MAROS, BKM — Sekolah berbasis taruna biasanya sangat identik dengan kekerasan. Baik sesama peserta didik maupun pengajar kepada tarunanya. Namun berbeda halnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kehutanan Widya Nusantara Mandai yang mulai mengikis stigma itu.
Melalui berbagai inovasi, SMK swasta yang berdiri tahun 2006 silam ini, menerapkan sistem pendidikan berbasis ramah anak dengan pola pembelajaran disiplin positif. Keberhasilan sekolah inipun telah banyak diakui beberapa lembaga pemeritah di daerah maupun nasional.
Iin Nirwana, siswa kelas tiga SMK Kehutanan Widya Nusantara Mandai, bersama lebih dari 150 orang siswa lainnya, terlihat riang gembira setelah sekolahnya itu menggelar Outdoor Class Room Day atau hari belajar di luar kelas, Kamis (7/9).
Di luar kelas, Iin bersama teman-temannya itu, belajar berbagai hal yang mereka tidak dapatkan di ruang kelas. Mulai dari sarapan bersama, bermain hingga bergotong royong. Ada banyak nilai yang ingin ditanamkan dengan metode pembelajaran itu.
”Kami sangat senang ada kegiatan seperti ini. Karena ada banyak hal yang selama ini tidak kami dapatkan dalam pembelajaran dalam kelas,” kata Iin saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Kepala SMK Widya Nusantara, Bagus Sudibyo, menjelaskan, kegiatan ini merupakan kampanye percepatan penerapan sekolah ramah anak. Dimana, pihaknya mendorong sistem pembelajaran di sekolah tidak monoton hingga peserta didik bisa lebih menggali potensi dirinya secara maksimal.
”Kita ingin mengampanyekan, belajar itu tidak melulu di ruang kelas. Ada banyak hal di luar kelas yang bisa menjadi objek pendidikan bagi sebagian siswa. Semuanya lebih pada nilai untuk membangun karakter,” terangnya.
Lanjut Bagus mengatakan, Outdoor Class Room Day ini serentak dilaksanakan di banyak daerah di Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Perlindungan Perempuan dan Anak, Kemenag serta beberapa institusi lainnya.
”Harapannya, melalui momen ini, sekolah bisa lebih cepat menerapkan kegiatan yang mendukung program sekolah ramah anak,” ujarnya.
Menurutnnya, pola kekerasan yang selama ini banyak dipraktikkan di beberapa sekolah taruna. Terbukti tidak gagal menciptakan nilai dan karakter positif peserta didik. Malahan, kata dia, kecenderungan destruktiflah yang lahir dari sistem itu.
”Sudah banyak kasus kekerasan yang mengakibatkan banyak hal negatif selama ini. Nah makanya kami ingin mengikis semua itu dengan berbagai kegiatan positif,” terangnya.
Ketua DPRD Maros, Chaidir Syam yang juga hadir, menyambut baik kegiatan tersebut. Pasalnya, kegiatan itu sangat mendukung program pemerintah dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA). Dukungan pihak sekolah menjadi syarat mutlak terwujudnya program tersebut.
”Saat ini, kita sudah menggodok Peraturan Daerah (Perda) tentang KLA itu. Makanya, kegiatan seperti harus kita dukung dan dorong lebih massif lagi, guna terwujudnya Maros KLA ke depan,” paparnya.
Baru-baru ini, SMK Kehutanan Widya Nusantara menjadi satu-satunya sekolah di Sulawesi yang berhasil menyabet penghargaan sekolah ramah anak terbaik tingkat nasional dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPA). (ari/mir/c)