait perfilman.
“Ini pertama kali kita lakukan di Makassar menginggat saat ini Makassar sudah banyak memproduksi film yang menggangkat budaya Makassar dan daerah lainnya di Sulsel, “ujarnya.(ita)