MENEMPUH pendidikan dibarengi dengan pengalaman memang menjadi hal yang sangat menarik. Salah satunya karena bisa menambah daya tampung edukasi menjadi lebih dalam. Tak heran, banyak orang yang ingin merasakan proses belajar seperti ini.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DI lantai dua Hotel Clarion Makassar, Selasa (3/10). Di depan Phinisi Ballroom berjejer unsur senat Politeknik Informatika Nasional (Polinas) LP3I Makassar. Mereka masing-masing mengenakan toga kebesarannya. Prosesi wisuda sarjana sebentar lagi dimulai.
Berjalan memasuki ruangan, di belakang mereka menyusul seorang perempuan. Mengenakan pakaian adat Bugis Baju Bodo, ia mengiringi anggota senat. Kehadirannya mengundang perhatian, karena parasnya cukup berbeda.
Ternyata, dia seorang mahasiswi yang berasal dari Jerman. Namanya Jana Retberg. BKM menemuinya di sela-sela acara wisuda. Jana mendapat tempat duduk di kursi terdepan bersama para pejabat kampus, tepat di depan para wisudawan.
Jana kini menjadi bagian dari mahasiswa Polinas LP3I Makassar. Ia mengikuti program pertukaran pelajar. Melalui program ini, mahasiswa bukan hanya mendapatkan edukasi tentang bidang ilmu yang diajarkan. Namun lebih dari itu, pengalaman dan pengetahuan akan budaya lain menjadi sesuatu yang bernilai lebih.
Pertukaran pelajar ini kerap dilakukan oleh beberapa kampus di Makassar. Polinas LP3I menjadi salah satunya. Jana Retberg terpilih untuk program ini.
Wanita yang bercita-cita ingin menjadi guru bahasa Inggris itu tampak anggun menggunakan baju bodo. Baju Bodo berwarna merah yang ia kenakan terlihat sangat pas dengan parasnya yang cantik. Apalagi dilengkapi juga dengan sarung khas Bugis yang dipakainya.
Murah senyum dan tampak sangat bahagia setelah beberapa hari ia berada di Makassar. Jana yang saat diwawancari oleh BKM, didampingi oleh penerjemah dari Polinas LP3i, Luke. Dengan sangat ceria, ia menceritakan pengalamannya selama di Indonesia, khususnya di Makassar.
Jana kini berusia 21 tahun. Ia adalah anak dari ayah bernama Hamuch dan ibu Stefany. Ia lahir dan dibesarkan di Jerman. Sayang sekali, oleh pihak kampus asalnya, ia tidak diperbolehkan membeberkan nama kampusnya.
Jana sendiri sebenarnya telah menetap di Australia selama setahun belakangan. Di Australia, ia memiliki dosen yang berasal dari Indonesia. Mengapa ia bisa mengikuti pertukaran pelajar ini, semua berkat dosennya tersebut.
Oleh dosennya itu, ia dianjurkan mengikuti program pertukaran pelajar ke Indonesia. Dihubungkanlah Jana ke LP3i oleh sang dosen. Selain ingin mengikuti program, alasan terbesarnya ternyata adalah rasa penasaran dan keingintahuannya tentang Indonesia.
Awalnya ia menuju kampus pusat LP3I di Jakarta pada September 2017. Seiring waktu, beberapa cabang LP3I di beberapa daerah menginginkan keberadaannya.
Sebagai orang yang bisa membagi pengalaman dan bertukar pikiran, ia pun telah pergi ke beberapa daerah di Indonesia. Mulai dari Jakarta, Palembang, Cilegon, Cirebon, Banjarmasin, dan Makassar.
Di Makassar sendiri ia baru tiba pada Minggu (1/10). Meski begitu, sudah banyak yang ia pelajari di kota ini. Jana benar-benar senang berada di Makassar. Baginya, semua orang di sini baik hati dan banyak juga yang memperhatikannya. “Orang-orang di sini terbuka sekali. Saya suka,” kata Jana. (*/rus/b)
