Site icon Berita Kota Makassar

Ada Terowongan Sepanjang 1,7 Km di Poros Camba

MAKASSAR, BKM — Pembangunan ruas jalan Maros-Bone terus dilakukan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XIII Makassar. Di mana saat ini sedang berlangsung pembangunan proyek Elevated Road (Jalan Layang) Segmen 1.
Untuk melihat perkembangan proyek ini, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo melakukan kunjungan, Kamis (14/9). Dalam kesempatan tersebut dirinya meminta agar penyelesaian jalan layang sepanjang 316 meter dilakukan Desember akhir tahun ini.
Tak hanya itu, usai melakukan diskusi dengan pihak BBPJN XIII, SYL meminta agar kelanjutan pembangunan poros Maros-Bone dibuat dalam bentuk terowongan. Khususnya yang ada di segmen dua.
“Di ujung elevated, saya minta pelaksana proyek agar jalannya tidak naik ke gunung, tapi menggunakan terowongan. Setelah dihitung panjangnya sekitar 1,7 kilometer,” katanya, usai meninjau proyek Elevated Road.
Syahrul menjelaskan meski biayanya untuk membuat terowongan lebih mahal. Namun dengan model terowongan maka pembangunan tidak akan merusak kawasan hutan yang masuk dalam Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TNBB).
Lebih jauh Syahrul mengungkapkan jika poros Maros-Bone merupakan urat nadi perekonomian bagian tengah Sulsel. Selain itu, jalan ini menghubungkan Sulsel dengan Sulawesi Tenggara.
“Desember kita harap elevatednya selesai. Ini akan berlanjut sampai segmen dua dan tiga sampai Sumpang Labbu di Bone. Kalau dilihat dari apa yang ada, kontruksi yang paling utama adalah tidak bergeser dari jadwal,” harapnya.
Terkait masalah lahan yang belum dibebaskan, Syahrul berharap, pemerintah daerah akan melakukan koordinasi terutama dengan TNBB. Sebab selain pembangunan elevated, juga ada pelebaran jalan sepanjang 2 Km dan pembangunan jembatan.
Kepala Bidang Pembangunan dan Pengujian Balai Besar Jalan Nasional Wilayah XIII Makassar, Budiamin menjelaskan saat ini progres pembangunan proyek senilai Rp167 miliar sudah mencapai 59 persen. Khusus untuk pengerjaan Elevated Road sudah mencapai 90 persen.
“Kita usahakan untuk Elevated Road bisa selesai Desember. Tapi secara keseluruhan dengan pengerjaan jalannya kontraknya sampai bulan Juli 2018. Karena memang ada penambahan kontrak,” jelasnya.
Perubahan jadwal ini lebih disebabkan karena adanya perjanjian kerjasama yang harus diselesaikan lebih dulu antara kontraktor dengan pihak TNBB. Sehingga pengerjaan fisik yang harusnya dimulai November 2015 molor sampai ke Maret 2016.
Terkait keputusan membuat terowongan, masih dalam pembahasan. Sebab, selama ini desain sampai pengerjaan segmen 2 dan 3 sudah disetujui. Namun dengan terowongan lebih aman dan tak menganggu ekosistem hutan lindung.
“Sebagai alternatif kita rencanakan buat terowongan. Itu juga dari wacana agar lebih ramah lingkungan. Tapi sejauh ini untuk segmen dua belum dibahas anggarannya,” tutupnya. (rhm)

Exit mobile version