Site icon Berita Kota Makassar

Pernah Dikejar Satpol PP saat Jual Pakaian Bekas

TAK ada yang salah ketika kita memiliki mimpi yang besar. Bisa saja dari sanalah titik awal kesuksesan seseorang. Hampir semua pengusaha sukses yang memulai karirnya dari nol, awalnya juga bermimpi. Setelah itu barulah diimplementasikan dengan kerja keras, ketekunan, dan mengesampingkan gengsi.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

ORANG terkaya di Asia, Jack Ma adalah salah satu contoh. Pemilik Alibaba Group ini berasal dari keluarga tak berpunya.
Saat mendirikan Alibaba pun, selama tiga bulan lamanya ia tak mendapat penghasilan sama sekali. Namun dengan keyakinan atas apa yang dikerjaannya, serta kerja kerasnya, kini ia menjadi orang tersukses di Asia.
Contoh lain misalnya pemilik perusahaan tas kenamaan Eiger, Ronny Lukito. Ia dulu hanyalah anak dari seorang penjual tas biasa. Mau kuliahpun tak bisa karena terbentur biaya.
Saat mendirikan Eiger, penghasilannya di awal-awal tergolong sangat sedikit. Bahkan hampir merugi. Namun pantang menyerah menjadi modal awalnya terus berusaha sukses, hingga kini siapa sih yang tak mengenal Eiger.
Di Makassar sendiri, ada Faradillah Alimuddin yang memiliki kisah sukses yang tak jauh dengan mereka. Wanita ini memulai karirnya dari bawah. Ia berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi rendah. Kini menjelma menjadi salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sukses di Sulsel.
Jika para pembaca mengunjungi minimarket dan menemukan jajanan makanan ringan keripik bayam organik “Ospinachi”, Faradillah lah pemiliknya. Wanita asal Makassar yang pernah menempuh pendidikan di Jurusan Agroteknologi, Unhas ini telah mengembangkan usahanya sejak 2014.
BKM menemui Farah, sapaan akrabnya di sebuah restoran cepat saji bilangan Jalan AP Petta Rani, Minggu pagi (17/9). Farah mengaku tengah menunggu salah seorang mitranya di tempat ini.
Di sela-sela menunggu, BKM berkesempatan untuk menggali informasi lebih dalam tentang kehidupan wanita kelahiran Makassar, 19 Oktober 1991 ini.
Putri pasangan Alimuddin Gani dan Rosmiati ini mengenakan jilbab berwarna coklat. Tutur katanya ramah dan sopan. Sambil disuguhi segelas minuman ringan oleh Farah, BKM dengan santai mewawancarainya di sudut dalam ruangan.
Ospinachi adalah makanan ringan yang terbuat dari bayam organik. Kemasannya pun menarik. Bisa dikatakan telah dapat bersaing dengan snack mainstream lainnya. Snack ini telah banyak dipasarkan di berbagai outlet jajanan Makassar.
Bersama dua rekannya yang merupakan co-founder,Arif Budiono dan Aswar Nur, Farah berhasil membangun Ospinachi hingga kini bisa beromzet mencapai Rp40 juta dalam sebulan. Osphinachi sendiri telah memiliki karyawan sebanyak lima orang. Mereka bertugas memproduksi sampai memasarkannya.
Di balik kesuksesannya, Farah ternyata berasal dari keluarga dengan pendapatan ekonomi yang bisa dibilang rendah. Ketika duduk di bangku SMP, kedua orang tuanya bekerja sebagai penjual jalangkote. Makanya, ia harus pula bekerja kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Saat Farah SMA, ibunya membuka usaha katering kecil-kecilan. Saat itu jugalah, Farah mulai membantu usaha sang ibu dengan mempromosikannya kesana-kemari.
Ia beruntung menjadi salah satu anggota OSIS di sekolahnya saat itu. Karena dengan begitu, saat organisasi di sekolahnya ini menggelar acara, Farah lah yang menjadi penyuplai konsumsi dari katering ibunya untuk acara tersebut.
“Kalau ada acara di sekolah, saya yang bikin makanan katering. Buat nasi dos atau kue-kue, untuk bantu orang tua,” ujar Farah mengenang.
Selain membantu ibunya memasarkan kateringnya, saat SMA pula Farah pernah menjual nasi kuning. Jadi biasanya ia telah harus menyiapkan nasi kuning dagangannya mulai subuh. Kemudian dijual saat pagi hari.
“Jam 3 saya sudah harus bangun. Kan biasa sekolah siang. Jadi jual nasi kuning di pagi hari,” ucap Farah kembali.
Ketika Farah kuliah, lagi-lagi harus kembali mencari uang sendiri. Setiap pagi di Pantai Losari, ia menjual berbagai pakaian bekas bersama dengan pelapak pakaian bekas lainnya. Ia harus juga bangun jam 3 subuh untuk mempersiapkan pakaian-pakaian dagangannya yang harus dijual saat pagi hari.
“Waktu jual pakaian bekas dulu, banyak sekali cerita saat itu. Pernah dulu kita kehujanan saat menjual. Itu bikin repot sekali. Pernah juga kita itu dikejar-kejar sama Satpol PP karena dianggap melanggar. Banyak pokoknya,” kenang Farah.
Sekarang, hidup Farah jelas sangat jauh berbeda dengan dulu. Kini ia tinggal mempertahankan kesuksesannya yang ia raih dengan susah payah. Ketekunan, kerja keras, dan mengesampingkan gengsi dengan tujuan untuk sukses, adalah tips darinya. (*/rus/b)

Exit mobile version