MAKASSAR, BKM– Meski belum ditemukan peredarannya di Kota Makassar dan 23 kabupaten/kota di Sulsel, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel, tetap mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan menjauhi narkoba jenis baru yaitu Flaka atau PCC.
Sebelumnya sempat beredar di internet dengan munculnya postingan yang menggambarkan beberapa orang tampak seperti “zombie” di Kendari. Kelakuannya aneh, meraung-raung sendiri, dan tampak seperti orang gila. Diduga beberapa orang dalam postingan tersebut merupakan pengguna narkotika jenis baru, yaitu Flaka.
“Kalau di Sulsel kami belum ditemukan, termasuk belum menemukan indikasi adanya tanda-tanda efek flaka seperti yang terjadi di Kendari. Kami belum termonitor, flakaberada di Sulsel,” jawab Kepala BNNP Sulsel, Mardi Rukmianto kepada BKM, Kamis (14/9).
Walaupun belum ditemukan peredarannya di Susel, Mardi tetap mengimbau masyarakat untuk lebih menjaga keluarganya seperti anak-anaknya agar tidak mendekati barang haram tersebut. Sebab selain dapat merusak mental penggunanya, flaka juga bisa langsung menyebabkan kematian.
Senada dikatakan, Kabid Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Sulsel, Jamaluddin. menurutnya, tidak menutup kemungkinan narkoba jenis Flaka sudah beredar di Kota Makassar. “Kita harus waspada dan mungkin saja sudah ada, hanya saja belum ada informasi diperoleh,” jelasnya.
Narkoba jenis ini diduga telah masuk di Indonesia. Di Kendari, 30 remaja mengalami gangguan mental dan kejang-kejang karena diduga habis mengkonsumsi flaka.
Diketahui, Flaka adalah narkoba jenis baru yang sangat berbahaya. Efek samping orang yang telah mengkonsumsi narkoba jenis ini sangat mengerikan dan membahayakan. Orang yang mengkonsumsi flaka akan menjadi terlihat seperti orang gila karena efeknya yang dapat membuat orang terlihat senang. Namun hal tersebut hanya berangsung sementara saja, karena setelah itu sang pemakai akan kehilangan kontrol dan emosinya akan meledak secara tiba-tiba.
Ketua Gerakan Anti Narkoba Makassar, Arman Mannahau menegaskan, apa yang terjadi di Kendari harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pemegang kebijakan di Makassar untuk mengantisipasi kejadian serupa tidak terjadi.
“Kalau di Kendari saja, peredaran obat PCC atau Flakka itu sudah meresahkan dan menimbulkan korban, apalagi di Makassar yang lebih modern daya hidupnya lebih tinggi, ” ungkap Arman, kemarin.
Dia menekankan, semua stakeholder terkait mulai dari pemerintah, BNN provinsi/kota, hingga praktisi obat-obatan dalam hal ini apoteker dan pemilik apotek/toko obat harus mulai melakukan deteksi dini. Jangan tunggu sampai ada korban yang jatuh baru bergerak. Apalagi, PCC atau biasa disebut Flakka bisa diperoleh dengan harga murah.
Harus ada gerakan cepat dilakukan mengingat dampak yang ditimbulkan dari penggunaan obat tersebut sangat berbahaya.
Pemerintah harus segera melakukan komunikasi dan koordinasi dengan para penyedia obat untuk melakukan rembuk bersama bagaimana mengantisipasi beredarnya obat itu secara bebas di masyarakat. Karena seharusnya obat itu bisa diperoleh hanya dengan resep dokter.
Untuk masyarakat, dia menekankan agar memperhatikan tingkah dan pola orang-orang, utamanya anak muda jika ada tindak tanduknya yang mencurigakan. Sampaikan ke aparat atau BNN agar bisa segera ditindaklanjuti.
“Dibutuhkan tindakan preventif dan deteksi dini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat dampak yang ditimbulkan obat jenis ini sangat berbahaya karena bisa merusak saraf hingga otak dan membuat orang yang mengonsumsi jadi cacat, ” pungkasnya. (rhm-nug-jun-int/war/b)
