Site icon Berita Kota Makassar

Pakai Tongkat dan Kursi, Usung Lagu I Have A Dream

AJANG Makassar International Eight Festival and Forum atau lebih dikenal dengan sebut F8 kembali digelar tahun ini. Berlangsung 6-10 September di Anjungan Pantai Losari, berbagai kegiatan digelar. Tak terkecuali yang diperuntukkan bagi para penyandang disabilitas.

Laporan: Arif Alqadry

KETERBATASAN fisik bukanlah penghalang bagi mereka untuk tidak kreatif dan jauh dari prestasi. Melalui paduan tari dan suara, para penyandang disabilitas dari Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar ingin membuktikan kemampuan yang mereka miliki.
Pada pelaksanaan pembukaan event F8, Rabu besok (6/9), Pemerintah Kota Makassar melibatkan para penyandang cacat itu. Mereka akan tampil menghibur pengunjung event internasional dengan tarian dan lagu yang dipentaskan di atas panggung.
Dengan mengusung lagu dari Westlife berjudul I Have A Dream, 28 orang penyandang disabilitas nantinya tampil menggunakan tongkat dan kursi roda menghibur pengunjung. Sebagai persiapan, mereka menggelar latihan di Anjungan Pantai Losari Makassar, Senin sore (4/9).
Adu Mandir, pelatih tari dari Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar mengaku sangat bangga dapat dilibatkan tampil dan menghibur masyarakat luas di even internasional ini. Anak asuhnya akan menampilkan paduan tari dan suara yang berlangsung selama lima menit.
Menurutnya, penyandang disabilitas dari Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar sudah sering tampil menghibur masyarakat. Baik di luar maupun dalam Kota Makassar. Mereka selalu membawakan Tari Kursi ala disabilitas.
“Latihannya sudah mantap. Kita yakin dapat memberikan penampilan yang sempurna. Kita juga sudah sering tampil. Seperti pengalaman di Jeneponto beberapa bulan lalu. Di event F8, penarinya ada 28 orang. 11 penari perempuan dan lebihnya laki-laki menggunakan tongkat dan kursi roda,” ucap Adu Mandir usai latihan.
Alasan memilih lagu dari Westlife berjudul I Have A Dream, karena syairnya menceritakan tentang keinginan dan cita-cita. Diharapkan melalui lagu itulah, semua cita-cita para penyandang disabilitas dapat terwujud.
Kelompok tari penyandang disabilitas ini telah terbentuk sejak Agustus 2016. Untuk menyatukan gerakan, para peserta dilatih seminggu dua kali. Latihan dilakukan dalam panti dengan bantuan fasilitas yang baik.
“Fasilitas lengkap. Ada radio dan ruangan yang luas. Jadi latihannya kita di dalam panti saja waktu malam hari,” ujarnya.
Tidak ada yang sulit untuk membentuk penyandang cacat sebagai penari dan menyatukan gerakan mereka. Semangat dan percaya diri menjadi kunci keberhasilan ciptakan gerakan yang sempurna.
“Ini menjadi suatu kebanggaan. Karena penyandang disabilitas dengan keterbatasan fisik dapat tampil di depan umum. Ini begitu jarang. Selana ini teman-teman hanya terpaku dalam panti. Kegiatan ini menjadi menjadi motivasi dan merangsang kepercayaan diri untuk terus kreatif dan percaya diri. Terakhir, orang-orang tidak lagi memandang sebelah mata penyandang disabilitas,” tandasnya.
Salah seorang penari penyandang disabilitas, Haerun Nisa juga mengaku sangat bangga mendapat undangan tampil menghibur tamu-tamu luar negeri dan dalam negeri di event F8. Tampil di F8 menjadi pengalaman yang penting bagi dirinya. Apalagi disaksikan ribuan orang.
“Saya sudah delapan bulan dalam panti. Ini pengalaman baru saya tampil di depan umum. Saya saya harus mampu membuktikan kalau penyandang disabilitas juga kereatif,” imbuhnya. (*/rus)

Exit mobile version