KETIKA sebuah hobi yang sama dari beberapa orang disatukan dalam sebuah komunitas, maka jelas hal itu akan lebih bermanfaat. Bukan hanya dari segi saling bertukar pikiran, namun bisa juga saling mengedukasi bagi orang banyak. Selain itu, dinamika dalam menyalurkan hobi ini juga akan lebih beragam.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
BERGABUNG dalam sebuah perkumpulan, tentu akan semakin banyak suka dan duka yang dialami. Karena hobi yang telah menyatu menjadi sebuah komunitas, akan senantiasa berhubungan dengan orang lain secara umum. Baik itu dengan sesama anggota, maupun masyarakat umum.
Norman menjelaskan, Macraei terbentuk sejak 2013 lalu. Hingga kini sudah ada 25 anggota yang tergabung di dalamnya. Mereka berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari anak-anak, siswa SMA, mahasiswa, hingga orang tua. Semuanya tentu saja pecinta reptil. Ada yang memelihara ular, iguana, kadal gurun, biawak, dan reptil lainnya.
Saat memamerkan reptilnya, banyak cerita menarik yang dialami beberapa anggota Macaei. Norman pun dengan gamblang menceritakan semua pengalaman-pengalaman itu. Ada yang menyenangkan, ada pula yang bikin gemas.
Pernah suatu hari saat para anggota Macraei memamerkan reptilnya, ada pengunjung yang mengira ular yang dipegangnya adalah mainan. Saat pengunjung itu memperhatikan dengan seksama, barulah ia sadar bahwa ular tersebut adalah asli dan hidup. Akhirnya pengunjung itupun sampai berteriak-teriak ketakutan.
Norman pun dengan sigap langsung memberitahukan kepada pengunjung tersebut bahwa ular yang dibawanya sudah jinak.
“Kita sampaikan sama pengunjung kalau ular ini jinak. Kita kasih tahu juga kalau ular yang kita bawa tidak ada yang berbisa. Akhirnya, dia pun langsung tenang,” terang Norman.
Pernah juga ada pengunjung yang mau sekali memegang ular. Tapi setelah dipegang, ia malah ketakutan. Secara refleks, pengunjung tersebut langsung melempar ular itu menjauh darinya. Pengunjung yang seperti ini, dikatakan Norman, yang terkadang membuatnya gemas.
Ia mengatakan, jika hewan, apapun itu tak boleh disakiti. Apalagi reptil seperti ini yang tiba-tiba langsung dilemparnya. Namun Norman mengaku ia tak boleh marah menyikapi pengunjung seperti ini. Karena itu merupakan bagian dari refleksnya saat ketakutan.
Masih banyak lagi cerita menarik dari komunitas ini. Misalkan saja, Norman mengatakan jika pernah suatu hari seorang temannya sampai pingsan melihat ular miliknya. Itu terjadi karena phobia yang dialaminya saat melihat reptil.
Di kesempatan lain, pernah ada anak kecil yang tak mau pulang karena saking sukanya dengan reptil yang dipamerkan. “Banyaklah cerita kami selama ini. Seru pastinya,” sergah Norman.
Ia lalu memberi sedikit tips bagi yang ingin memelihara reptil, apalagi ular. Baginya, semua hewan liar tetap memiliki sisi liar sebagaimanapun jinaknya.
”Jika hendak memegang dan mengambil ular, ambillah dari bagian belakangnya. Jangan melalui bagian depannya, karena bisa saja ular tersebut menganggap kita sebagai mangsa,” ujarnya.
Makanannya juga harus sesuai. Ular ukuran kurang lebih satu meter, diberikan makan seekor mencit saja. Jika panjangnya telah mencapai lebih dari satu meter, barulah diberi makan seekor ayam atau kelinci.
Norman juga tak lupa berpesan kepada masyarakat agar berhati-hati jika tiba-tiba ada seekor ular masuk ke dalam rumah. Menurutnya, ular tersebut jangan langsung dibunuh atau disakiti.
Ia lebih menyarankan untuk mengambil sebuah tongkat atau sapu saja. Kemudian dorong keluar rumah atau memanggil orang yang ahli. “Yang jelas, ular atau reptil lainnya tidak akan mengganggu kita kalau kita juga tidak mengganggu mereka,” kunci Norman. (*/rus/b)
