Site icon Berita Kota Makassar

Berharap Bisa Buka Cabang dan Go Nasional

MENJALANI hari-hari sebagai orang yang menggeluti usaha ternyata tak semudah yang dibayangkan. Semuanya tampak mudah dijalani ketika hanya melihatnya dari luar. Namun di belakang itu, dibutuhkan mental yang kuat agar bisa bertahan.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

UANG yang berlimpah dari hasil usaha begitu menggiurkan. Kelihatannya para pengusaha hanya bersantai-santai, namun uang tak henti mengalir. Makanya, banyak orang yang acap kali memulai sebuah usaha hanya dari keuntungannya semata, tanpa memikirkan apa yang dilakoni ketika memulainya.
Di balik sebuah usaha yang sukses, seseorang pasti telah melalui masa di mana ia harus jatuh bangun. Masa di mana harus bekerja sangat keras. Termasuk mengorbankan banyak hal. Seperti waktu, pemikiran, hingga materi.
Namun jelas, hal positifnya adalah semua itu hanya sementara. Asalkan tetap tekun, yakin, dan memiliki mental yang baik, semua pasti akan mencapai sukses.
Uul telah membuktikannya. Banyak hal yang membuatnya harus jatuh bangun saat merintis usahanya. Apalagi, dunia usaha merupakan hal baru baginya.
Sebelumnya tak pernah sekalipun Uul mencoba sebuah usaha. Sampai pada akhirnya ia berhijrah ke Makassar sekaligus untuk melanjutkan pendidikan.
Saat pertama kali membuka usaha, Uul menjual nasi campur terlebih dahulu. Itu adalah pengalaman pertamanya. Banyak hal unik yang ditemui dalam perjalanan membangun usaha tersebut.
Kerap kali ia terlambat masuk dalam kelas saat kuliah. Hal itu karena ia memulai mengolah bahan dagangannya di pagi hari.
“Kadang terlambat karena harus cuci ayam dan sebagainya kalau pagi. Biasa juga masuk di kelas, tidak ada orang yang mau dekat sama saya. Ternyata bau ayamka biasa masuk kelas,” kenang Uul sambil tersenyum.
Pernah juga suatu hari, saat ia pulang dari pasar membeli bahan untuk dagangannya, ayam yang ia bawa tumpah di tengah jalan. Dengan keadaan yang berantakan dan rasa malu yang tentunya harus ditahan, ia memungut potongan-potongan ayam tersebut.
“Pernah lewatka itu di Jalan Petta Rani. Jatuh semua itu ayam yang sudah dipotong-potong. Terus diteriakika orang untuk mengambilnya. Terpaksa kupungutki semua walaupun malu-maluka,” tuturnya.
Sampai akhirnya ia harus mengalami kebangkrutan di awal karirnya tersebut. Namun jika ia menyerah saat itu, pastilah Uul tak akan bisa seperti sekarang ini.
Setelah itu, ternyata Uul sempat menjual Pop Ice dan Teh Poci kemasan di beberapa SD di Makassar. Lagi-lagi tak berhasil dan harus merugi. Kemudian ia mulai menjual pulsa dan kredit pakaian. Namun keuntungannya ternyata tak memuaskan, dimana ia harus pula membiayai kuliah.
Sampai pada akhirnya, ia mulai mencoba membuat usaha minuman cincau yang dinamai Nones Ice. Di usaha inilah Uul mulai bisa menikmati yang namanya hasil.
Tidak langsung sukses memang. Dari semua usaha yang pernah ia jalani, ternyata Uul belajar banyak dari itu semua. Butuh sekitar setahun baru usahanya benar-benar aman dan stabil.
Uul mengatakan, yang menjadi kesulitannya selama menjalani usaha adalah mencari pelanggan. Baginya, tak mudah meyakinkan para pelanggan untuk percaya akan produknya. Ia pun harus berulang-ulang mempromosikannya. Baik dari mulut ke mulut, maupun melalui media sosial.
Baginya, seorang pengusaha memang harus banyak bersabar. Selama ia melakoni usaha, ia tahu betul jika seseorang tak akan mungkin bisa langsung sukses.
“Saya berharap dalam beberapa waktu ke depan sudah bisa punya banyak cabang. Setelah lulus kuliah nanti, Insya Allah saya akan fokus dan membuat Nones Ice bisa go nasional,” harap Uul. (*/rus/b)

Exit mobile version