Site icon Berita Kota Makassar

Sempat Diupah Rp50 Rupiah di Pabrik Lem

BAGI WARGA Kota Makassar yang ingin menikmati segarnya minuman Banjarnegara tidak perlu repot-repot ke Jawa Tengah. Di Kota Makassar, minuman segar yang sering disebut es dawet atau es cendol sangat mudah diperoleh.

Laporan: ARIF AL QADRY

Apalagi, melintasi di Jalan Hertasning Raya, tepat depan kantor PT PLN Sulselrabar, aktivitas pedagang kaki lima (PKL) cukup ramai. Warga bisa memilih berbagai macam jajajan mulai dari rujak buah, tape sampai minuman segar yang dingin khas Jawa Tengah itu.
Siang kemarin sekira pukul 14:00, penulis memantau aktivitas PKL di Jalan Hertasning. Dari deretan gerobak PKL yang ada, satu gerobak berwarna hijau terlihat yang paling banyak dipadati. Masyarakat rela menunggu antrian untuk menikmati segarnya secangkir minuman berbahan dasar tepung beras dicampur daun pandan serta kuah santan dan gula aren.
Harganya juga sangat terjangkau, hanya Rp5 ribu segelas es dawet sudah dapat dinikmati di tempat atau di bungkus dan membawa pulang.
Ditemui di tempat jualannya, Nurulloh penjual es dawet mengatakan, setiap hari jualan es dawetnya selalu ramai diserbu masyarakat apalagi di siang bolong. Setiap hari, pria kelahiran Banjarnegara, 10 Februari 1996 itu mampu menjual es dawet 100 gelas atau sampai 150 gelas. Ia mulai berjualan dari pukul 10:00 sampai 17:00.
“Setiap hari selalu ramai apalagi siang hari. Kalau pulang tidak pernah sisa, biasanya malah nambah 50 sampai 60 gelas setiap hari,” katanya.
Menurut Nurulloh, es dawet yang dijual diperoleh dari bos yang juga asal dari Jawa Tengah. Nurulloh bersama teman-temannya dari Banjarnegara hanya menjaga dan melayani pembeli yang datang. Dengan upah setiap bulannya Rp600 ribu. Beda dengan persenan yang dia dapat dari hasil penjualannya.
“Saya juga dapat persenan setiap hari dari hasil penjualan 10 persen,” sebutnya.
Sebelum ke Makassar pada Februari 2017 mengikuti ajakan dari teman-temannya berjualan es dawet, Nurulloh sebelumnya pernah bekerja di pabrik lem di Semarang. Saat itu dia bekerja sebagai driver antar barang. Tiga tahun bekerja di pabrik lem dengan upah Rp50 ribu perhari, Nurulloh mengajukan pengunduran diri dari tempat dia bekerja. Alasannya pada saat itu dia ingin menjaga ibunya di Banjarnegara yang sedang jatuh sakit. Setelah mendapat persetujuan dari tempat kerjanya, dia kemudian bergegas ke rumah keluarganya yang dia tempati tinggal selama berada di Semarang.
“Selama berada di Semarang saya tinggal di rumah tante saya. Saya juga sempat meminta izin untuk pulang ke kampung halaman untuk jaga ibu saya. Mereka dapat kabarnya juga jadi saya langsung diantar ke kampung,” sebutnya.
Setelah kondisi ibunya sudah membaik, dia mulai pusing untuk mencari pekerjaan. Apalagi ayahnya lebih memilih tinggal bersama istri keduanya. Sedangkan dua saudara kandungnya dari ibunya semuanya telah berkeluarga dan tinggal bersama berkelurganya.
Merasa tabungannya sudah mulai menipis, dia kemudian mencari pekerjaan. Tetapi tidak punya niat lagi untuk kembali ke tempat dulunya bekerja. Dengan alasan selain jauh, upah yang dia dapatkan tergolong kecil.(*)

Exit mobile version