MAKASSAR, BKM — Bakal calon wali kota Makassar petahana Mohamamd Ramdhan (Danny) Pomanto akan memutuskan nama pendampingnya bulan ini. Sejumlah nama terus mengemuka untuk menjadi wakilnya pada kontestasi pilwali 27 Juni 2018 nanti.
Selama ini ada sejumlah politisi yang menguat untuk menjadi calon wakil. Diantaranya Adi Rasyid Ali, Muhammad Iqbal Djalil dan Nasran Mone. Sementara yang berpeluang jadi wakil dari unsur birokrat, diantaranya Kepala Inspektorat Sulsel HM Yusuf Sommeng, dan Kadis Pendidikan Makassar Ismunandar.
Terbaru, beredar kabar jika Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar, Haris Yasin Limpo (HYL) juga masuk dalam radar calon wakil Danny di pilwali. Ada beberapa pertimbangan nama sehingga HYL masuk bursa. Salah satunya, ia memiliki memiliki pengalaman, baik di legislatif maupun di perusahaan daerah, yakni PDAM.
Pemerhati politik dari lembaga Indeks Politika Indonesia (IPI) Suwadi Idris Amir menilai jika Danny tergolong tokoh yang ‘misterius’. Sebab sampai hari ini bungkam soal posisi calon wakil. Sementara kedekatan Danny dengan keluarga Yasin Limpo cukup baik. Sebagai wali kota Danny, banyak bertemu bakal calon gubernur Ichsan Yasin Limpo.
“Jadi tentu sosok Haris dikait-kaitkan dengan Danny di pilwali. Namun menurut saya, Danny akan fokus pada figur-figur netral dari intervensi elit, seperti Yusuf Sommeng, Adi Rasyid Ali dan Nasran Mone,” ujar Suwadi, kemarin.
Seberapa besar peluang Haris digandeng. “Menurut saya tidak lebih besar dari Yusuf Someng, ARA, Nasran Mone. Keempatnya punya kans sama untuk digandeng Danny,” ucapnya.
Dosen politik Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto juga berpendapat hampir sama. “Saya kira ada dua hal utama yang perlu menjadi pertimbangan Danny dalam memilih calon wakilnya, yaitu soal kontribusi elektoral dan akseptabilitas partai politik pengusung.
Di beberapa kesempatan Danny sudah menyampaikan kriteria calon wakilnya. Sepertinya profil Haris Yasin Limpo kurang pas, kalau konsisten di kriteria itu. Terutama misalnya orang sudah tidak punya ambisi politik lagi,” terangnya.
Namun, dia menambahkan, politik soal negosiasi dan kompromi. Ada irisan kepentingan yang cukup kuat yang bisa mempertemukan kepentingan DP dan HYL.
Meskipun praktis kini Haris YL sudah tidak punya basis infrastruktur partai politik lagi, tetapi masih bisa mengandalkan jejaring politik keluarga. Ini pun harus dikelola serius. Terutama jika jejaring yang sama digunakan IYL untuk kepentingan pilgub.
Dosen politik UIN Alauddin Makassar Dr Firdaus Muhammad juga berpendapat sama. Menurut Firdaus, Haris YL memiliki pengalaman birokrasi juga partai serta kekuatan klan YL. ”Namun kendalanya jika None juga ikut pilwali,” ujar Firdaus.
Dekan Fakultas Ilmu politik Unibos 45 Dr Arief Wicaksono menilai peluang Danny gandeng Haris tetap terbuka. “Semua masih berpeluang. Apalagi Danny petahana. Jika dengan Haris YL peluangnya sulit. Apalagi jika benar None maju juga,” ujar Arief.
Tidak hanya itu, jika Danny nanti melawan Appi dengan dukungan koalisi Golkar dan Nasdem, maka akan semakin seru. (rif)
Duet Danny-Haris YL, Mungkinkah?
