MAROS, BKM — Masyarakat yang bermukim di Dusun Bugis, Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, mengeluhkan banyaknya debu yang beterbangan di jalan. Ini disebabkan kepulan truk pengangkut tambang galian C.
Tebalnya debu yang beterbangan membuat warga yang bermukim di tempat ini, sering merasakan sesak nafas. Tidak hanya itu, debu juga masuk ke dalam rumah warga dan mengotori perabotan rumah. Polusi udara ini disebabkan banyaknya truk pengangkut material tanah yang melintas di tempat ini.
Fachmi, salah seorang warg setempat, menuturkan, truk pengangkut tanah tersebut mulai beroperasi sejak subuh hari hingga malam hari. Warga kecewa. Sebab tak ada satu pun pihak dari perusahaan yang menambang melakukan penyiraman di jalan untuk mengurangi dampak debu yang ditimbulkan. Pihak perusahaan seolah-olah acuh terhadap keluhan warga.
”Sudah lama orang mengeluh. Cuma tidak ada yang berani demo itu mobil truk tanah yang lewat. Apalagi kalau kosong muatannya, sopir truk ugal-ugalan sekali caranya bawa mobil. Sepertinya itu jalanan milik pribadinya,” keluhnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Tenrigangkae, Wahyu Febri, mengatakan, pada dasarnya pihaknya juga gerah terhadap truk yang melintas dengan kecepatan tinggi. Hanya saja, mereka tidak punya kuasa untuk melarang truk pengangkut tambang melintas di wilayahnya. Dia mengingatkan kepada pengelola tambang untuk mengikuti aturan yang ada. Termasuk aturan pemberlakuan waktu pengangkut tambang.
”Setahu saya, ada waktu-waktu tertentu pengoperasian kendaraan pengangkut tambang. Mereka boleh mengangkut hanya sampai pukul 16.00 Wita. Tapi banyak truk yang beroperasi sampai malam. Ini jelas meresahkan warga,” bebernya. (ari/mir/c)