Site icon Berita Kota Makassar

Hindari Razia Polisi, Mahasiswa Ditembak

MAKASSAR, BKM — Dua orang mahasiswa Fakultas Universitas Bosowa (Unibos) menjadi sasaran penganiayaan yang diduga dilakukan oknum Sabhara Polda Sulsel. Satu orang mengalami luka memar akibat dipukuli bambu dan balok. Satu lainnya menderita luka tembak di bagian punggung.
Pemicu peristiwa ini, diduga karena seorang dari dua mahasiswa itu kedapatan tidak mengenakan helm ketika tengah berkendara sepeda motor. Kejadiannya berlangsung di Jalan Urip Sumohardjo, depan kantor DPRD Sulsel, Jumat dinihari (6/10). Korban telah melapor ke Propam Polda Sulsel.
Salah seorang korban bernama Nur Parawansyah, mengatakan saat kejadian ia dan temannya bernama Ariadi Kemal berkendara dari arah kota hendak ke asrama mahasiswa Maros di kompleks Unhas. Ketika di depan kantor DPRD Sulsel, mereka dicegat oknum polisi sabhara yang kemudian memukulinya menggunakan balok dan bambu.
”Saya dicegat dan dipukuli pakai balok dan kayu. Setelah itu saya langsung tancap gas. Tiba-tiba ada yang menembaki kami dari arah belakang. Yang kena punggung belakang teman saya Ariadi,” beber Nur Parawansyah.
Mahasiswa Fakultas Unibos semester ini menjelaskan, ia dan temannya baru saja pulang dari mengerjakan tugas skripsi di Jalan Sunu. Ariadi yang diboncengnya tidak mengenakan helm.
Dengan kondisi lemas, Ariadi sesekali meringis kesakitan lantaran peluru karet bersarang di punggungnya. Dibonceng oleh Nur Parawansyah. keduanya tiba di asrama. Rekan-rekannya yang melihat Ariadi terluka, langsung memberikan pertolongan. Ada juga yang mengeluarkan peluru karet yang bersarang di tubuh Ariadi.
Ketua Pengurus Pusat (PP) Himpunan Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia (HPPMI) Maros Chaerul Syahab mengatakan, insiden yang menimpa rekannya telah dilaporkan ke Propam Polda Sulsel. Korban juga telah divisum di rumah sakit.
“Korban sudah dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Kami juga mendampingi korban melaporkan kejadian yang dialaminya ke Propam Polda Sulsel. Kami mendesak pihak polda agar mengusut tuntas kasus penembakan yang dialami rekan kami. Karena tindakan penembakan yang dilakukan oknum polisi Polda Sulsel tersebut tidak sesuai dengan standar opersional prosedur (SOP),” tegas Chaerul, kemarin.
Kepala Bidang Hubungan Mayarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani yang dikonfirmasi, mengatakan kasus yang menimpa dua mahasiswa tersebut dalam proses penyelidikan Propam.
Perwira tiga bunga melati di pundaknya itu mengungkapkan, insiden penembakan dilakukan oknum petugas kepolisian yang saat itu sedang memantau balapan liar dan aksi begal di sekitar tempat kejadian perkara (TKP).
“Kejadian bermula saat petugas kepolisian sedang memantau balapan liar dan aksi begal yang kerap terjadi di lokasi kejadian. Tiba-tiba ada pengendara motor yang dihentikan oleh petugas. Namun kedua mahasiswa itu tetap saja ngebut menghindari petugas, sehingga petugas menembaknya dengan peluru karet,” terang Dicky.
Menurut Dicky, seharunya mahasiswa tersebut berhenti saja jika diminta oleh petugas yang tengah menggelar razia. Apalagi di lokasi yang dijadikan tempat razia, berdasarkan informasi yang diterima petugas dari masyarakat, kerap terjadi aksi kriminalitas serta balapan liar. (ish/rus)

Exit mobile version