MEMILIKI hobi yang sama dengan beberapa orang memang menjadi hal menarik. Apalagi jika bisa berkumpul menyalurkannya. Bukan sekadar berkumpul, terkadang sebuah hobi bisa sangat bermanfaat jika dibalut dalam sebuah komunitas.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SEBUAH komunitas biasanya menjadi wadah bagi sebagian orang yang memiliki hobi serupa. Selain menyatukan hobi, perkumpulan ini juga bisa menjadi wadah dalam beredukasi. Baik itu komunitas yang memang tujuannya pendidikan, maupun yang terbilang unik.
Makassar Reptile Independent (Macraei) adalah salah satu komunitas pecinta hewan-hewan reptil di Makassar. Anggotanya rutin melakukan aksi mempertontonkan hewan-hewan peliharaan mereka setiap dua minggu sekali. Kadang di Pantai Losari, biasa juga di Benteng Rotterdam.
Saat melakukan aksi, Macraei tidak hanya mempertontonkan hewan belaka. Lebih dari itu. Ternyata aksi mereka begitu kental unsur edukasi yang disampaikannya.
Ketua Komunitas Macraei Muhammad Norman Masmur misalnya. Sedari kecil ia memang menyukai hewan. Tapi, barulah saat kuliah ia rutin memelihara hewan-hewan reptil di rumahnya.
Berawal dari situ, Norman –sapaan akrabnya– lebih foskus pada hobinya ini. Bersamaan dengan itu pula, muncul keinginan mulia untuk terus mengedukasi masyarakat luas bahwa reptil itu tidak ganas dan bisa dipelihara.
“Selain mempertontonkan hewan-hewan, kami juga mengedukasi tentang bagaimana reptil itu. Tujuan kami sebenarnya adalah mengubah paradigma masyarakat tentang sisi negatif reptil. Kan banyak yang menduga kalau reptil itu ganas dan tidak bisa dipelihara. Padahal sebenarnya bukan begitu,” jelas Norman.
Ada beberapa hewan reptil yang dipelihara oleh Norman dan teman-teman komunitasnya. Antara lain ular, iguana, kadal gurun, biawak, sampai buaya.
Namun untuk buaya, tidak pernah dibawa oleh Macraei. Karena bagi komunitas ini, buaya adalah hewan yang dilindungi dan tak boleh dibawa sembarangan.
Ular dan iguana sendiri ada berbagai jenis yang selalu dipertontonkan. Misalnya phiton jenis burmese, phiton retik, dan phiton boa. Untuk iguana, ada iguana yang berwarna merah, hijau, biru, kuning, dan albino.
Biasanya anggota Macraei melakukan aksinya di Pantai Losari dan Benteng Rotterdam Makassar dengan membawa sendiri beberapa reptilnya. Reptil-reptil itu dibawa memakai tas yang digunakan khusus untuk mengangkut hewan-hewan seperti ular, iguana, dan sebagainya.
Setelah sampai di lokasi, barulah dilepas bebas. Tentu dengan diawasi langsung oleh para anggota komunitas.
Selain membawa reptil, saat melakukan aksi tak lupa mereka membawa beberapa x-banner yang akan dipajang di sekitar lokasi aksi. X-banner itu berisi tentang berbagai pengetahuan tentang reptil dap bagaimana cara pemeliharaannya.
“Kita juga biasa bawa x-banner. Biasanya berisi tentang info pemeliharaan reptil,” kata Norman.
Para pengunjung yang datang pun amat beragam. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak. Mereka ada yang hanya sekadar melihat-lihat atau berfoto bersama reptil. Tapi ada pula yang bertanya tentang info pemeliharaan sampai ingin membeli reptil tersebut.
Norman menjelaskan jika kegiatan yang ia lakukan semuanya murni karena hobi. Komunitasnya sama sekali tak menerapkan tarif saat berfoto maupun bertanya-tanya mengenai info tentang reptil.
Namun ia tak menutup kemungkinan juga jika ada beberapa orang yang tertarik dan ingin sekali membeli reptil di komunitasnya. “Kalau ada yang mau beli, kita tidak keberatan jika kesepakatannya baik. Karena ada beberapa teman-teman yang biasa jual. Tapi sebenarnya ya kita lebih kepada tindakan edukasi. Bukan ke profit,” ucap Norman. (*/rus/b)