Site icon Berita Kota Makassar

Syahrul Kontrol Garam di Sulsel

Area pegaraman rakyat di dusun mondung, desa dasuk, kecamatan pademawu pamekasan madura. Terlihat petani garam sedang memanen garamnya yang ke enam kalinya dalam musim tahun 2014 ini, setiap kali panen di lahan seluas satu hektar memperoleh sekitar kurang lebih 7 ton garam. Jika cuaca mendukung, dalam 1 bulan bisa 2 kali panen, menurut pak eko (31) yang sedang mengais garam dengan alat “sorkot” / pengais, pak eko juga dibantu rekannya sesama buruh pengais garam pak johan (35), mereka dibayar 30 ribu rupiah per sekali borongan dalam 1 hektar lahan garam yang dipanen. Harga garam akhir-akhir ini turun dari Rp500.000,- menjadi Rp 450.000,- “menurut pak johan”.

MAKASSAR, BKM — Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pihaknya akan mengontrol produksi garam di empat kabupaten sentra produksi garam di Sulsel.
“Desember ini saya akan kontrol daerah sentra produksi garam agar daerah produksi garam yang paling siap adalah Sulsel,” kata Gubernur Syahrul yang ditemui di Makassar, Jumat (15/9).
Daerah produksi garam yang menjadi perhatian gubernur antara lain Kabupaten Jeneponto, Takalar, Pangkep, dan Maros.
“Di empat daerah itu pak bupati harus benar-benar memperhatikan produksi garam, baik garam untuk industri maupun garam untuk konsumsi,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Sulkaf S. Latief mengatakan pihaknya akan memfokuskan pengembangan usaha garam rakyat sebagai salah satu prioritas program.
“Ada empat kabupaten sentra produksi garam di Sulsel yaitu Takalar, Jeneponto, Selayar dan Pangkep. Kita memiliki program pengembangan usaha garam rakyat di tahun 2017 ini,” katanya.
Sementara Kepala Bidang Pengembangan dan Penataan Ruang Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nasir Malawi mengakui luas areal potensial untuk produksi garam di Sulsel mencapai 1962 ha.
“Dari luas area potensial tersebut, luas area produksi dari program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (Pugar) mencapai 900 ha, sementara di luar Pugar seluas 300 ha,” kata Nasir.
Ia mengatakan, pada tahun 2016 lalu, produksi garam Sulsel anjlok ke angka 13 ribu ton per tahun, padahal di tahun 2015 produksinya mencapai 115 ribu ton.
Penurunan produksi yang cukup signifikan ini, menurut dia, sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca di tahun 2016.
“Pada tahun 2015 musim kemarau cukup panjang sehingga produksi bisa optimal, sementara di tahun 2016 musim hujan mulai datang sejak bulan September, sehingga praktis hanya sekitar dua bulan waktu berproduksi,” jelasnya. (rhm)

Exit mobile version