BERBUAT baik tak semudah ketika berbuat kejahatan. Kebaikan itu ibarat sebuah berlian, mahal harganya. Tapi apabila kita bisa memilikinya, maka sebuah keindahan yang hakiki akan selalu kita pandang.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SEBUAH kebaikan yang punya arti besar adalah kebaikan yang tak mengharap imbalan apapun. Artinya, berbuat baiklah secara ikhlas. Kenikmatan dari sebuah keikhlasan itu hanya akan terasa jika seseorang mengerti makna saling berbagi yang dianjurkan oleh Tuhan.
Berbagi bisa dalam bentuk apapun. Baik itu berupa materi, benda, jasa, maupun ilmu. Setidaknya saling berbagi yang dilakukan akan memberikan dampak yang positif. Entah berefek besar ataupun kecil, setidaknya bermakna.
Dari illustasi itu, mungkin salah seorang yang tepat bisa dijadikan contoh adalah Asmitha Hamzah. Cewek yang karib disapa Mitha ini adalah pendiri Komunitas Writing for Inspiration. Komunitas yang bergerak di bidang edukasi bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Lebih spesifik lagi, yang didirikan Mitha ini adalah komunitas yang mengedukasi anak-anak penyandang disabilitas untuk menulis. Tulisan yang dimaksud adalah sebuah cerita inspiratif dari anak-anak penyandang disabilitas yang mereka tulis sendiri.
Cerita yang dibuat itu nantinya dikumpulkan menjadi satu dalam sebuah buku. Selanjutnya, buku yang telah diterbitkan itu akan disebar ke berbagai lapisan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas lainnya. Supaya bisa memberikan inspirasi hidup bagi sesama.
Saat ini Mitha tercatat sebagai mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar (UNM) angkatan 2013. Ia lahir di Kabupaten Enrekang, 23 Oktober 1994. Orang tuanya bernama Hamzah (bapak) dan Normawati (ibu). Bungsu dari lima bersaudara ini memang memiliki hobi menulis, dan juga bermain bulutangkis.
BKM menemui Mitha di kediamannya Jalan Daeng Tata Raya. Dalam suasana tenang di sekitar rumahnya, Mitha yang mengenakan jilbab berwarna abu-abu dangan baju lengan panjang berwarna biru melayani wawancara.
Dengan disertai senyum yang selalu tersungging, ia bercerita tentang apa yang dilakoninya selama ini. Sebelum membentuk komunitas Writing for Inspiration, pernah suatu hari Mitha membaca sebuah artikel yang cukup menyita perhatiannya.
Dalam artikel itu dituliskan bahwa dari tahun ke tahun, semakin banyak saja orang-orang di dunia yang melakukan bunuh diri. Parahnya, sebagian besar yang melakukannya adalah orang-orang penyandang disabilitas.
Di situ dikatakan pula, bahwa penyebab terbesar dari orang-orang penyandang disabilitas melakukan bunuh diri karena tekanan psikologis yang membuat mereka tak betah untuk melanjutkan hidup. Melihat hal ini, hati Mitha pun tergugah untuk melakukan sebuah tindakan langsung dalam memotivasi para penyandang disabilitas. Akhirnya, ia pun menyasar anak-anak.
Komunitas yang baru terbentuk pada Juli 2017 ini beranggotakan lima orang. Mereka adalah Fitianti Amin, Indri Murdiarti, Husnul Khatimah, Nurul Fajrianti Usman, dan Mitha selaku pendiri.
Para wanita-wanita tangguh ini tak kenal lelah dalam memberi edukasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Saat ini, sebuah buku telah berhasil diterbitkan oleh komunitas Mitha dan kawan-kawan. Buku ini merupakan hasil kumpulan berbagai cerita inspiratif dari siswa-siswa tuna rungu Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Pembina Makassar, Jalan Daeng Tata.
Buku ini nantinya setidaknya bisa menjadi referensi bagi masyarakat umum ataupun para penyandang disabilitas untuk mencari sumber inspirasi. Dari buku ini diharapkan para pembaca bisa lebih termotivasi lagi dalam menjalani hidup. (*/rus/b)
