Site icon Berita Kota Makassar

Berjualan Sejak Berumur 15 Tahun

BAKSO tentunya tak asing lagi di pendengaran masyarakat di Indonesia. Bakso adalah salah satu makanan yang popular apalagi bulatan daging yang digemari.

Laporan: ARIF AL QADRY

Meski belum diketahui siapa yang memperkenalkan bakso terlebih dahulu, termasuk resepnya tetapi kini bakso menjadi trend makanan masyarakat, termasuk penjual bakso di depan Kantor Pos Jalan Balai Kota.
Bakso di Jalan Balai Kota tersebut terbilang laris, mungkin resep yang diracik Muliyati tergolong lain daripada penjual bakso lainnya di Kota Makassar.
Pasalnya, setiap hari baksonya ludes habis oleh penikmat bakso yang rata-rata dari pegawai lingkup Pemerintah Kota Makassar.
Puluhan tahun sudah Mulyati menjalani profesinya sebagai pedagang bakso sejak berumur 15 tahun. Ibu yang memiliki delapan orang anak ini sebelum menggeluti bisnis usaha ini awalnya ia pernah berjualan bakso tusuk. Namun karena alasan bangkit dan sukses akhirnya ia lebih memilih untuk membuat usaha bakso bersama mie yang dagangannya itu ia produksi sendiri.
Wanita yang lahir di Kota Makassar tepatnya 28 Mei 1979 itu mengawali usaha dari pedagang bakso rumahan.
Awalnya karena keterbatasan modal, dia memulai jualan kecil-kecilan di teras rumahnya di Jalan Maccini Gusung, Setapak 9, Kecamatan Makassar.
Namun dengan berjalannya waktu, dia akhirnya bisa melebarkan usahanya hingga berjualan di depan Kantor Balai Kota, Makassar.
Hal itu dia lakukan semata-mata hanya untuk dapat bertahan hidup dan menambah pendapatan yang hasilnya dapat dia tabung untuk masa depannya.
Anak kelima dari enam bersaudara itu mengatakan, sejak berumur delapan bulan ia sudah ditinggal mati kedua orang tuanya. Bapaknya bernama Dg Janang meninggal diusia (40) tahun dan hanya berselang sebulan ibunya yang bernama Dg Isa juga meninggal dunia diusia (39) tahun.
Bahkan dia juga mengaku hanya dapat menikmati dunia pendidikan hingga di bangku kelas 5 di SD Bawakaraeng karena sudah tidak mampu lagi membayar uang sekolah.
Untuk biaya sehari-hari pun dia masih pas-pasan, terlebih lagi harus membayar biaya sekolahn yang ditanggung oleh salah satu kakaknya yang bekerja sebagai penjual kantong plastik di Pasar Terong. Sementara beberapa saudaranya juga sudah berkeluarga, dan untuk biaya keluarganya saja belum cukup.
Tidak ada kata lain, dia memilih untuk berhenti bersekolah dan memilih untuk mewujudkan mimpinya sebagai pengusaha kuliner yang sukses.”Saya dari kecil sudah buka usaha di rumah seperti jualan bakso, mie siram dan krupuk jajanan anak sekolah. Mau bagaimana lagi, saya juga malu minta sama saudara karena saudara saya. Jadi saya mending minta dukungan saja ke mereka untuk membantu buka usaha makanan di rumah,” katanya.
Alhasil, usaha yang ia rintis dari modal saudaranya dengan membuka usaha berupa kantin lorong membuahkan hasil. (arf)

Exit mobile version